Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku

Senin, 13 Juli 2009

Dari Rentetan Tumpahan Kopi Susu hingga Hujan Juni dari Bogor.


Jagung jagung telah ia masak dan pagi mandi indah sekali. Tidur nyenyak bersama teman dan terlupakan akan kembali bangun dini hari untuk janji bersama layar dan nilai.

Hari ini kuning dan pendek jeans potong hingga menyeruput cangkir sedang vanilla latte gratis dan milo teman. Aduk dan mengaduk. Ah dan hangat lega pagi hari menjelang siang langit tanpa mendung dan hari ini cerah secerah kaos yang telah tertetesi minuman.

Semerbak mata jernih dan segar terasa menjemur mandi pagi. Segar segar segar. Gahar gahar gahar saya ditampar angin dingin dan hujan sore asyik mendung mengusir kemarau gersang. Tumbuhlah hijau dan kipaslah saya dengan sepoimu.
Kosong untuk hari ini dan sangat terasa ini hari untuk kosong. Saya merasa jauh dari sang langit ketika meninggalkan empat empat empat empat waktu wakt wak wa w . Jauh dan kosong. Ruang kosong menghantui dan sadar hanya tersisa satu waktu untuk hari ini. Sadar dan tidak bertindak lalu dasar muka badak kemudian hapus hasrat budak dengan air keran suci bersama doa membersihkan semua kelalaian.

Malam penuh dengan cabai.

Berbaring dengan headset pukul tiga lewat lima belas menit setelah menggosok muka dengan sabun dan gigi dengan pasta. Rebahan dan belum terantuk hingga pukul berapa saya lupa, menjadi terbiasa tidur dini hari akibat badai tugas-tugas yang akhirnya berakhir dengan selesai.

Yogyakarta, saya masih disini. Bogor, saya belum disana. Malas saya pulang untuk jika sepertinya tiada yang meginginkan saya hadir di kota hujan. Rindu akan dahsyatnya gelak tawa petir dan getirnya tangisan hujan.

---
Yogyakarta, beberapa abad yang lalu.
Aulia Vidyarini

Tidak ada komentar: