Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku

Senin, 13 Juli 2009

Kamar saya dengan penuh berantakan, otak berantakan, wajah berantakan, dan hati berantakan!



Pukul 08:58, hari Minggu tanggal.. tanggal berapa saya lupa, entah mengapa akhir-akhir ini saya buta tanggal. Ah, yang penting tidak buta mata dan hati. Masih dalam keadaan berbaring; saya suka berbaring, saya suka tidur, saya suka tidur-tiduran sambil berkhayal; dan baru tahu kebanyakan berkhayal itu tidak baik. Tapi itu hidup saya! Mengapa hidup saya selalu dalam jangkauan yang salah? Saya tidak tahu, saya tidak tahu saya ini kenapa, saya tidak tahu saya ini bagaimana, tapi saya tahu saya ini siapa.

Yaah.. Dalam keadaan belum mandi dan malas melihat keluar karena mata tak berkehendak yang sama dengan hati saya. Mata sedang sakit, mungkin hati juga.. begitu. Mata sudah berkurang airnya, namun hati teriris membuat mata ingin menambah airnya. Entah kenapa saya begini, saya sudah lama tidak menangis. Terakhir saya menangis yaitu pada saat saya buang air besar sambil membuat puisi tentang orang-orang yang saya sayangi, dengan mendengarkan headset yang mengeluarkan lagu Hanya Satu dari Mocca -- terimakasih Indah, telah mendownloadkan lagu ini.

Tentang malam-malam sekarang yang durasi waktunya menjadi sangat panjang, padahal saya sudah mengurangi waktu tidur saya. Saya jadi takut tidur, saya takut mimpi indah jika nyatanya tidak indah.
Malam berganti malam, saya selalu tidur larut malam, teman-teman sudah tidur sedangkan saya takut tidur, takut makan, takut berharap, dan takut.. tiada hari esok.

Alhamdulillah, hari Minggu masih ada setelah hari Sabtu kelabu. Semoga ini bukan Minggu kelabu, tapi Minggu yang panjang karena saya belum mengerjakan tugas untuk hari Senin. Senin? Sudah Senin lagi? Tuhan.. Cepat sekali.. Saya masih mau hidup. Masih hidup dan mata sudah agak memutih berhasil mengusir merah --terimakasih Indah yang selalu meneteskan obat mata, karena dia takut ketularan juga, hihihi-- tapi tetap mata saya masih seperti Garfield.

Saya penasaran, saya ingin reinkarnasi menjadi kucing.. Sepertinya bukan karena bisa berpetualang, saya tidak suka berpetualang, saya lebih suka berkhayal sedang berpetualang. Tapi karena saya bisa mengikuti orang yang saya senangi, dan semoga ia mau memelihara saya. Memelihara saya yang ternyata adalah kucing hasil reinkarnasi manusia bodoh. Manusia bodoh yang terlalu cepat menganggap orang itu menyenangkan, memang menyenangkan tapi tidak untuk saya renungkan. Pedih.

Pukul 09:22 dan masih lupa hari ini tanggal berapa. Ada yang mau memberi tahu hari ini tanggal berapa? Ah, tapi entah untuk apa. Yang saya inginkan adalah tanggal dimana saya pulang ke Bogor lalu tidur di bahu ibu dan bapak saya. Menyenangkan. Entah mengapa tiba-tiba saya tidak suka disini, tidak suka karena bertambah satu nyawa di dalam hidup saya, saya tidak keberatan, tapi saya senang mengenalnya dan saya senang mendapatkan suatu istilah apalah itu yang membuat saya ingin sadar bahwa: AKU TIDAK BERANTAKAN, KARENA BERUSAHA UNTUK MEMBUAT IA TIDAK BERANTAKAN.


---
YK, Minggu, tidak tahu tanggal berapa, bulan Mei, tahun 2009.
Aulia Vidyarini.

Tidak ada komentar: