Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku

Senin, 15 Juli 2013

Episode: "Tidur Siang"


Siang ini tidak panas. Tidak seperti biasanya. Anginnya semilir menembus jendela yang terbuka lebar. Mungkin karena hari ini hari Sabtu, yang siap-siap akan menyapa kehadiran muda-mudi untuk bertemu di mana pun. Keluarga yang berkumpul di mana pun juga. Hari yang dianggap sebuah perjumpaan untuk menghabiskan waktu hingga Minggu mencium kening, menyadarkan pagi yang cerah. Menyandarkan mata yang lelah.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
All rights reserved.
2013 © Aulia Vidyarini

Episode: "Makan Malam di Taman Buku"

Makan Malam di Taman Buku
Ada satu taman kecil yang dulu sering dikunjungi oleh Harap. Mungkin di saat umur lima tahun. Harap memberi nama tempat tersebut dengan sebutan Taman Buku. Sebenarnya di sana tidak ada toko peminjaman atau jual beli buku, hanya saja nama Taman Buku tercetus karena kenangannya.

Kali pertama Harap memiliki buku cerita. Buku cerita yang ditemukan. Bukan komik, cergam, maupun novel. Diary. Ya, buku harian milik seseorang yang tertinggal di taman tersebut. Oleh karena itu, Harap ingin mengunjungi tempat itu lagi.

“Kau tidak mengajakku?” Kucil berkacak pinggang mendengar Harap pamit pergi ke sana.

“Kau yakin tidak akan mengacau?”

Kucil mengernyitkan dahi, “He, memangnya kau mau ngapain?”

“Kau protes tapi kau tidak tahu protes akan apa?” Harap memasang wajah datar, sambil memasangkan syal di lehernya. Ini sudah malam.

“Ini sudah malam lho, Har,” Kucil menyalakan rokoknya.

“Kalau sudah malam memangnya harus merokok?” Harap memakai sepatunya. Sepatu baru yang sudah seminggu lalu dibelikan Kucil. Menggantikan rasa bersalah Kucil telah merusakkan sepatu kesayangan Harap.

Kucil melihat rokoknya dalam-dalam, “Ya, nggak sih..” lalu mematikan rokoknya yang masih panjang itu di asbak. “Terus?”

“Ya kalau kau mau ikut, kau yakin pakai celana gemes gitu?” Harap tidak kuat menahan tawanya.

“Hahaha! Memangnya aku menggemaskan ya, Har?” Kucil malu-malu.

Harap sama sekali tidak menjawab pertanyaan polos Kucil, membuat Kucil segera lari ke kamarnya di lantai dua. Ganti baju.

Malam ini terasa dingin. Sudah lama Kucil dan Harap tidak pergi makan bersama di luar rumah. Ya, memang mereka bukan pergi untuk makan malam. Tapi kemungkinan besar mereka akan makan angin malam karena angin lumayan berhembus kencang di sela-sela tubuh mereka dan penjaga malam lainnya.

“Kau tiba-tiba teringat kenangan masa lalu ya, Har?” Kucil terlihat kedinginan. Kepalan jemarinya masuk saku jaket. Jaket hitam pemberian Harap. Jaket hitam Harap pemberian ayahnya.

Harap berhenti berjalan, “Memangnya sebegitu lemahnya ya image-ku dimatamu?”

Kucil menoleh ke arah kirinya lalu kaget menemukan Harap sudah berhenti tiga langkah di belakangnya, “Ah, aku salah bicara ya?”

Harap masih menoleh ke arah berlawanan dari Kucil.

Kucil segera menghampirinya. “Kau tersinggung?”

Harap menoleh polos ke hadapan Kucil, “He? Aku rasa ini tamannya..”

“Demi Dead Japra!!” Kucil melotot sambil berkacak pinggang dengan cepat. Harap bingung. Akhir-akhir ini Harap sering kebingungan dengan tingkah Kucil. Bukan karena Kucil yang sangat membingungkan, melainkan memang Harap yang linglung.

“Hahahaha!” Harap tertawa tiba-tiba. “Oh, Tuhanku..”

“Kenapa, Har?” giliran Kucil yang kebingungan dengan tingkah Harap yang menjadi selalu tiba-tiba. Tiba-tiba melamun. Tiba-tiba diam. Tiba-tiba tertawa. Tiba-tiba Harap menarik tangan Kucil, “Kita cari makan saja yuk!”

“Hah? Lalu tamannya? Bukunya?”

Harap menyeringai geli, “Sepertinya aku benar-benar bermimpi tentang Taman Buku itu.”

“Apa sih, Har? Kau bicara apa sih, Har?” pelan-pelan Kucil melepaskan tangan Harap yang merangkul tangan kanannya.

Harap diam saja. Menunduk.

“Kau kenapa sih, Har? Akhir-akhir ini kau membuatku bingung.”

“Kau keberatan kalau aku membuatmu bingung?” Harap masih menunduk sambil menjentik-jentikkan kuku jarinya.

Kucil tertawa kecil agak bergetar, “Tidak masalah, Harap. Itu sama sekali tidak masalah untukku.”

Harap mendongakkan kepalanya, “Lalu apa masalahmu?”

Kucil dengan cepat memeluk Harap yang lebih pendek darinya. “Aku sedih. Aku sedih melihatmu sekarang selalu kebingungan. Aku sedih. Kau bingung. Lalu aku harus berbuat apa…........”




Makan Malam di Taman Buku (Bagian 2)
Pelayan meletakkan tisu makan di meja.

“Jadi.. ini menjadi Taman Buku kita?”

Kucil menyeruput kopi hitamnya sambil manggut-manggut. Mereka sedang mengopi dan makan es krim di kedai kopi yang sering dihampiri oleh Kucil dan teman-temannya dari The Celurits. Kucil memesan secangkir kopi hitam dan martabak pisang keju, sedangkan es krim vanilla dan es coklat dipesan Harap.

Kucil sudah bilang ketika Harap pulang nanti maka ia akan sakit perut. Malam ini lumayan dingin. Namun Harap keras kepala. Kali ini Kucil maklum. Bukan maklum karena Harap keras kepala, melainkan ia tidak ingin Harap kesal dan itu akan membuat Kucil sedih. Baru kali ini Harap bersikap sangat kekanakan. Atau mungkin, baru memunculkan sifat kekanakannya.

“Solusi terbaik untuk menjawab kebingunganmu,” Kucil menyeruput kembali kopinya lalu meletakkan cangkir berwarna coklat itu dengan hati-hati. “Jangan lupa, oke? Aku ulangi ya, karena sepertinya kau akan melupakan ini. Ketika kau bangun tidur, kau mimpi apa, maka tuliskan lah di buku yang besok akan kita beli.”

“Kau konyol! Aku pikir kau bercanda!” Harap meletakkan mangkuk es krimnya agak keras di atas meja persegi berwarna kuning gading. Sama sekali tidak hati-hati, sama seperti perkataannya.

Kucil tertawa kecil, “Ya, lebih konyol kau, Harap. Kau pergi ke tempat yang ternyata itu hanya mimpimu. Bisa-bisanya kau bicara bahwa itu terjadi di umurmu lima tahun. Kau konyol!”

“Hah?” sepertinya Harap tersinggung. “Kau mimpi bisa terbang saja bangga! Saat SD aku sudah mengalami mimpi itu!”

Kucil melotot, “Kau mengejekku, Harap! Aku, aku pernah, mimpi mmm.. mimpi.. aaaaaaaa aku grogi! Kau membuatku grogi! Aku jadi lupa semua mimpi-mimpiku!”

Harap tertawa menang. Kucil menenggak kopinya, tidak lagi menyeruput. “Sekarang kopiku habis. Gara-gara kau kopiku habis!”

Harap menggeser gelas es coklatnya ke hadapan Kucil, “Sekali-kali kau boleh lho minum es di udara dingin seperti ini.”

Kucil menyeringai kecil, “He, memangnya kau mau cebokin aku sepanjang malam, hah?”

Harap tertawa senang. Senang sekali. Hingga membuat Kucil ikut tertawa kecil sambil melihat Harap dengan tatapan yang serius.

“Gitu dong tertawa lagi..” Kucil tersenyum sangat manis.

Harap berhenti tertawa, “Kucil, senyummu manis sekali! Seperti temanmu yang waktu itu berkunjung ke rumah.”

“Hah?” Kucil mengernyitkan dahi. “Maksudmu Bangsa?”

“Ya, Bangsa. Nama yang bagus.”

“Ya, bagus. Entah mengapa orangtuaku menamai Kucil padaku..”

“Kau harus mensyukurinya, Kucil..”

“Ya, aku mensyukuri. Karena mungkin kalau namaku Bangsa, aku tidak akan bertemu denganmu.”

“Tapi nyatanya aku pernah bertemu dengan Bangsa,” Harap menancapkan garpu di potongan martabak pisang keju dari piring Kucil lalu melahapnya.

“Tapi kau tidak hidup dengan Bangsa, kan?” Kucil menyeruput kopinya yang sudah habis. Akhirnya ia minum es coklat Harap.

“Kau tidak tak—” Harap mesam-mesem hingga kesulitan menelan potongan martabak yang sedang dikunyahnya, “kau tidak takut sakit perut?”

“Aku lebih takut kau hidup dengan Bangsa.”

Harap tersedak.




--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
All rights reserved.
2013 © Aulia Vidyarini

Sabtu, 13 Juli 2013

Episode: "Tentang Surat Persahabatan"

Tentang Surat Persahabatan

Tadi pagi Harap menemukan secarik surat saat pulang dari minimarket. Ia memutuskan untuk mengambilnya karena surat tersebut terlihat menarik pada warna sampul kertasnya. Magenta. Harap langsung mengira pasti surat itu dari seorang wanita.

Benar adanya.

“Cil, aku tadi menemukan surat dan aku belum membaca isinya,” Harap menaruh satu kaleng soda dan satu botol besar jus buah aneka rasa.

Kucil yang sedang menuruni anak tangga akhirnya sampai di lantai bawah. Ia baru selesai mandi. Harap sangat menyukai aroma Kucil yang baru mandi. Segarnya melebihi dari kesegaran pagi di kolam renang.

Harap sedang di dapur memilah-milah belanjaannya. Kucil masih mengusap-usap rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih.

“Kau tadi bilang apa?” tanya Kucil sambil menghampiri Harap.

Harap menoleh ke kanan ke arah suara Kucil lalu tersenyum lebar melihat Kucil sudah mandi, “Segarnya!”

Kucil agak melongo, “Hah? Kayaknya tadi kau bicara panjang, kan?”

Harap tertawa, “Ooh.. itu lho tadi aku menemukan surat tapi b—”

“Kau beli apa?” tanya Kucil memotong penjelasan Harap yang masih setengah. Kucil celingak-celinguk ke dalam kantong putih hasil belanjaan Harap.

Wajah Harap datar, “Lupakan aku membeli apa, karena kau bisa melihatnya sendiri.” Harap memperlihatkan surat tersebut, “Dan kau bisa lihat ini? Ini surat.”

Wajah Kucil cuek, “Surat apa? Surat untukku? Kenapa warnanya perempuan sekali?”

Harap berdeham memulai penjelasan tentang surat tersebut. Setelah mendengarnya, Kucil berkata bahwa terlalu lancang bila membacanya, karena bisa saja itu sangat rahasia. Namun Harap bersikeras untuk izin membacanya karena insting wanitanya mulai berjalan. Kucil menyerah. Ia takluk pada wanita yang memohon. Namun ia takkan takluk pada wanita yang memohon Kucil untuk memakai kerudung. Ya, untuk apa juga.

Mereka sudah ada di balkon. Duduk di sana atas permintaan Kucil karena siang ini begitu panas. Ya, ini pukul 12.47, Kucil yang bangun kesiangan.

Harap membuka kertas itu hati-hati. Surat itu dilipat menjadi bentuk rumah. Rumah yang sederhana. Kertas tekstur sulur-sulur yang indah itu berwarna magenta. Salah satu warna kesukaan Harap. Mungkin karenanya Harap tertarik memungut surat tersebut. Harap mengetahui bahwa kertas origami rumah itu adalah surat karena di sisi belakangnya tertera tulisan: Untuk Sahabat-sahabatku.

Kertas itu telah terbuka sempurna, ternyata bukan tulisan tangan, melainkan tulisan digital menggunakan komputer. Harap menghela nafas.

Kucil yang sedari tadi memperhatikan jemari Harap membuka surat tersebut melirik ke arah wajah Harap, “Kenapa kau menghela nafas? Memangnya membuka kertas origami saja begitu melelahkan?”

Harap menggeleng kepala pelan, “Bukan tulisan tangan. Mungkin akan lebih dramatis bila ditulis tangan.”

Kucil tertawa kecil, “Memangnya kau tahu dari mana surat itu akan bernuansa dramatis? Bisa saja itu surat untuk temannya minta tolong belikan pulsa!”

Harap menempeleng pelan kepala Kucil menggunakan kertas tersebut, “Jangan sembarangan! Kau baca judul cerita ini, tidak?”

“Tentang Surat Persahabatan? Oke, oke.. Harap sensitif dengan kata persahabatan~” Kucil cekikikan menggoda Harap yang sama sekali tidak merubah wajah seriusnya. “Ya, ya, ya.. bacakan suratnya.”

“Tanggal 29 Maret? Suratnya belum sampai di tempatnya, Cil.. Sekarang kan masih Februari.”

“Kan bisa saja 29 Maret 2012 lalu. Lagipula kenapa harus menganalisis dahulu sih? Bacakan saja dengan tenang kan lebih baik,” Kucil mulai sewot.

Harap mulai membaca.

Ternyata membaca dalam hati.

Kucil mengguncang-guncang bahu Harap dengan gemas, “Baaaacaaaakaaaaann!! Bukan baca di dalam hati haaaaaaaaaaahh!!”

Harap tertawa terbahak-bahak, “Hahahaha! Maafkan aku, aku terbawa suasana! Hahaha!”

Setelah kurang lebih lima menit berlalu mereka bertengkar lucu, pada akhirnya berhenti juga. Harap kembali melanjutkan membaca suratnya. Oh, ya, tentu saja tidak dalam hati. Karena kalau tidak, Kucil berjanji akan tidur siang sampai pukul tujuh belas!

“Hai, teman-teman. Lama tak jumpa. Ya, kalian terlalu sibuk. Atau mungkin aku yang tidak siap kalau kalian sibuk?” Entah Harap berhenti di sana. Ia terdiam, dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia seperti membaca kembali apa yang telah ia tuliskan.

“Harap?” Kucil menyelidiki wajah Harap. “Kumohon, Harap, jangan mengatakan hal yang akan menakjubkanku.”

Kucil sepertinya benar-benar mengetahui isi otak Harap hingga ke akar-akarnya. Harap hanya menunduk dan akhirnya menetes juga air dari matanya yang terpejam perih. Deras.

Tidak ada yang lebih membingungkan seorang pria selain melihat wanitanya menangis. Kucil memeluk Harap. Erat.


Tentang Surat Persahabatan (Bagian Akhir)

“Waktu itu.. malam hari. Mungkin kau sudah tidur. Tiba-tiba aku teringat teman-teman sekolahku dulu. Sebenarnya aku tidak ingin menulis surat, karena aku tahu, itu tidak akan pernah terkirim. Aku takut akan merusak suasana yang ada.”

“Kenapa kau tak bangunkan aku? Kau bisa bicara denganku, kan? Kau menganggapku kan di rumah ini?”

“A-aku tak maksud untuk tidak menganggapmu, Kucil.. Demi Tuhan.. Aku menangis hebat saat itu, kepalaku pusing. Aku tidak terpikirkan apa-apa selain bicara dengan layar komputer. Aku mengetik semuanya. Aku takut kehilangan mereka..”

“Teman-temanmu yang tidak peduli denganmu itu, hah?”

“Bukan.. Teman-teman yang lain. Saat aku ikut studi kemah di pegunungan.”

“Kau kan tak suka pegunungan?”

“Ya. Aku ikut studi kemah itu hanya ingin masuk kelas pantai saja. Setelahnya aku tak ingin ikut. Tapi entah mengapa aku lolos ke tingkat selanjutnya, yaitu pegunungan. Di sana orang-orang hebat. Aku tidak terlalu suka. Mereka orang-orang yang sekelas dengan hewan harimau.”

“Berapa kali harus kubilang bahwa kau hebat, Harap. Kau bukan kerbau yang payah!”

“Ya. Seberapapun hebatnya aku, aku tetaplah seorang kerbau. Mereka adalah harimau. Mereka tidak takut akan kerasnya hidup.”

“Kau pun!”

“Ya! Aku hebat! Aku hebat bila dihadapanmu, Kucil! Di depan mereka aku hancur! Aku dikoyak habis!”

“Kau kan tidak perlu ikut melanjutkannya, kan?”

“Mana bisa, Kucil? Ayahku tahu aku ikut studi kemah itu. Ayahku tahu aku lolos ke tingkat selanjutnya. Aku rasa ayahku pun berharap aku masuk ke kelas awan!”

“Kau masuk?”

“Tidak. Aku kembali ke pantai.”

“Apa kata ayahmu?”

“Aku tidak tahu ayahku sebenarnya mengatakan apa, tapi aku yakin ucapan yang keluar dari mulutnya sudah dikondisikan oleh ibuku. Katanya, aku diberikan jalan untuk melakukan apa yang aku suka. Namun harus disertai dengan tanggung jawab yang penuh. Maka, aku kembali ke pantai. Akhirnya mereka bangga padaku. Aku membangun rumah pantai ini dengan cintaku.”

“Sudah kubilang kan kalau kau hebat?”

“Sudah kubilang kan kalau teman-temanku harimau?”

“Lalu bagaimana kalian bisa berteman?”

“Hhh.. ceritanya panjang sekali. Yang jelas, aku takjub kami bisa bersatu. Mungkin benar adanya, perbedaan lah yang pada akhirnya akan menyatukan.”

“Ceritakan lah..”

“Kami bertemu pada pertemuan yang konyol. Saat itu kami masih labil. Sibuk bersenang-senang. Kupikir kami akan senang-senang selamanya. Menghamburkan uang, menghamburkan tawa. Utang sana, utang sini. Kami sangat bersenang-senang, sampai pada akhirnya kami harus melambaikan tangan kepada satu sama lain. Dua orang di antaranya naik ke awan, satu ke pegunungan, satunya lagi tak ada kabar seperti ditelan kawah, dan kabar terakhir aku kembali ke pantai.”

“Apa masalahnya hingga kau teramat sedih mengingat mereka?”

“Hahaha.. entahlah. Mungkin karena waktu aku mengetahui kabar mereka dalam keadaan sudah memiliki catatan sejarah di tempatnya masing-masing, aku masih membangun rumah pantai ini. Sebenarnya aku bisa menyelesaikannya tepat waktu, tapi aku memiliki referensi panutan yang berbeda dengan mereka. Banyak kutemukan orang-orang santai di pantai, bagaimana aku bisa meninggalkan pantai bila itu yang aku cari-cari selama ini?”

“Ya, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Lalu.. apa mereka tidak mengertinya?”

“Bukan itu masalahnya.. Kami sudah saling mengerti satu sama lain.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Masalahnya adalah kau.”

“Aku? Hah, aku?”

“Ya, kau, Kucil. Ingat kan, aku menemukanmu terdampar di pantai? Kau dan teman-temanmu dari The Celurits terdampar di pantai karena tenggelam saat memancing ikan? Ha-ha-ha..”

“Oh, Tuhan..”

“Ya.. Oh, Tuhan.. Demi Tuhan aku senang menemukanmu, dan teman-temanmu. Kalian seperti teman-teman masa kecilku. Menyenangkan. Kalian seperti hidup dalam dunia nostalgia, tanpa melupakan hari ini dan masa depan.”

“Ah.. berarti setelah itu ada masalah muncul dengan teman-teman studi kemahmu? Karena kami? Aku dan teman-temanku muncul di hidupmu, Harap?”

“Sebenarnya tidak ada.. Tapi karena aku tidak tahu alasan yang paling bagus untuk menolak ketika teman-temanmu mengajakku memancing ikan, yang bersamaan dengan mereka pun sama-sama mengajakku pergi ke sungai untuk memancing ikan. Tapi.. kalian membicarakan pantai.. dan mereka membicarakan awan. Mana yang kusukai? Mana? Kau tahu itu kan, Kucil? Aku menyukai pantai!”

“Kau sama sekali tak menyukai awan?”

“Aku suka awan. Aku selalu membayangkan aku ada di atas awan. Ada di antara awan dan mereka. Tapi aku hanya sebatas dataran pantai, Kucil.. Aku tidak bisa menggapai awan.. Sekalipun ada ombak pantai, orang-orang bermain di sana. Tidak seperti awan yang memiliki petir, semua orang tak ada yang ingin bersenang-senang di sana. Aku segan terhadap mereka. Tapi aku ingin ada bersama mereka..”

“Mereka tak kau ajak ke pantai?”

“Aku tidak bilang bahwa mereka tidak menyukai pantai.. Oh, Tuhan.. beruntungnya mereka. Mereka seperti lahir di atas awan, dan ada pantai di antaranya! Aku menyukai mereka, karena mereka pun menyukai pantai. Tapi mereka berbeda, mereka ada di awan, sekalinya pun turun tetap saja ada di atas gunung. Dan sebelum kau berpikir macam-macam, kutegaskan, mereka bukan penghuni kelas awan atau gunung yang sombong. Kau tahu mengapa aku takut kehilangan mereka? Karena mereka tidak seperti penghuni kelas awan dan gunung yang lainnya. Mereka menyukai semuanya..”

“Lalu.. apakah aku salah bila terus bertanya apa masalahmu?”

“Tidak.. karena aku baru menemukan masalahnya sekarang. Aku terlalu hanyut dalam buaian nostalgia pantai bersamamu dan teman-temanmu. Aku lalai tidak menjaga komunikasi dengan mereka.. aku merasa terbuang oleh mereka karena kelas kami berbeda, padahal aku yang membuang diriku sendiri..”

“Oh, Tuhan.. Mengapa seorang kerbau seperti dirimu harus merasa terbuang oleh mereka? Oke, mereka harimau dan kau kerbau, tapi.. tapi tidak ada yang salah menjadi kerbau, dan begitupun dengan harimau. Tidak ada yang salah dengan harimau dan kerbau menyatu. Karena kalian menyukai awan, gunung, dan pantai. Kalaupun ada satu di antara kalian yang tidak menyukai kesamaan kalian, lalu apakah harus berpisah?”

“…”

“Kau tahu, Harap? Aku menyukaimu. Aku menyukai hidupmu. Sedangkan beberapa temanku tidak menyukai gaya hidupmu. Mereka bertentangan denganmu. Kau yang sangat teratur. Kau yang tidak bisa santai. Kau yang selalu memikirkan semuanya. Kau yang menyelesaikan masalah-masalahku. Apakah dengan begitu mereka membenciku? Tidak! Karena kami lebih dulu disatukan sebelum aku disatukan olehmu, Harap. Kau harus menjaga yang telah bersatu. Jika memang itu harus dipisahkan, apakah harus dengan alasan kau memisahkan dirimu sendiri karena kau merasa terbuang? Tidak, Harap! Tidak!!”


Tentang Surat Persahabatan (yang Tak Pernah Berakhir)

Aku bahagia berada di pantai. Aku pun bahagia berada di awan. Aku pun bahagia berada di tengah-tengahnya.

Dahulu kita bertemu di pendakian gunung dan kalian tahu bahwa aku satu-satunya yang tidak sesak nafas di antara kalian. Karena aku menyembunyikan nafasku yang tersengal.

Kalian payah.

Kemudian sampai di puncak gunung yang tinggi. Aku melihat ke bawah tanpa rasa takut. Dan kalian melihat ke atas tanpa rasa takut.

Aku memang payah.

Tapi,

pantai, gunung, dan awan tak ada yang tak indah.

Mungkin jika kita bertemu kembali pada salah satu tempat itu,

itu karena kita menginginkannya. Selalu menginginkannya.

Menginginkan kembali ada rindu.

Karena benar apa kata orang:

Tidak ada yang lebih sulit dari memutar waktu, dan tidak ada yang lebih mudah dari bernostalgia. Rindu adalah rasa terbaik dari kata hilang.


Namun, jujur, aku tidak bermimpi keras ada di atas awan. Aku,

Pantai Khara.





“Kenapa kau menuliskan nama lengkapmu? Kenapa tidak ‘Harap’ saja? Kan lebih keren.”

“Karena ‘Harap’ baru ada di dunia, saat bertemu denganmu..”

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
All rights reserved.
2013 © Aulia Vidyarini