Tampilkan postingan dengan label surat qwerty. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surat qwerty. Tampilkan semua postingan
Selasa, 02 Agustus 2016
Kau adalah manusia paling tidak penting yang pernah singgah
Dan kepalaku dipenuhi hal-hal yang terlanjur tanpa kepentingan untuk hari esok
Maka kau masih bertengger di sana, maksudku, di sini
Muncul di antara spasi-spasi buku
Merusak macam hama, macam hama yang indahnya membuat tertawa geli
Kau adalah manusia paling tidak penting yang pernah singgah
Dan sekarang kepalaku semakin tidak penting
Padahal seperti itu, sayangnya kau tak kunjung membuat janji seperti lalu-lalu
Seperti mencuri-curi waktu tanpa ada yang tahu
Padahal sudah sampai seperti ini, sayangnya kau sudah merasa penting
Jadi kucuri waktu menanyai hal tidak penting seperti hama
Kau adalah manusia paling penting yang sudah tidak pernah singgah
Karena kau adalah jarak, kau adalah ruang, terlanjur bagi manusia sepertiku
Maka segera ambillah barang-barangmu sekarang juga dasar bedebah
Jumat, 14 Februari 2014
14-2-14
Dung, dung, dan meletus. Terbangun dari sebuah istilah tidak kunjung tidur. Menilik di balik jendela persegi panjang yang berdiri, mengajak raga membuka gerai pagi—dung, dung, dan meletus—kemudian kepulan abu menghantam wajah yang mulai dialiri sungai. Sepi, senyap, hanya itu yang menghampiri gendang telinga. Menafsirkan keraguan pada hari esok.
Semua lari, semua takkan terpejam, semua tahu tentang jarak pandang yang semakin menipis. Lalu mengikis kesantunan dalam menyapa Tuhan. Begitukah kalau sudah menua?
Barisan berita empati mengalir dalam ruang sosial. Terduduk manis, terbatuk tangis. Sungai mengalir deras dalam perkelahian sifat raksasa dunia sementara. Beberapa berpikiran elok, dan beberapa lainnya berurat belok.
Begitukah kalau sudah menua?
Begitukah kalau sudah menua? Sungai kebebasan dicemari abu raksasa. Meledak. Kepala-kepala mereka hancur. Bertebaran di samping-samping sungai, bergumul dengan angin dengki.
Begitukah kalau ada gunung beruban di masa muda? Sungainya bau amis.
Semua lari, semua takkan terpejam, semua tahu tentang jarak pandang yang semakin menipis. Lalu mengikis kesantunan dalam menyapa Tuhan. Begitukah kalau sudah menua?
Barisan berita empati mengalir dalam ruang sosial. Terduduk manis, terbatuk tangis. Sungai mengalir deras dalam perkelahian sifat raksasa dunia sementara. Beberapa berpikiran elok, dan beberapa lainnya berurat belok.
Begitukah kalau sudah menua?
Begitukah kalau sudah menua? Sungai kebebasan dicemari abu raksasa. Meledak. Kepala-kepala mereka hancur. Bertebaran di samping-samping sungai, bergumul dengan angin dengki.
Begitukah kalau ada gunung beruban di masa muda? Sungainya bau amis.
Rabu, 02 Januari 2013
Minggu, 19 Agustus 2012
Keluarga.
Pada awalnya manusia adalah sama. Dalam konteks keluarga, pada akhirnya pun akan sama. Lahir, menangis, menyusu, belajar merangkak hingga berjalan, melompat, minum, makan, mengaji (jika dalam agama saya, agama Islam. Buat yang langsung naik alis keluar dari dahi, saya tegaskan saya tidak bicara agama, konteksnya sekarang adalah keluarga. Terima kasih), dlsb.
Proses yang hingga saat ini akan masih diterapkan oleh seorang ibu dan ayah, siapapun yang bisa disebut ibu dan ayah, ibu atau ayah. Kemudian, bagaimana bila bayi itu tidak menangis? Tidak menyusui? Tidak bisa menggunakan kedua kakinya? Minuman tidak sampai kerongkongan? Makan tidak nafsu? Hingga tidak tahu apa yang ia pegang ketika beranjak dewasa.
Kamu tahu bagaimana rasanya goyah tapi tidak ada yang menopang?
Saya pernah. Namun setelah itu saya koreksi. Banyak yang menopang saya, tapi saya tidak tahu, atau tidak mau tahu.
Keluarga adalah hal utama saya dalam hidup ini. Pertemanan yang hingga saya anggap sebagai keluarga. Dan kemudian pria terdekat saya setelah bapak pun merupakan keluarga baru saya. Semua adalah keluarga. Tapi berbeda porsinya.
Seperti harus membagi 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk berdoa/hiburan, 8 jam tidur. Dan saya rindu 8 jam untuk berdoa/beribadah, bukan lagi hiburan.
Berdoa/beribadah dalam ruang lingkup keluarga harus lah sangat membutuhkan ketulusan. Beribadah di luar rumah hanya perlu khusyuk, namun ketika berada di rumah.. semuanya berbeda. Entahlah, itu yang saya rasakan saat ini.
Saya sangat demi Tuhan menyayangi keluarga, baik yang satu darah maupun tidak. Lalu apa pencapaian yang telah saya dapat? Entah. Seharusnya saya sudah menjadi orang yang kuat. Berapa kali saya menikmati mendengarkan curhat teman-teman mengenai apapun, dan alhamdulillah semoga kami bisa mengatasinya. Saya dengan teori padanya, dan ia dengan prakteknya. Karena pada hakikat omong kosongnya, masalah satu di antara kita adalah masalah kita semua. Musuh di antara kita adalah musuh kita semua. Perkataan Cinta dalam film AADC pada akhirnya bullshit kan?
Saya harus mencari kebenaran, bukan pembenaran. Itulah pedoman dari pelajaran hidup yang saya jalani sekarang selama dua bulan terakhir.
Hhhh..
Saya harus menghela nafas dan menyeka apapun yang berjatuhan untuk menuliskan ini. Pembenarannya adalah orang tua saya menginginkan yang terbaik bagi saya, apapun itu terserah saya. Dan kebenarannya adalah, secepat mungkin saya harus berpikir berapa lagi tenaga dan materi yang harus mereka keluarkan untuk ke-terserah-an saya.
Selain berdoa/beribadah, 8 jam lagi saya harus bekerja.
Maka untuk menimbun ke-terserah-an tersebut, saya harus bekerja.
Saya masih kuliah. Sampai saat ini saya masih kuliah. Haram jadah lah dengan apa yang kalian katakan tentang saya, karena demi apapun yang tak terkendali, bumi pasti berputar, dunia sudah berputar, masih bersujud pada penilaian hanya dari satu sudut pandang?
Saya sangat ingin mengakhiri tulisan bangsat ini. Akhir-akhir ini saya sangat pelupa, tapi semoga saja saya tidak lupa akan pertanggung jawaban mengenai akhir dari tulisan ini. Ya, saya harus menemukan solusinya.
Apapun pandangan orang tua terhadap apapun yang tidak tersampaikan, saya harus menghormati. Apapun yang tak tersampaikan dan saya merasakan namun tidak dilaksanakan, itu sepenuhnya bukan urusan saya. Salah siapa yang tak menyampaikan.
Namun, apakah harus mencari kesalahan?
Untungnya saya ingat, yang harus dicari adalah solusi. Bukan kesalahan yang kemudian diperbesarkan. Hahahahahahaha! Demi apa ya, saya ketawa deh baca tulisan ini sebelum saya posting!
Terus, udah dapet solusinya? Belum sih, tapi sudah terbayang saya akan memimpikan apa. Karena demi apapun yang akan datang dan hilang, saya benci rencana.
Tapi saya percaya alasan.
Terus, udah dapet solusinya? Hei, untuk sementara waktu yang kamu bahkan tidak bisa bernafas dalam keadaan terhimpit seperti ini apalagi yang akan kamu inginkan selain merasa lega, hah? Kalau kamu dapat solusi tapi belum merasa lega, akankah kamu jalankan solusi tersebut dalam keadaan terhimpit menjelang mati?
Demi Allah, saya lega. Kamu tahu apa yang saya maksud dari membicarakan keluarga? Perasaan lega.
Ya, itu.
21.15 WIB
Selamat lebaran, selamat merayakan hari kemenangan!
NB:
Saya pernah melihat posting karya orang tentang pemberian selamat kepada teman-temannya dalam rangka hari kemenangan hari raya idul fitri, tapi beliau bicara tentang sebenarnya juga tidak jelas tentang apa yang dimenangkan dalam hari itu. Dan terdengar buruk menurut saya, entah sih, karena itu juga keambiguan penulisan.
Namun seharusnya beliau tahu; satu, bila maksudnya tidak menyepelekan, lebih baik ganti kalimat atau sangat lebih baik tidak perlu diutarakan. Dua, ibarat kata kamu tidak percaya setan itu ada namun kamu pemuja setan. Fool ya, berharap beliau mengoreksi untuk menjadi cool. Semuanya memiliki kesempatan berubah.
Best regards,
Aulia Vidyarini.
Proses yang hingga saat ini akan masih diterapkan oleh seorang ibu dan ayah, siapapun yang bisa disebut ibu dan ayah, ibu atau ayah. Kemudian, bagaimana bila bayi itu tidak menangis? Tidak menyusui? Tidak bisa menggunakan kedua kakinya? Minuman tidak sampai kerongkongan? Makan tidak nafsu? Hingga tidak tahu apa yang ia pegang ketika beranjak dewasa.
Kamu tahu bagaimana rasanya goyah tapi tidak ada yang menopang?
Saya pernah. Namun setelah itu saya koreksi. Banyak yang menopang saya, tapi saya tidak tahu, atau tidak mau tahu.
Keluarga adalah hal utama saya dalam hidup ini. Pertemanan yang hingga saya anggap sebagai keluarga. Dan kemudian pria terdekat saya setelah bapak pun merupakan keluarga baru saya. Semua adalah keluarga. Tapi berbeda porsinya.
Seperti harus membagi 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk berdoa/hiburan, 8 jam tidur. Dan saya rindu 8 jam untuk berdoa/beribadah, bukan lagi hiburan.
Berdoa/beribadah dalam ruang lingkup keluarga harus lah sangat membutuhkan ketulusan. Beribadah di luar rumah hanya perlu khusyuk, namun ketika berada di rumah.. semuanya berbeda. Entahlah, itu yang saya rasakan saat ini.
Saya sangat demi Tuhan menyayangi keluarga, baik yang satu darah maupun tidak. Lalu apa pencapaian yang telah saya dapat? Entah. Seharusnya saya sudah menjadi orang yang kuat. Berapa kali saya menikmati mendengarkan curhat teman-teman mengenai apapun, dan alhamdulillah semoga kami bisa mengatasinya. Saya dengan teori padanya, dan ia dengan prakteknya. Karena pada hakikat omong kosongnya, masalah satu di antara kita adalah masalah kita semua. Musuh di antara kita adalah musuh kita semua. Perkataan Cinta dalam film AADC pada akhirnya bullshit kan?
Saya harus mencari kebenaran, bukan pembenaran. Itulah pedoman dari pelajaran hidup yang saya jalani sekarang selama dua bulan terakhir.
Hhhh..
Saya harus menghela nafas dan menyeka apapun yang berjatuhan untuk menuliskan ini. Pembenarannya adalah orang tua saya menginginkan yang terbaik bagi saya, apapun itu terserah saya. Dan kebenarannya adalah, secepat mungkin saya harus berpikir berapa lagi tenaga dan materi yang harus mereka keluarkan untuk ke-terserah-an saya.
Selain berdoa/beribadah, 8 jam lagi saya harus bekerja.
Maka untuk menimbun ke-terserah-an tersebut, saya harus bekerja.
Saya masih kuliah. Sampai saat ini saya masih kuliah. Haram jadah lah dengan apa yang kalian katakan tentang saya, karena demi apapun yang tak terkendali, bumi pasti berputar, dunia sudah berputar, masih bersujud pada penilaian hanya dari satu sudut pandang?
Saya sangat ingin mengakhiri tulisan bangsat ini. Akhir-akhir ini saya sangat pelupa, tapi semoga saja saya tidak lupa akan pertanggung jawaban mengenai akhir dari tulisan ini. Ya, saya harus menemukan solusinya.
Apapun pandangan orang tua terhadap apapun yang tidak tersampaikan, saya harus menghormati. Apapun yang tak tersampaikan dan saya merasakan namun tidak dilaksanakan, itu sepenuhnya bukan urusan saya. Salah siapa yang tak menyampaikan.
Namun, apakah harus mencari kesalahan?
Untungnya saya ingat, yang harus dicari adalah solusi. Bukan kesalahan yang kemudian diperbesarkan. Hahahahahahaha! Demi apa ya, saya ketawa deh baca tulisan ini sebelum saya posting!
Terus, udah dapet solusinya? Belum sih, tapi sudah terbayang saya akan memimpikan apa. Karena demi apapun yang akan datang dan hilang, saya benci rencana.
Tapi saya percaya alasan.
Terus, udah dapet solusinya? Hei, untuk sementara waktu yang kamu bahkan tidak bisa bernafas dalam keadaan terhimpit seperti ini apalagi yang akan kamu inginkan selain merasa lega, hah? Kalau kamu dapat solusi tapi belum merasa lega, akankah kamu jalankan solusi tersebut dalam keadaan terhimpit menjelang mati?
Demi Allah, saya lega. Kamu tahu apa yang saya maksud dari membicarakan keluarga? Perasaan lega.
Ya, itu.
21.15 WIB
Selamat lebaran, selamat merayakan hari kemenangan!
NB:
Saya pernah melihat posting karya orang tentang pemberian selamat kepada teman-temannya dalam rangka hari kemenangan hari raya idul fitri, tapi beliau bicara tentang sebenarnya juga tidak jelas tentang apa yang dimenangkan dalam hari itu. Dan terdengar buruk menurut saya, entah sih, karena itu juga keambiguan penulisan.
Namun seharusnya beliau tahu; satu, bila maksudnya tidak menyepelekan, lebih baik ganti kalimat atau sangat lebih baik tidak perlu diutarakan. Dua, ibarat kata kamu tidak percaya setan itu ada namun kamu pemuja setan. Fool ya, berharap beliau mengoreksi untuk menjadi cool. Semuanya memiliki kesempatan berubah.
Best regards,
Aulia Vidyarini.
Kamis, 19 April 2012
Kamis, 29 Maret 2012
Alam dan Tangan Kanan Hari
OH! Jejak sempit melawan keterbuaian pada yang lalu-lalu
Alam telah mendambakan kicauan burung-burung yang tak bisa terbang
sedangkan hari batuk-batuk hingga pusing sebelah meracau pada yang kacau
Alam bilang, mengapa kau berkeluh kesah pada yang basah,
sedangkan kau tak menangkis air, kau tak mencoba, kau tak pernah mencobanya
Alam marah pada yang hari-hari berangsur kelam
penuh umpatan, kecaman, teriakan, dan mereka lupa makan
Padahal,
alam telah memberikan hamparan beras kesukaannya
Maka,
hari tak kunjung makan
Hari bilang, aku telah hancur berkecepatan lebih dari pencapaian puncak maksimal,
aku telah habis dimakan waktu, aku tak bisa menangis,
hanya kau yang bisa menangis menghujani panasnya aku
Hari kelaparan belai kasih lagi mesra pada alam yang telah dirusak tangan kanannya sendiri
Tangan kanannya sendiri yang merusak alam sahabatnya
OH! Jejak sempit melawan keterbuaian pada yang lalu-lalu
Lalu apalagi yang harus kita percaya?
Asdghjshfdkjncudiyudyusahbdsbaxhvzbcmxzmcnxcmbvmcvcvxcnjjjjjjjjjjjjjjjng
Hari pergi ke toko daging,
meminjam bilah-bilah berkilau,
Hari memotong tangan kanannya,
tangan kanannya dipotong
Tangan kanan yang lainnya berdecak rupiah,
tangan kanan hari dijadikan masakan spesial
Lalu apalagi yang harus kita percaya? Sedangkan tangan kanan memakan tangan kanan yang lainnya
Alam tak lagi murka,
Alam
telah
mati
rasa
---
Aulia Vidyarini, 2012
Selasa, 21 Februari 2012
Pamit tuk Berangkat Mengawali
Bogor, 21 Februari 2012
Panas adalah yang teratas, saat ini
di taman meja dan kursi tertanam
aku terduduk agak lelah menikmati kelelahan
Rabu menjadi yang terjepit pada kepulanganku kali ini,
di batu bundar miring aku bersaksi pada panas
Lingkaran-lingkaran sunyi tanpa mata normal menjadi pemandangan yang indah
Anginnya bersepoi merdu
Rumputnya menghijau dan membiru
menjadi awan yang memelukku di pukul tiga cerah
Ada yang berpasang, bertrio, bercatur, berpanca, dan berpangku tangan
yang entah menilik apa terdalam disana
"Lebih baik terpapar sinar matahari
daripada ditampar yang menari
Selamat siang pada yang sore.."
Aku merinding, ya, aku bergetar
bagai klakson beroda menghantam bermain gendang di telingaku
Tak ada yang buruk, kecuali menjadi seorang penyepi,
hingga
untuk hari ini kubiarkan menjadi seorang hawa yang ingin dikenang
Atas lembutnya kapas yang terbang,
aku pamit pada yang beban ini
Salam mengudara,
Aulia Vidyarini
Selasa, 31 Januari 2012
AVOOLCOOL #1
Kamis, 01 Desember 2011
Blender Ibunya //Rcaukmrau
Saya berencana untuk bikin lagu gitu, sejenis musikalisasi puisi atau apalah, hanya saja ini baru tahap pembuatan liriknya, hahahaha :p
Buat asik-asikan aja sih, nama Racau Kemarau juga mungkin bisa berganti lagi, hahahaha (lagi) :p (lagi)
"Blender Ibunya"
by Racau Kemarau
Ibunya kemarin beli blender
Anaknya kemarin beli narkoba
Anaknya tahu cara menggunakan blender
Ibunya tak tahu cara menggunakan narkoba
Ibu dulu tak kenal narkoba
Anak dulu sudah kenal blender
Lalu ia memblender narkobanya
Dicampur uang receh
Dicampur ijazah SMP
Dicampur perhiasan ibu
Dicampur semuanya tanpa takaran
Ibu beli blender buat jualan jus
Anak beli narkoba bukan buat jualan jus
Tapi karena ibu beli blender buat jualan jus
Anak jualan jus narkoba pakai blender ibunya
Ibunya dipenjara
Anaknya diam
Ibunya punya rumah baru 3 x 3 dibagi 9
Anaknya menangis
Anaknya menangis sebulan dua bulan
Sebulan dua bulan anaknya tak beli narkoba
Ia menangisi ibu karena tak meninggalkan uang sepeserpun 'tuk beli narkoba
Anaknya sakaw
Ibunya tidak sakaw
Anaknya mati sendiri
Ibunya mati bersembilan
---
Copyright 2011 Aulia Vidyarini
Senin, 24 Oktober 2011
Letter to You: "Kemarau."
"Kamu tahu ‘gak,
kalau kita mau denger hujan,
kita harus mengarak awan dulu,
melihat gelapnya mendung,
terkejut karena petir,
ditambah lagi
jika ada beberapa orang yang masih ingin matahari;
kita harus memperjuangkan alasan kita kenapa harus hujan,
lalu setelah itu
kebaikan hujan akan turun
sesuai doa kita.."
---
//AVOOLCOOL
Copyright 2011 Aulia Vidyarini
Minggu, 31 Juli 2011
12:34 AM, Menunggu Sahur Perdana
Ehem, Halo Satu Agustus! Tanggal blog-nya ngaco, masih aja 31 Juli.
First posting nih buat dini hari menjelang sahur, dengan diiringi Going Gone dari The Vines. Maka dari itu, saya niat posting sekarang aja.


Jadi gini, kamu pernah merasa nggak sih memiliki kegandaan dalam diri kamu? Maksudnya bukan bunting, berbadan dua, gitu. Nggak gitu maksudnya.
Misalnya contoh kecil yang sangat 'hahaha' banget.
Saya nge-fans, eh jangan gitu ah bahasanya, saya menggem
ari atau menyukai dua musisi yang berbeda karakter. Dimana Matt Tong sebagai drummer band Bloc Party dan vokalis The Vines bernama Craig Nicholls.

Matt Tong | Drummer Bloc Party
Jika dilihat fisiknya saja, sudah tampak bedanya. Matt Tong yang ternyata sudah membuntingi wanita setelah memperistrinya, membuat saya menggalau ng
gak gulita. Soalnya udah keliatan impossible-nya juga kalau dia nggak punya istri, hahahaha

Craig Nicholls | Vokalis The Vines
Sedangkan Craig Nicholls yang saya terka sendiri masih lajang ini, memiliki karakter yang unik cenderung weird buat saya, karena doi nih mem
iliki syndrom apa gitu yah namanya lupa. Kamu search aja di wikipedia muncul noh, kalau saya ketik ulang mending nama blog saya diganti jadi lettersfromwikipedia aja kalau gitu.
Oke deh lanjut ya, pada intinya saya hanya ingin bertanya-tanya, entah pada kamu atau hanya sebatas monitor masing-masing, kalau.. ya gituh. Ngerti nggak sih?
Ngomong-ngomong sekarang jam 12:34 am, wajar lah ya kalau kepala saya harus agak dibentur buat memperjelas apa maksud dari tulisan ini -___-
Kamis, 28 Juli 2011
Jumat, 01 Juli 2011
Lari dari Milimeter
Kulari bukan untuk bercita atlit
hanya ingin mendahului punggungmu
hingga walau kumenang
hanya ingin mencipta berpuluh-puluh kilometer
Aku bukan untuk mencipta kekalahan
hanya ingin memberi tahu
tak ada lagi satuan milimeter.
Minggu, 01 Mei 2011
Letter to You: "Sukses ya, Teman-teman!"
Kemarin teman saya tanya, "kenapa, U? Bengong terus.."
Dan saya tertawa terpaksa, "galau," lanjut saya asal.
"Galau terus," ujarnya sambil tertawa.
Sebenarnya saya tidak galau, saya hanya malu.
Malu bertemu teman-teman seperti kalian,
batin saya.
*
Sukses ya, Teman-teman!
(Saya ingin berkata lebih dari ini, tapi entahlah nanti saya lanjutkan di surat-surat berikutnya)
:)
Dan saya tertawa terpaksa, "galau," lanjut saya asal.
"Galau terus," ujarnya sambil tertawa.
Sebenarnya saya tidak galau, saya hanya malu.
Malu bertemu teman-teman seperti kalian,
batin saya.
*
Sukses ya, Teman-teman!
(Saya ingin berkata lebih dari ini, tapi entahlah nanti saya lanjutkan di surat-surat berikutnya)
:)
Kamis, 20 Januari 2011
#galau
oke,
saya mau pulang.
aya mau pulan
ya mau pula
a mau pul
mau pu
mau p
mau
ma
u
u
u
u
uh, o-ke
saya belum bisa pulang.
saya mau pulang.
aya mau pulan
ya mau pula
a mau pul
mau pu
mau p
mau
ma
u
u
u
u
uh, o-ke
saya belum bisa pulang.
Letter to You: "Pak Pos."
Percaya tidak, mimpi adalah bagian dari pengiriman pos kota yang kau ingin musnahkan atau harapkan?
Ya, tidur siang yang melelahkan. Entah datang dari Ancol, Kebun Raya, atau Kawah Putih; aku yakin satu, hanya satu.
Mimpiku tak tahu sopan santun, aku sudah mulai biasa mengarungi kenyataan, mengapa bisa dibawa arus air padang pasir, seperti kehausan di siang bolong, aku tahu ini bukan mimpi buruk tentang hantu sundel bolong, melainkan mimpi usang.
Aku tak keberatan jika kedatangan lagi, karena aku akan teriak-teriak di telinga Pak Pos, "entahlah kenapa kau kirimkan yang sudah-sudah?"
Aku belum tahu Pak Pos membalas apa, tapi aku akan menyela, "sudah, sudah.. Aku letih."Minggu, 26 September 2010
Rabu, 25 Agustus 2010
Evening Memories Exhibition, BDG, August 21st, 2010

"Evening Memories"
sebuah ruang yang merekam, mendeskontruksi, merakit, menciptakan sebuah konsep berkaitan dengan pengalaman estetis yang pernah dialami ketika senja mencari pembaringannya.
Seniman:
Aditya Tirtakusuma
Adrisfi Ryandari
Anis Anissa Maryam
Aulia Vidyarini
Ayu Fajar Wijaya
Cantika Clarinta
Chiquita Clarissa
Femi Runia
Ical Disemutin
Idham Rahmanarto
Ila Schaffer
Inne Rachmawati
Ivan Jasadipura
Joe Hans
Kintari Reprianti
Lintang Ramdhani
Nona Kumis
Nadine Maulida
Philo Disemutin
Ringgit Juliana Siahaan
Renaldy Fernando Kusuma
Syennie Valeria
Tampan Destawan Subagyo
Tara Astari Kasenda
Toro Elmar
Widi Benang
Penulis:
Rebecca Kezia
Rega Ayundya Putri
Pembukaan:
21 Agustus 2010
Performance by: Etza Meisyara
FUR MAGAZINE PRESENT
----------------------------------------------------------------------------
Ini karya-karya harom jadul saya, hahahahahaha
judulnya "Paras Pasar Sarap: QWERTYUIOPASDFGHJKLZXCVBHUJANM"
sudah lama saya ingin membuat karya berdasarkan tulisan-tulisan saya, walau mungkin agak 'mengulang sesuatu'. Entahlah.






Ini cerita yang saya buat untuk karya dalam Evening Memories:
1. Dia bernama Dasun, mungkin karenanya orang sunda; seperti ia sangat mencintai matahari pada namanya. Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar.
2. Dasun, seorang pemikir yang sayangnya pemabuk, pikiran liarnya datang dan pergi sesaat berkecamuk di benaknya; menjadikannya selalu terlintas untuk membuat agar dirinya aman. Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar.
3. Walau tak pernah berkelahi, Dasun tak habis menentang segala etika, dan sebenarnya mungkin dia bukan pemberontak, tapi penghibur. Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun.
4. Tak pernah berhenti bicara, itu adalah baranya ketika Dasun sudah memiliki topik, dan aku tak keberatan sama sekali untuk jadi pendengar. Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah.
5. Aku tak pernah melihat Dasun tertidur, tapi ia tidur dikala siang yang panas dan beraksi di bawah bulan. Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat.
6. Dasun sebenarnya tak pernah berdusta, tapi lebih baik jauhkan aku ketimbang kamu tak jelas disisiku. Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri.
7. Karena Dasun menyukai mantan. Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan.
8. Tapi Dasun membuatku ingin mengertinya, dan ia ingin aku mengerti tentang traumanya; aku beri waktu pada duniaku untukmu. Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku.
9. Waktu berbicara lain dan tangisku pecah seketika Dasun meninggalkan sudut-sudut udara ini yang pernah dilintasi bersama dengan otomatis. Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan.
10. Namun aku haru, ketika Dasun peringatkan ia sudah pergi sejak lama dari hidupku lewat alam, karena.. Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku.
11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, dan 20. Sekarang bagianku, Dasun! Aku Faras dan pasar subuh yang kudatangi setiap malam sudah tidak berpengunjung adalah tempat dimanaku merokok di tengah hujan! Mereka yang melihatku bergumul bicara aku sarap, sedangkan mereka tahu siapa aku saja tidak; Dasun saja tak pernah bilang aku sarap, padahal aku sudah gila dibuatnya!
-------------------------------------------------------------------------
Ini Evening Memories Exhibition di Galeri Padi Bandung.
Sayangnya saya tidak bisa datang kesana dikarenakan ada sebuah dan dua buah urusan, KRS dan saya si pemegang uang dalam sebuah event kampus, HAH
Tapi amazing banget, tanggal pembukaannya 21 Agustus 2010, bertepatan dengan hari saya bertambah tua, berkepala dua, hahahahaha
Padahal kan saya sudah ribet-ribet ngehubungin temen minta tebeng kost dan jalan-jalan, what the prek.




terimakasih ya untuk rekan-rekan saya yang memotretnya, saya colong fotonya :)
***
akhir kata:
***
akhir kata:
Sabtu, 20 Februari 2010
Permainan Kata
Saya suka sekali jika komen-komen basi sudah menjadi permainan kata, lebih asik berpikir mencari kata yang tepat ketimbang harus berpikir posisi tidur yang tepat.
Ini dimulai ketika komen-komen dari notes di facebook saya yang berjudul: Goodnight and Sleep.
Puisi tersebut sudah dibuat lama sejak saya duduk di atas bangku kayu SMA di Bogor, hanya saja baru saya posting ketika saya sudah terbang kuliah di Yogyakarta.
---------------------------------------------------------------------
Goodnight and Sleep.
Saturday, March 28, 2009 at 8:56am | Edit Note | Delete
Uploaded via Facebook Mobile
Sunyi menantang
Detik jam jatuh berdentang
Ketika kumakan kentang
Sambil tidur terlentang
Ditatap langit terbentang
Dan aku terlelap bersama bintang
---
Aulia Vidyarini.
---------------------------------------------------------------------
Comments:
Mochammad Bakhtiar
Hehe,,bgus jg au,,jd smakin mrasakan ksndrian di jogja,,
Jauh dri ortu,jauh dri sahabad2,,huhu
March 28, 2009 at 7:42pm ·
Aulia Vidyarini
huhuhu, tp itu dibuatnya pas aku masi di bgr hihihihi
March 28, 2009 at 9:38pm ·
Adisendhy Asharidijaya
puisi ya mantep bgt TANG....
pasti Au ter inspirasi oleh mang TATANG....
March 29, 2009 at 9:39pm ·
Aulia Vidyarini
terimaksh, jd terhura, ntong.
ya, saya adalah istrinya mang tatang: neng hutang.
March 29, 2009 at 10:39pm ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
hei kau tidak memakai kutang ?
March 29, 2009 at 11:48pm ·
Aulia Vidyarini
baledog yeuh make tang!
March 30, 2009 at 12:22am ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
dieu ditangkis ku rantang !
March 30, 2009 at 12:31am ·
Mochammad Bakhtiar
Emang kentang bs bikn ngantuk jg yah?,,haha
March 30, 2009 at 12:39am ·
Aulia Vidyarini
@diaz: kade rantangna bisi lepas ka bontang!
@tiar: ak kn ga bilang kentang bs bikin tdr, tiartang hihihii
March 30, 2009 at 12:51am ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
ah kamu nantang ?
March 30, 2009 at 12:59am ·
Aulia Vidyarini
ga kaci! 'nantang' kan uda di puisi gw.
1-0, DIAZ KALAAAH!
March 30, 2009 at 1:10am ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
itu kan pke imbuhan,,yg gw ngga,,artiny bsa beda...
hahahaaa...
hei apa kau berlari trus brlari mengejarku hingga petang ?
March 30, 2009 at 1:26am ·
Aulia Vidyarini
huh kamu terlintas pun tidak, karena hanya kegilaanmu yang melintang.
March 30, 2009 at 8:42am ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
huh tapi tetap kau bilang akan menunggu hingga bulan datang .
March 30, 2009 at 8:50am ·
Mochammad Bakhtiar
Ikutan juga ah,,,
Dan kau bilang akan menungguku dengan pose menantang,,,^^
March 30, 2009 at 10:57am ·
Aulia Vidyarini
@tiar: tetot! gabole mengulang yg uda di puisi lho.
saat ini tiada bulan datang, maka aku berpantang.
March 30, 2009 at 11:51am ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
ketika mengatakannya apakah kau merasa cukup matang ?
March 30, 2009 at 12:21pm ·
Aulia Vidyarini
ya, karena aku bukan penipu seperti para binatang.
March 30, 2009 at 3:55pm ·
Mochammad Bakhtiar
Aku berkata pada semuanya dengan suara lantang,,
Sampai semuanya pun bersuara,termasuk benda disebelahku rantang,,
March 30, 2009 at 8:16pm ·
Aulia Vidyarini
rantang jg uda geee am temen ak.
tak perlu seperti itu karena aku masih banyak piutang.
March 30, 2009 at 9:27pm ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
kau terlupakan dalam waktu sebatang !
March 30, 2009 at 9:42pm ·
Mochammad Bakhtiar
Ku hanya sendiri disini,,hanya ditemani sebuah tang
March 30, 2009 at 10:55pm ·
Aulia Vidyarini
tang juga uda, tiaaaaaar
March 30, 2009 at 11:08pm ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
hahahaa au kesal ketang ?
March 30, 2009 at 11:23pm ·
Mochammad Bakhtiar
Beuh maap euy tang,,abisna teh klian pake bhs sunda pas make kata tang,,
Dadi yo q ora ngerti tang,,sepurane nggih tang hahahaha,, *jd kbawa pake akhiran tang X.X*
March 30, 2009 at 11:39pm ·
Aulia Vidyarini
eerrrr kalian membuatku kesal seperti bantang!
March 31, 2009 at 12:36am ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
yasudah kita janjian d kwitang .
March 31, 2009 at 7:13am ·
Aulia Vidyarini
waktu sudah selesai tang-tang-tang-tang-tang-tang-tang-tang!
April 5, 2009 at 12:02pm ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
hahahahahaaaa
April 5, 2009 at 12:12pm ·
Aulia Vidyarini
kita akhiri dengan membaca hamdalah.
alhamdulillah..
April 5, 2009 at 3:13pm ·
Deany Kuma Matsuyama
garila c au . wakakak.
April 11, 2009 at 6:31am ·
Aulia Vidyarini
hahahaha :D
April 11, 2009 at 7:09am ·
---------------------------------------------------------------------
Saya menikmati itu, lalu saya rindu menulis kembali di notes facebook, hanya saja ada sebuah alasan..
Ini dimulai ketika komen-komen dari notes di facebook saya yang berjudul: Goodnight and Sleep.
Puisi tersebut sudah dibuat lama sejak saya duduk di atas bangku kayu SMA di Bogor, hanya saja baru saya posting ketika saya sudah terbang kuliah di Yogyakarta.
---------------------------------------------------------------------
Goodnight and Sleep.
Saturday, March 28, 2009 at 8:56am | Edit Note | Delete
Uploaded via Facebook Mobile
Sunyi menantang
Detik jam jatuh berdentang
Ketika kumakan kentang
Sambil tidur terlentang
Ditatap langit terbentang
Dan aku terlelap bersama bintang
---
Aulia Vidyarini.
---------------------------------------------------------------------
Comments:
Mochammad Bakhtiar
Hehe,,bgus jg au,,jd smakin mrasakan ksndrian di jogja,,
Jauh dri ortu,jauh dri sahabad2,,huhu
March 28, 2009 at 7:42pm ·
Aulia Vidyarini
huhuhu, tp itu dibuatnya pas aku masi di bgr hihihihi
March 28, 2009 at 9:38pm ·
Adisendhy Asharidijaya
puisi ya mantep bgt TANG....
pasti Au ter inspirasi oleh mang TATANG....
March 29, 2009 at 9:39pm ·
Aulia Vidyarini
terimaksh, jd terhura, ntong.
ya, saya adalah istrinya mang tatang: neng hutang.
March 29, 2009 at 10:39pm ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
hei kau tidak memakai kutang ?
March 29, 2009 at 11:48pm ·
Aulia Vidyarini
baledog yeuh make tang!
March 30, 2009 at 12:22am ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
dieu ditangkis ku rantang !
March 30, 2009 at 12:31am ·
Mochammad Bakhtiar
Emang kentang bs bikn ngantuk jg yah?,,haha
March 30, 2009 at 12:39am ·
Aulia Vidyarini
@diaz: kade rantangna bisi lepas ka bontang!
@tiar: ak kn ga bilang kentang bs bikin tdr, tiartang hihihii
March 30, 2009 at 12:51am ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
ah kamu nantang ?
March 30, 2009 at 12:59am ·
Aulia Vidyarini
ga kaci! 'nantang' kan uda di puisi gw.
1-0, DIAZ KALAAAH!
March 30, 2009 at 1:10am ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
itu kan pke imbuhan,,yg gw ngga,,artiny bsa beda...
hahahaaa...
hei apa kau berlari trus brlari mengejarku hingga petang ?
March 30, 2009 at 1:26am ·
Aulia Vidyarini
huh kamu terlintas pun tidak, karena hanya kegilaanmu yang melintang.
March 30, 2009 at 8:42am ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
huh tapi tetap kau bilang akan menunggu hingga bulan datang .
March 30, 2009 at 8:50am ·
Mochammad Bakhtiar
Ikutan juga ah,,,
Dan kau bilang akan menungguku dengan pose menantang,,,^^
March 30, 2009 at 10:57am ·
Aulia Vidyarini
@tiar: tetot! gabole mengulang yg uda di puisi lho.
saat ini tiada bulan datang, maka aku berpantang.
March 30, 2009 at 11:51am ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
ketika mengatakannya apakah kau merasa cukup matang ?
March 30, 2009 at 12:21pm ·
Aulia Vidyarini
ya, karena aku bukan penipu seperti para binatang.
March 30, 2009 at 3:55pm ·
Mochammad Bakhtiar
Aku berkata pada semuanya dengan suara lantang,,
Sampai semuanya pun bersuara,termasuk benda disebelahku rantang,,
March 30, 2009 at 8:16pm ·
Aulia Vidyarini
rantang jg uda geee am temen ak.
tak perlu seperti itu karena aku masih banyak piutang.
March 30, 2009 at 9:27pm ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
kau terlupakan dalam waktu sebatang !
March 30, 2009 at 9:42pm ·
Mochammad Bakhtiar
Ku hanya sendiri disini,,hanya ditemani sebuah tang
March 30, 2009 at 10:55pm ·
Aulia Vidyarini
tang juga uda, tiaaaaaar
March 30, 2009 at 11:08pm ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
hahahaa au kesal ketang ?
March 30, 2009 at 11:23pm ·
Mochammad Bakhtiar
Beuh maap euy tang,,abisna teh klian pake bhs sunda pas make kata tang,,
Dadi yo q ora ngerti tang,,sepurane nggih tang hahahaha,, *jd kbawa pake akhiran tang X.X*
March 30, 2009 at 11:39pm ·
Aulia Vidyarini
eerrrr kalian membuatku kesal seperti bantang!
March 31, 2009 at 12:36am ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
yasudah kita janjian d kwitang .
March 31, 2009 at 7:13am ·
Aulia Vidyarini
waktu sudah selesai tang-tang-tang-tang-tang-tang-tang-tang!
April 5, 2009 at 12:02pm ·
Diazsepta Galuh Lazuardi
hahahahahaaaa
April 5, 2009 at 12:12pm ·
Aulia Vidyarini
kita akhiri dengan membaca hamdalah.
alhamdulillah..
April 5, 2009 at 3:13pm ·
Deany Kuma Matsuyama
garila c au . wakakak.
April 11, 2009 at 6:31am ·
Aulia Vidyarini
hahahaha :D
April 11, 2009 at 7:09am ·
---------------------------------------------------------------------
Saya menikmati itu, lalu saya rindu menulis kembali di notes facebook, hanya saja ada sebuah alasan..
Jumat, 19 Februari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)





