Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku

Kamis, 17 September 2009

“Ilustrasi Menunggu tak Selalu Menggigit Kuku karena Aku tak Menggigit Kuku tapi Aku Selalu Menunggu.”



Hidup tak selalu menulis
Mati tak selalu meletakkan pena
Kebingungan tak selalu menggaruk alis
Membenci tak selalu menghina

Hidup tak selalu mendengar
Mati tak selalu tuli
Tertawa tak selalu hingar bingar
Berkelahi tak selalu perlu nyali

Hidup tak selalu menonton
Mati tak selalu matikan televisi
Pandangan tertarik tak selalu monoton
Pancingan tak selalu sesuai misi

Hidup tak selalu melihat
Mati tak selalu buta
Menyayangi tak selalu memahat
Menyukai tak selalu disebut cinta

Hidup tak selalu membaca
Mati tak selalu menutup buku
Ingin menangis tak selalu mata berkaca-kaca
Menunggu tak selalu menggigit kuku

Hidup tak selalu berbicara
Mati tak selalu bisu
Semangat tak selalu membara
Mengumpat tak selalu bilang “asu”

Hidup tak selalu menggambar
Mati tak selalu salah menggores
Diam tak selalu hambar
Jika kalimat sakral terucap beres

“..ilustrasi menunggu tak selalu menggigit kuku karena aku tak menggigit kuku tapi aku selalu menunggu, ya kan?”

---

Bogor, Lusa setelah 15 September 2009
AV'09

Tidak ada komentar: