Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku

Kamis, 17 September 2009

Tersesat di 'Pantai' untuk Penantian 'Matahari Terbit'





Jika suatu kendala akan menghadirkan sebuah penyesalan, mengapa harus dibuat pemikiran matang? Apabila penyesalan terjadi karena perbuatan yang sudah matang-matang dipikirkan, namun nyatanya tidak ada hasil nyata dan yang ada hanya maya. Apakah itu sebuah kendala? Atau apakah itu sebuah kejutan? Ini membingungkan dan sulit untuk tidak dibuat bingung, jika nyatanya bingung hilang namun keinginan tidak terselesaikan karena tidak adanya perbuatan.

Ini sebuah cekikan lidah, kebakaran rambut, kehilangan angan, dan apapun itu semua orang menyebutnya sehingga suatu pemikiran terjadi karena adanya rasa penasaran. Cerita. Jika semua orang bias bercerita dengan sebaik mungkin tanpa menimbulkan sesuatu yang ambigu maka tangan terkepalkan ke atas dengan bebas! Itu yang saya inginkan, kebebasan, baik untuk saya maupun kamu. Bebaskanlah imajinasi tanpa ada suatu kehendak terserah untuk sebuah pertanyaan. Pecundang. Itu pecundang. Pengembara. Itu pengembara. Pilihlah sendiri.

Saya ingin anggap kebebasan ‘pantai’ semua ini, bukan untuk kesesatan ‘hutan’; tetapi apa kamu tahu arti tersesat di ‘pantai’ untuk penantian ‘matahari terbit’?

Tidak ada komentar: