Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku

Senin, 08 Februari 2010

Letter to You: (untuk semua tokoh yang menginspirasi)

Menjemukan sesaat, ketika harus dijauhkan dari sesuatu yang sudah terlanjur dekat.
Namun ini mesti terjadi, karena ini seperti hentakan peringatan untukku bahwa jangan terlalu lebih karena umurku takkan lebih dari 20.

Ini tidak menarik
tidak menarik untuk dibahas
ketika aku tidak jadi tinggal
angka 20, lalu 30, 40, malah
melebihi 100.
Dan apa aku harus bersanding?
Aku tak ingin mengecewakan
selama seribu bahkan lebih lamanya


Yogyakarta, No.13
2009-2010
AV

Tidak ada komentar: