Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku

Selasa, 07 Juli 2009

Membaca Bahasa Kalbu -- Mmm.. Maamaaaaahhhh!



Bahasa kalbu. Ada apa gitu? Nggak tahu. Pengen aja nyebut bahasa kalbu. Amboiiiii-- WTF?
Penasaran akan pikiran rasis ataupun narsis, sehingga membesarlah otak-otak yang sudah tidak tahan berdenyut-denyut hingga rasanya seperti menelan angin dari telinga secara sia-sia.
Hei otak para pemikir.. Menciutlah-menciutlah-membesarlah lalu meledak!
Bosan jika harus merasa salah dan benar untuk keyakinan diri masing-masing. Maka mendengarkan lagu dengan sesuai situasi dan kondisi adalah naas harganya namun realita liriknya. Setiap bongkahan yang diberi nyawa lalu ia mempermainkan senda guraunya untuk memikat pohon-pohon di gunung untuk meminta sepoinya. Panas!
Panas dan tiada dingin lalu hangat terbakar. Ya! Terbakar dengan egonya yang sudah dipercaya akan membawa keindahan.
Jadi, apa intinya? Intinya adalah saya ingin mendengar bahasa kalbunya agar saya bisa yakin menekan tombol repeat atau stop pada mp3 hidup ini.

Tidak ada komentar: