Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku

Kamis, 29 Agustus 2013

Episode: "Kucil dan Harap Bertemu Remaja"







“Siapa namamu?” pertanyaan ketus terlontar dari perempuan kerbau dengan daster panjang berwarna gradasi magenta dan biru itu memberikan segelas air jeruk dingin pada pria yang terduduk di pasir memeluk dengkulnya. “Mana teman-temanmu?”

“Terimakasih,” lelaki kerbau itu tersenyum sambil meraih gelas yang diberikan setelah mengetahui asal suara. “Namaku Kucil. Kau?”

Perempuan itu duduk di sebelah kanannya, agak jauh. “Kau seorang kerbau? Atau kau sedang menipuku?”

Lelaki kerbau yang mengaku bernama Kucil itu mengernyitkan dahi kebingungan, “Kau bicara apa sih?”

“Mana teman-temanmu?” perempuan kerbau itu mengulang kembali pertanyaannya yang belum terjawab. Entah benar-benar menanyakan atau hanya basa-basi.

Kucil nyengir sambil menggelengkan pelan kepalanya, “Di mana namamu? Aku pun belum melihatnya.”

Perempuan itu tertawa kecil sambil melihat ke arah yang berseberangan. Rambut coklatnya tergerai, dihembus angin pantai yang membelainya. “Namaku Khara.”

Kucil manggut-manggut, “Nama yang bagus.”

“Di mana teman-temanmu?” sepertinya Khara benar-benar menanyakannya.

“Memangnya kenapa, sih?” Kucil mengernyit karena matahari yang menyilaukan matanya.

“Masalahnya aku membawa banyak gelas air jeruk dingin untuk kalian!” Khara menunjuk meja bundar berpayung yang terletak agak jauh di belakang mereka.

Kucil tertawa.

“Mengapa kau tertawa? Kau hampir mati!” Khara berdiri lalu berjalan ke belakang ke arah meja.

Kepala Kucil mengikutinya, “Hei!” ia berdiri mengikuti Khara dengan cepat.

Khara menoleh melihat Kucil yang sudah ada di belakangnya. Ia menggigit kuku sebentar lalu meraih segelas air jeruk dingin yang diteguk sampai habis setengahnya.

Kucil hanya tersenyum melihat tingkah Khara.

“Aku hanya tidak mengerti! Memangnya ada orang yang tertawa ketika dirinya hampir mati tenggelam, hah? Dan memangnya ada orang bernama Kucil? Mengapa ia dilahirkan dengan nama yang begitu lemah! Semua anak itu adalah harapan orang tuanya! Orang tuamu gila!”

Kucil hanya tertawa mendengar emosi Khara yang bertubi-tubi.

“Hei! Memangnya ada seorang anak yang tertawa ketika orang tuanya dihina, hah?!”

Kucil mulai menghentikan tawanya lalu tersenyum dengan tenang, “Kau pernah merasa terbuang?”

“Aku akan pergi ke gunung! Di sana banyak harimau hebat. Dan aku kerbau harus pergi kesana. Ini minggu terakhirku berada di pantai. Setelahnya aku harus pergi ke sana. Aku seperti terbuang! Mengapa aku harus dikumpulkan dengan orang-orang hebat, hah? Mereka hanya akan membuangku!”

Kucil tertawa. Khara melihatnya dengan emosi.

“Kau tertawa dan terus tertawa!”

Kucil tersenyum kecut, “Ya. Lalu kau mau aku bagaimana? Menangis? Menangis karena dunia membuangku, hah? Menangis karena ibuku mati karenaku dan ayahku pergi meninggalkanku demi dunia, begitu?!”

Khara terdiam. Khara terdiam dan tidak berani melihat mata Kucil yang menghunusnya tajam.

“Kau bilang semua anak adalah harapan orang tuanya.. ketika orang tuanya pergi meninggalkan anaknya, lalu ke mana harapan mereka pergi?” Kucil menaruh gelasnya pelan namun tidak untuk uratnya yang menegang. “Bahkan namaku saja tidak tahu harus pergi ke mana.”

Kucil pergi meninggalkan Khara yang mematung.

Tidak ada ombak besar di laut. Namun, hati Khara benar-benar terasa diguncang.

Malam itu telah meninggalkan sore yang membuat Khara menjadi diam. Ibunya menanyakan keanehan dirinya, namun ia hanya bilang kalau ia lapar. Akhirnya ibu Khara memasak rica-rica ikan kesukaan Khara dan para penghuni pantai yang kebanyakan adalah kolega kerjanya.

“Bu,” panggil Khara pada ibunya yang sedang menumis bumbu. “Ibu lihat orang-orang yang tadi tenggelam di laut?”

Ibunya sibuk masak sambil sesekali melihat anaknya yang celingak-celinguk, “Coba kau cari di Pasir Bunga. Kelihatannya di sana ramai, mungkin mereka sedang di sana.”

Pasir Bunga adalah nama dari salah satu ruang terbuka yang tempatnya seperti café. Di sana ditampilkan band akustik. Tempat itu memang salah satu ruang favorit orang-orang yang singgah di pantai. Akhirnya Khara pergi ke sana namun tidak menemukan apa yang ia cari. Memang orang-orang yang tenggelam di laut tersebut ada di sana, tapi bukan mereka yang ia maksud.

Seharusnya Khara bertanya tentang orang yang ia cari pada salah satu orang atau semua orang yang tenggelam itu, karena Kucil adalah nama yang harus ditemukan, dan narasumber terakuratnya adalah mereka. Teman-temannya.

Kaki Khara yang sempoyongan akhirnya berhenti di Suara Karang, ruang terbuka yang berisi kaset, emblem, piringan hitam, hingga buku yang berputar di dunia musik. Kucil ada di sana.

Khara menghampirinya, ia langsung menghampirinya namun tidak tahu harus berbuat apa. Kucil tidak menyadari kedatangan Khara. Namun pada akhirnya Khara membuka suara, “Ibuku sedang masak.”

Kucil memutar badannya ke belakang dan menemukan Khara yang sedang menutupi wajahnya dengan jemarinya. Ia malu. Entah pikiran apa yang ada di dalam otaknya sehingga bicara tentang kekonyolan kalimat pembuka yang baru saja diucapkan.

Kedua tangan Kucil yang sedang membuka buku itu langsung menutupnya, “Oh, sori, tapi aku tidak bisa masak.”

Mendengar itu, Khara langsung menurunkan jemarinya dengan cepat dan menjadi salah tingkah.

“Maaf, aku tidak bisa membantu ibumu. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa masak,” lanjut Kucil terbata-bata sambil mengembalikan bukunya yang ia baca ke dalam rak kayu yang sudah rapuh. “Apa ada pekerjaan lain yang bisa kubantu?” tanya Kucil serius sambil tersenyum kaku.

Sebenarnya Khara tidak kuat menahan tawa karena kesalah pahaman yang terjadi, namun tidak memungkinkan untuknya tertawa karena ia telah berbuat kesalahan fatal di kejadian sore tadi.

“Ah, tidak perlu..” jawab Khara sambil cengengesan.

Kucil ikut cengengesan sambil menggaruk-garuk pipinya yang entah mengapa seperti memanas, “Maaf, Khara. Aku memang payah.”

Khara menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil mengibas-ibaskan tangannya tanda itu tidak terlalu menjadi masalah, “Tidak ada yang payah. Ya, kau berada di sini, di ruang musik. Tidak ada orang payah yang masuk ke sini. Kau suka musik?” akhirnya Khara membuka topik pembicaraan.

“Oh, ini.. Iya, semua orang menyukai musik, bukan?” jawab Kucil yang masih terbata-bata. “Sekalipun ia tuna rungu, namun ia bisa merasakan getarannya. Menakjubkan.”

Khara manggut-manggut terpukau dengan jawaban Kucil yang sederhana namun ia mendapatkan sesuatu di sana.

“Kau tidak ke Pasir Bunga? Teman-temanmu semuanya di sana..” tanya Khara yang sudah mulai santai. Di tiap ruang terbuka, ada plang kayu yang bertuliskan nama-nama sebutannya, sehingga semua orang baru pun bisa langsung tahu nama daerah tersebut.

Karena melihat Khara mulai santai, akhirnya Kucil pun ikut menyantaikan diri. “Ah, ya, banyak perempuan cantik di sana,” Kucil tertawa kecil kemudian tersenyum manis.

Khara terdiam sejenak. Mencerna senyuman yang barusan dilihatnya.

Melihat Khara yang terdiam, Kucil menjadi salah tingkah, cepat-cepat ia mengoreksi kalimatnya, “Ah, maksudku.. bukan maksudku melecehkan atau apa.. tapi teman-temanku kan lelaki, mereka pasti senang melihat lawan jenisnya. Kami semua hampir mati. Ya, kumpulan lelaki yang hampir mati tenggelam. Apalagi yang membuat kami bahagia selain masih hidup dan bertemu perempuan.. Iya, bukan? Dan, dan, aku di sini bukan berarti aku tidak suka perempuan. Hahaha. Aku hanya sedang mampir. Hehehe..”

Melihat Kucil yang seperti itu membuat Khara tertawa lucu. Kucil pun ikut tertawa. Ikut menertawakan dirinya sendiri.

“Ya sudah, ayo kita ke sana!” ajak Khara riang sambil meraih tangan Kucil untuk bergegas pergi dari ruang Suara Karang. Namun dengan cepat Kucil menarik tangannya dari genggaman Khara, dan itu membuat Khara kaget dan berbalik, “Untuk apa? Kau kan juga perempuan. Dan kau ada di sini.”

Entah apa yang dipikirkan oleh Kucil sehingga memerah padamkan wajah Khara walaupun saat itu malam gelap yang hanya disinari oleh lampu ruang Suara Karang menampilkan itu semua. Kucil menggaruk-garuk pipinya yang terbakar kembali. Dan kepala Khara pun ikut-ikutan gatal. Mereka cengengesan. Menjawab semuanya.

Semuanya bersenang-senang saat itu. Sampai pada akhirnya Khara harus pergi ke pegunungan. Melanjutkan studinya. Khara bersedih, karena tidak terasa tiga hari terlewati di pantai bersama Kucil dan teman-temannya. Mereka menghabiskan waktu sambil bernyanyi, berenang, membuat api unggun, memanjat pohon kelapa, dan hal yang paling disukai Khara adalah: Bernostalgia.

Menceritakan masa-masa yang terlewati, dahulu menyedihkan namun sekarang amatlah lucu ketika semua peristiwa diputar kembali dalam waktu yang singkat. Khara belajar banyak hal sederhana dari mereka, orang-orang yang larut dalam masa lalu namun tak pernah meninggalkan pandangannya dari masa kini dan masa depan yang akan mereka hadapi. Khara kembali kuat dan menjadi semangat ketika harus berangkat pergi ke pegunungan, walaupun harus meninggalkan seorang kerbau yang menyita pikirannya. Kucil.

“Yah.. seperti apa yang kau katakan, kan? Melanjutkan hari ini, karena waktu tidak pernah berhenti di sini walaupun kita membicarakan masa lalu,” Khara merangkul pundak Kucil. Mereka sudah akrab setelah saling memaafkan satu sama lain tentang kejadian saat sore lalu.

Kucil tersenyum, walaupun terlihat tidak tersenyum sepenuhnya. Ia merasa Khara adalah salah satu wanita kerbau yang menyita senyumnya.

“Kau melupakan satu kalimat lagi, Khara..”

“Apa?” Khara melepas rangkulannya, “Ah, ah! Ah, ya! Aku ingat!”

Kucil tertawa kecil, “Apa?”

“Tidak ada yang lebih sulit dari memutar waktu, dan tidak ada yang lebih mudah dari bernostalgia! Hahaha!” Khara tertawa riang seperti telah berhasil menjawab pertanyaan kuis.

Kucil menjambak kecil poni Khara yang menutupi dahinya, “He, ingatanmu hebat, ya?”

“Ya, kaupun harusnya mengingat sesuatu dariku!”

“Hahaha, banyak sekali yang harus kuingat tentangmu, Khar..”

“He, kau memotong namaku, Cil,” Khara tertawa, “Namamu lucu sekali.”

“Katanya namaku lemah?”

Khara berhenti tertawa lalu meraih kedua tangan Kucil, “Oke, dengar.. Aku tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Aku benar-benar minta maaf. Karena saat itu kau orang asing. Aku bebas mengatakan apapun itu ten—”

“Seharusnya tidak bisa. Kau tidak bebas mengatakan apapun..”

“Ya, aku belajar dari sana, aku harus tahu perasaan orang lain. Karena kalau aku jadi kau, aku pun akan merasa tersinggung,” Khara melepaskan genggamannya karena Kucil yang mencoba melepaskannya terlebih dulu. “Kucil?”

“Ya?” Kucil melipat kedua tangannya di dadanya. Ia melihat ke arah yang berlawanan dari mata Khara.

“Di pantai ini aku ikut studi kemah, dan sebelum kau datang ke sini, di sana aku belajar banyak hal. Banyak orang memilih meneriakkan kekesalan, tangisan, kebahagiaan, hingga harapannya pada langit yang luas. Mereka yang pergi ke pantai, menyendiri untuk sekedar mencari udara segar atau bahkan memang itu tujuan mereka ke sini, yaitu menyendiri. Mungkin aku bisa mengatakan ini padamu..”

Kucil memusatkan kembali matanya ke arah Khara dengan serius sekaligus sedih.

“Ketika manusia dikucilkan di dunianya sendiri, ia hanya butuh harapan sebelum mulai bangun kembali..”

Kucil terperangah menelan ludah mendengar kalimat Khara yang menusuk relung kalbunya. Nafasnya menjadi cepat. Entah mengapa kedua mata Khara mulai berkaca-kaca.

“Jujur, aku tidak tahu apakah aku bisa bertarung dengan kumpulan manusia harimau di sana atau tidak. Tapi studi kemahku di sini mengingatkan bahwa kau tidak perlu bermusuhan jika yang kau butuhkan hanya pertemanan,” Khara menghela nafasnya yang berat. Ia berharap nafasnya lebih ringan sekarang, “Kurasa aku hanya butuh teman di sana agar aku merasa nyaman. Aku hanya butuh harapan tentang aku masih bisa menjalin pertemanan di sana, bukan persaingan.”

Senyum Khara membuat Kucil tergerakkan untuk memeluknya. Akan tetapi, Kucil tidak berhak untuk itu. Walaupun mereka seperti sudah terikatkan, mereka tetaplah akan berpisah dan tidak ada pertemuan kembali. Terlalu singkat waktu yang dihabiskan bila harus saling membuat janji.

“Harapan itu perlu. Semua makhluk hidup berhak untuk memiliki harapan. Di luar akan terjadi atau tidak, yang terpenting adalah harapan membuat segalanya lebih mudah di dalam hati dan pikiran. Aku tahu medan pegunungan itu terjal, dan aku berharap aku bisa melewatinya.. karena aku tidak bisa berharap tentang gunung yang meletus dan aku tidak jadi pergi ke sana. Ya, kan?”

“Ya.. itu terlalu menghancurkan harapan orang banyak..” akhirnya Kucil membuka suara setelah ia hanyut dengan semua kalimat Khara.

Harap mengangguk sambil tersenyum, “Lalu apa harapanmu?”

Kucil terdiam kemudian matanya tidak beraturan sambil tertawa kecil. Tidak menjawab apapun.

Seperti dapat membaca isi otak Kucil, Khara bertanya, “Kau tidak mau berharap kita bisa bertemu kembali?”









-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
All rights reserved.
2013 © Aulia Vidyarini

Tidak ada komentar: