Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku

Selasa, 08 Oktober 2013

Kumpulan Jalan No.1

JALAN-JALAN SATU

Ketika angin terlalu kencang menghembus kening, tidak begitu mempengaruhi kecepatan ingatan yang akan hilang pula. Kau, tetap disini. Di dalam keningku. Begitu pun hidupku, tetap disini, di dalam hidupmu.

Semenjak keterbatasan hari yang kauberikan, aku menjadi semena-mena pada sebuah penantian masa. Musim kemarau kupayungi, musim hujan kubiarkan membasahi tubuhku. Agar ingatanku tentangmu tak habis dibakar panas, dan tetap segar kumandikan.

Sehingga kau, tetap tumbuh, hingga membawaku, ke atas langit, sana.

Aku sedang berjalan dari trotoar satu ke trotoar lainnya, mengingat kau pernah mencium aspal dengan sendunya, kau tak pernah menginjaknya. Kau membelainya dengan telapak kakimu.

Kau mengajarkanku untuk, satu: mematikan puntung rokok menyala yang kaubuang di tanah terbawah. Lebih baik bibirmu yang terbakar, daripada tanah membakar semua yang tak bersalah (April 2012)


Aulia.

Kamis, 19 September 2013

Episode: "Chat YM Avoolcool & Harap."

=================================================================================
AVOOLCOOL: Heh, ini Harap atau Kucil? Kuharap ini Harap!

KUCILDANHARAP: Oh, kau Si Kasar. Ada perlu apa?


AVOOLCOOL: Kau bahkan bukan saudaraku! Panggilkan Harap untukku.


KUCILDANHARAP: Memangnya kau yakin aku bukan Harap?


AVOOLCOOL: Yeah, Harap tak pernah memanggilku ‘Si Kasar’, sekalipun aku kasar padanya. Tapi yakin, aku tak pernah berperilaku kasar padanya. Cepat panggilkan dia!


KUCILDANHARAP: Oke, kau pilih kasih.


AVOOLCOOL: Cepatlah, Kucil. Aku tak punya waktu banyak.


KUCILDANHARAP: Ya, sebentar. Dia sedang berjalan ke kamarku. Ada apa sih?


AVOOLCOOL: Nanti saja ketika kau berada di sebelahnya. Ini untukmu juga.


KUCILDANHARAP: Yeah, kau pasti hilang kepercayaan diri lagi.


AVOOLCOOL: Harap cerita padamu?


KUCILDANHARAP: Entahlah. Aku hanya menebak.


AVOOLCOOL: Fvck.


KUCILDANHARAP: Ada apa?


AVOOLCOOL: Cepat panggilkan Harap!!


KUCILDANHARAP: Ini aku Harap. Dasar bodoh.


AVOOLCOOL: Aku percaya padamu. Ini benar-benar kau. Ya, Kucil pun bisa membaca ini.


KUCILDANHARAP: Apalagi?


AVOOLCOOL: Proyek Berita Kehilangan kuserahkan padamu. Pada kalian.


KUCILDANHARAP: Hah?


KUCILDANHARAP: Yang terbengkalai sampai setahun itu?


KUCILDANHARAP: Gila kau.


AVOOLCOOL: Bagian mana yang gila?


AVOOLCOOL: Bagian aku tak punya kepercayaan diri lagi untuk menyelesaikannya, atau?


KUCILDANHARAP: Bagian menyerahkannya kepada kami.


AVOOLCOOL: Ohhhh kumohon..


KUCILDANHARAP: Mengapa kami?


KUCILDANHARAP: Kucil dan temannya sedang mempersiapkan proyek pribadinya juga. 


AVOOLCOOL: Baiklah, kau ada waktu kan?


KUCILDANHARAP: Tapi itu sangat berat. Kau kan pernah menceritakan padaku tentang bagaimana poster-poster itu akan dibukukan kan? Dan pasti ada sebuah wacananya. Itu keahlianmu.


KUCILDANHARAP: Memangnya kau mau kemana sih?


AVOOLCOOL: Menyelesaikan studiku. Kemana lagi memangnya?


KUCILDANHARAP: Ya kemudian kau buat saja buku itu setelah studimu.


AVOOLCOOL: Terlalu lama. Aku yakin aku sudah tidak dipercaya siapapun..


KUCILDANHARAP: ‘Terbit setiap mood’ kan?


AVOOLCOOL: Mood-ku membuat buku itu datang setiap hari, Harap. Setiap hari! Aku sama sekali tidak bisa fokus untuk semua hal!!


KUCILDANHARAP: Lalu?


AVOOLCOOL: Karya-karya mereka datang padaku tepat pada waktunya! Aku sangat terharu demi apapun! Aku 

harus melakukan yang terbaik untuk mereka.. Berita Kehilangan tak boleh hilang!!

KUCILDANHARAP: Well, aku sangat menghormatimu. Tapi tidak bisakah kau beri kami waktu?


AVOOLCOOL: Tuhan yang akan memberi waktu. Itupun kalau kau mau menerimanya..


KUCILDANHARAP: Sial. 


AVOOLCOOL: Harap, kau satu-satunya harapanku, selain Tuhan tentunya, dan kumohon raihlah harapanku itu..


KUCILDANHARAP: Lalu kau lepas tangan? Mengatakan serentetan kalimat keren dan lalu kau lepas tangan terhadap tanggung jawabmu?


AVOOLCOOL: Tentu saja tidak! Oh, please jangan bilang kau tak lagi percaya padaku, Harap..


AVOOLCOOL: Oh, bxtch..


KUCILDANHARAP: Tentu saja tidak..


AVOOLCOOL: Well, baiklah. Aku menghela nafas sekarang. Berikan aku waktu untuk mencari orang lagi selain dirimu.


KUCILDANHARAP: Oke.


AVOOLCOOL: Oke, waktunya habis. Tidak ada lagi orang lain. Hanya ada kau, Harap. Dan pasanganmu tentunya.


KUCILDANHARAP: Well, you bxtch. Hahaha


KUCILDANHARAP: Katakan padaku apa modal utama untuk melanjutkan proyekmu itu? Karena awal mendengar proyek tersebut, sejujurnya aku sangat tertarik.


AVOOLCOOL: Ketertarikanmu.


KUCILDANHARAP: Apa?


AVOOLCOOL: Modal utama kan?


AVOOLCOOL: Itu.


AVOOLCOOL: Ketertarikanmu.


AVOOLCOOL: Apa lagi?


KUCILDANHARAP: Ah.. Kalau kau mati sekarang, kudoakan kau masuk surga.


AVOOLCOOL: Amin.


AVOOLCOOL: Jadi?


KUCILDANHARAP: Mainlah ke surga kami. Besok. Jam 15. Bagaimana?


AVOOLCOOL: Mengapa sore sekali?


KUCILDANHARAP: Sore atau tidak sama sekali?


AVOOLCOOL: Aku tidur siang!


KUCILDANHARAP: Tidur siang kan? Bukan tidur sore?


AVOOLCOOL: Aku tidur siang sampai jam 16!


KUCILDANHARAP: Hei, kurasa kau tidak butuh mood. Kau hanya butuh tidak-tidur-terlalu-banyak.


AVOOLCOOL: Harap.. mengapa aku terlahir dalam tubuh pemalas ini? Aku sangat menginginkan semua rencanaku terlahir ke dunia. Berjalan dengan lancar. Dan memberi asupan gizi yang baik untuk semua rencanaku agar tidak berakhir menjadi bencana.. Mengapa, Harap?


AVOOLCOOL: Aku butuh mengeluh, tapi aku tak bisa. Aku tak perlu mengeluh. Aku kuat kan, Harap?


KUCILDANHARAP: Hei, datanglah kemari jam 17. 18. 19. Atau 20. Jangan bawa berkas-berkasmu tentang 

Berita Kehilangan. Bawalah dirimu dan semua keluhanmu dengan baik hingga tiba ke rumah kami. Oke?

AVOOLCOOL: Jangan buat aku semakin melemah, Harap.


KUCILDANHARAP: Aku yang lemah. Aku butuh keluhan untuk menjadikanku kuat. Kau bisa mengeluh padaku kalau kau butuh. Sehingga aku menjadi kuat. Dan aku akan membagikan kekuatanku tadi kepadamu. Yah, hanya seperti itu sih..


AVOOLCOOL: Kau mau tahu? Aku tak salah memilihmu untuk menyelesaikan proyek Berita Kehilangan itu. 


KUCILDANHARAP: Thanks.


AVOOLCOOL: Tapi nanti jangan ceramahi aku. Aku paling tak suka dinasehati. Aku tahu apa yang harus 

kulakukan. Aku hanya butuh tenaga. Dan tidur.

KUCILDANHARAP: Dasar brengsek. Kau suka menasehati orang tapi tak suka dinasehati.


AVOOLCOOL: Hahahahaha!


AVOOLCOOL: Kau kan memang tahu kalau aku brengsek. Aku tak suka melihat orang-orang di sekitarku pun brengsek. Makanya akan kubuat mereka menghilangkan kebrengsekannya. Kalau sudah hilang, aku pasti ingin seperti mereka. Mereka yang sudah tidak brengsek lagi. Hahahaha!


KUCILDANHARAP: Kau memang benar-benar hidup untuk mereka..


AVOOLCOOL: Kalau tidak, untuk siapa lagi?


AVOOLCOOL: Aku hanya ingin menyenangkan mereka. Masuk surga bersama-sama itu asyik kan?


KUCILDANHARAP: Memangnya kau yakin yang kaulakukan itu usaha untuk masuk surga?


AVOOLCOOL: Yep.


KUCILDANHARAP: Sebegitu yakinnya?


AVOOLCOOL: Bagaimana kalau sebaliknya?


KUCILDANHARAP: Jelas saja kau masuk neraka!


AVOOLCOOL: Kau mau menemaniku?


KUCILDANHARAP: Aku kan hewan. Aku masuk surga.


AVOOLCOOL: Kau setengah hewan.


AVOOLCOOL: Lalu setengahnya lagi kemana?


KUCILDANHARAP: Entahlah. Aku pun masih berusaha.


AVOOLCOOL: Berusaha untuk menjadi hewan atau manusia?


KUCILDANHARAP: Hmm.. mungkin seperti usahamu untuk masuk surga. Aku menangkap bahwa kau sedikit tidak yakin usahamu untuk membawamu dan yang lainnya ke surga.


AVOOLCOOL: Baiklah.. kau menganggap usahaku masih setengah surga dan setengah neraka, begitu kan?


KUCILDANHARAP: Entahlah. Hanya kau dan Tuhan yang tahu.


AVOOLCOOL: Lalu kau ingin berusaha kemana?


KUCILDANHARAP: Sejujurnya aku sangat menginginkan menjadi manusia. Tapi kata Kucil, untuk apa menjadi 

manusia jika setengahmu lagi adalah bagian dari surga. Hahaha, setelah mendengar itu darinya, aku ingin sekali mencuri kesederhanaannya.

AVOOLCOOL: Oke, kalau kalian nanti seutuhnya menjadi hewan, bagaimana aku bisa berbincang dengan 

kalian?

AVOOLCOOL: Dengan sama-sama makan rumput, begitu?


KUCILDANHARAP: Kau terdengar sinis sekali.


AVOOLCOOL: Oh, tentu saja iya! Lalu Kucil mengatakan bahwa aku seutuhnya neraka, begitu?


KUCILDANHARAP: Tidak perlu jadi hewan untuk pergi ke surga kan?


KUCILDANHARAP: Sebelum berubah haluan, tetapkan tujuan proyekmu akan siap-siap berangkat ke surga atau sebaliknya?


AVOOLCOOL: He, bagaimana kalau aku satu-satunya brengsek di dunia ini? Aku merinding sekarang.


KUCILDANHARAP: Itu rahasia. Aku tak berani mengobrak-abrik rahasia Tuhan.


AVOOLCOOL: Tapi bagaimana kalau itu terjadi? Setelah semua usahaku membawa mereka ke surga, tapi aku tak bisa menghilangkan kebrengsekanku, dan aku sendiri. Aku sendiri, Harap!


KUCILDANHARAP: Apakah kau pernah dengar tentang Tuhan akan melindungimu setelah apa yang kau kerjakan untuk-Nya?


AVOOLCOOL: Ya.. aku ingat..


KUCILDANHARAP: Sebagai seseorang di sekelilingmu, aku akan mendoakanmu.


KUCILDANHARAP: Tentu saja, untuk semua jalan yang kau lalui bersama-Nya.


AVOOLCOOL: Apa aku harus membawa oleh-oleh rumput untuk doamu kepadaku? Sebagai imbalannya apa rumput cukup untukmu?


KUCILDANHARAP: Aku tak mengharapkan imbalan. Berdoa untukmu tak butuh tenaga kan? Bahkan kau tak perlu memberiku gaji untuk sekedar mendoakanmu.


KUCILDANHARAP: Lagipula aku tak makan rumput! Dasar tolol.


AVOOLCOOL: Hahahahaha!


KUCILDANHARAP: Jangan terlalu keras kalau tertawa. Kau kan pernah kutip kalimat itu di bukumu.


AVOOLCOOL: Aku hanya tertawa di ketikan kok. Aku tak tertawa sungguh-sungguh.


KUCILDANHARAP: Lalu kau ngapain?


AVOOLCOOL: Aku sedang berpikir.


KUCILDANHARAP: Kau terlalu banyak berpikir.


AVOOLCOOL: Ah, mungkin kau bisa membantuku untuk memikirkan ini secepatnya.


KUCILDANHARAP: Apalagi, sih?


AVOOLCOOL: Bagaimana caranya untuk menutup percakapan ini?


KUCILDANHARAP: Dasar bodoh!


AVOOLCOOL: Aku serius. Aku tak mau mengakhirinya, tapi mataku berkata bahwa aku harus mengedipkan mataku dengan tenaga besar.


KUCILDANHARAP: Hahaha, ya sudah, lekaslah tidur.


KUCILDANHARAP: Besok jangan lupa.


AVOOLCOOL: Ingatkan aku!


KUCILDANHARAP: Kalau aku mati, lalu siapa yang akan mengingatkanmu?


AVOOLCOOL: Malaikat pencabut nyawa?


KUCILDANHARAP: Dasar tolol. Hahahaha!


AVOOLCOOL: Hahahaha!


KUCILDANHARAP: Hei, Kucil menegurku mengapa aku banyak mengumpatmu.


AVOOLCOOL: Hohohoho, memangnya kau tak pernah mengumpatnya sedikitpun?


KUCILDANHARAP: Sebenarnya sama saja. Tapi ia pikir karena memang ia perlu diumpat. Dan yang ia tahu adalah aku tak pernah mengumpat jika sesama perempuan.


AVOOLCOOL: Hahahahahaha dia tidak tahu betapa brengseknya seorang Harap!


KUCILDANHARAP: Aku tidak brengsek. Aku hanya mengumpatmu bila dengan perempuan. Bersama teman 

perempuan lain tak pernah bermain umpat-umpatan.

AVOOLCOOL: Yeah, kau tak menjadi dirimu sendiri kan jika bersama mereka? Wajar saja kalau begitu.


KUCILDANHARAP: Kau tahu apa tentang aku.


AVOOLCOOL: Yeah, maaf.


KUCILDANHARAP: Ya sudah, katanya kau mau tidur.


AVOOLCOOL: Ah, sampai lupa!


KUCILDANHARAP: Kau dulu bukan seorang yang pelupa. Aku ingat itu, saat bagaimana kau mengingatkan sekitarmu..


KUCILDANHARAP: Hei, jangan lupakan aku. Aku akan sedih bila itu terjadi..


AVOOLCOOL: Hehehe, entahlah sejak kapan ini melanda diriku.. Hehehe..


KUCILDANHARAP: Aku tahu kau tak nyengir dengan benar.


AVOOLCOOL: Yah, karena.. entahlah mungkin aku lupa..


KUCILDANHARAP: Kalau kau lupa segalanya, lalu bagaimana aku bisa memberikan hasil akhir proyek Berita Kehilangan? Sedangkan kau sudah mulai kehilangan ingatanmu..


AVOOLCOOL: Maka dari itu aku melimpahkannya padamu, Harap..


KUCILDANHARAP: Ah, sudahlah tidur saja kau! Jika ini diteruskan hanya akan membuatku sedih! Kau bisa dengan cepat melupakan cara bagaimana kau membuatku sedih, sedangkan aku akan mengais-ngais kesedihan yang kau buat! Dasar tolol! Cepat sana tidur! Aku harap kau tak lupa bangun!!


AVOOLCOOL: Siap! Hehehehehehehe

=================================================================================

Kamis, 29 Agustus 2013

Episode: "Kucil dan Harap Bertemu Remaja"







“Siapa namamu?” pertanyaan ketus terlontar dari perempuan kerbau dengan daster panjang berwarna gradasi magenta dan biru itu memberikan segelas air jeruk dingin pada pria yang terduduk di pasir memeluk dengkulnya. “Mana teman-temanmu?”

“Terimakasih,” lelaki kerbau itu tersenyum sambil meraih gelas yang diberikan setelah mengetahui asal suara. “Namaku Kucil. Kau?”

Perempuan itu duduk di sebelah kanannya, agak jauh. “Kau seorang kerbau? Atau kau sedang menipuku?”

Lelaki kerbau yang mengaku bernama Kucil itu mengernyitkan dahi kebingungan, “Kau bicara apa sih?”

“Mana teman-temanmu?” perempuan kerbau itu mengulang kembali pertanyaannya yang belum terjawab. Entah benar-benar menanyakan atau hanya basa-basi.

Kucil nyengir sambil menggelengkan pelan kepalanya, “Di mana namamu? Aku pun belum melihatnya.”

Perempuan itu tertawa kecil sambil melihat ke arah yang berseberangan. Rambut coklatnya tergerai, dihembus angin pantai yang membelainya. “Namaku Khara.”

Kucil manggut-manggut, “Nama yang bagus.”

“Di mana teman-temanmu?” sepertinya Khara benar-benar menanyakannya.

“Memangnya kenapa, sih?” Kucil mengernyit karena matahari yang menyilaukan matanya.

“Masalahnya aku membawa banyak gelas air jeruk dingin untuk kalian!” Khara menunjuk meja bundar berpayung yang terletak agak jauh di belakang mereka.

Kucil tertawa.

“Mengapa kau tertawa? Kau hampir mati!” Khara berdiri lalu berjalan ke belakang ke arah meja.

Kepala Kucil mengikutinya, “Hei!” ia berdiri mengikuti Khara dengan cepat.

Khara menoleh melihat Kucil yang sudah ada di belakangnya. Ia menggigit kuku sebentar lalu meraih segelas air jeruk dingin yang diteguk sampai habis setengahnya.

Kucil hanya tersenyum melihat tingkah Khara.

“Aku hanya tidak mengerti! Memangnya ada orang yang tertawa ketika dirinya hampir mati tenggelam, hah? Dan memangnya ada orang bernama Kucil? Mengapa ia dilahirkan dengan nama yang begitu lemah! Semua anak itu adalah harapan orang tuanya! Orang tuamu gila!”

Kucil hanya tertawa mendengar emosi Khara yang bertubi-tubi.

“Hei! Memangnya ada seorang anak yang tertawa ketika orang tuanya dihina, hah?!”

Kucil mulai menghentikan tawanya lalu tersenyum dengan tenang, “Kau pernah merasa terbuang?”

“Aku akan pergi ke gunung! Di sana banyak harimau hebat. Dan aku kerbau harus pergi kesana. Ini minggu terakhirku berada di pantai. Setelahnya aku harus pergi ke sana. Aku seperti terbuang! Mengapa aku harus dikumpulkan dengan orang-orang hebat, hah? Mereka hanya akan membuangku!”

Kucil tertawa. Khara melihatnya dengan emosi.

“Kau tertawa dan terus tertawa!”

Kucil tersenyum kecut, “Ya. Lalu kau mau aku bagaimana? Menangis? Menangis karena dunia membuangku, hah? Menangis karena ibuku mati karenaku dan ayahku pergi meninggalkanku demi dunia, begitu?!”

Khara terdiam. Khara terdiam dan tidak berani melihat mata Kucil yang menghunusnya tajam.

“Kau bilang semua anak adalah harapan orang tuanya.. ketika orang tuanya pergi meninggalkan anaknya, lalu ke mana harapan mereka pergi?” Kucil menaruh gelasnya pelan namun tidak untuk uratnya yang menegang. “Bahkan namaku saja tidak tahu harus pergi ke mana.”

Kucil pergi meninggalkan Khara yang mematung.

Tidak ada ombak besar di laut. Namun, hati Khara benar-benar terasa diguncang.

Malam itu telah meninggalkan sore yang membuat Khara menjadi diam. Ibunya menanyakan keanehan dirinya, namun ia hanya bilang kalau ia lapar. Akhirnya ibu Khara memasak rica-rica ikan kesukaan Khara dan para penghuni pantai yang kebanyakan adalah kolega kerjanya.

“Bu,” panggil Khara pada ibunya yang sedang menumis bumbu. “Ibu lihat orang-orang yang tadi tenggelam di laut?”

Ibunya sibuk masak sambil sesekali melihat anaknya yang celingak-celinguk, “Coba kau cari di Pasir Bunga. Kelihatannya di sana ramai, mungkin mereka sedang di sana.”

Pasir Bunga adalah nama dari salah satu ruang terbuka yang tempatnya seperti café. Di sana ditampilkan band akustik. Tempat itu memang salah satu ruang favorit orang-orang yang singgah di pantai. Akhirnya Khara pergi ke sana namun tidak menemukan apa yang ia cari. Memang orang-orang yang tenggelam di laut tersebut ada di sana, tapi bukan mereka yang ia maksud.

Seharusnya Khara bertanya tentang orang yang ia cari pada salah satu orang atau semua orang yang tenggelam itu, karena Kucil adalah nama yang harus ditemukan, dan narasumber terakuratnya adalah mereka. Teman-temannya.

Kaki Khara yang sempoyongan akhirnya berhenti di Suara Karang, ruang terbuka yang berisi kaset, emblem, piringan hitam, hingga buku yang berputar di dunia musik. Kucil ada di sana.

Khara menghampirinya, ia langsung menghampirinya namun tidak tahu harus berbuat apa. Kucil tidak menyadari kedatangan Khara. Namun pada akhirnya Khara membuka suara, “Ibuku sedang masak.”

Kucil memutar badannya ke belakang dan menemukan Khara yang sedang menutupi wajahnya dengan jemarinya. Ia malu. Entah pikiran apa yang ada di dalam otaknya sehingga bicara tentang kekonyolan kalimat pembuka yang baru saja diucapkan.

Kedua tangan Kucil yang sedang membuka buku itu langsung menutupnya, “Oh, sori, tapi aku tidak bisa masak.”

Mendengar itu, Khara langsung menurunkan jemarinya dengan cepat dan menjadi salah tingkah.

“Maaf, aku tidak bisa membantu ibumu. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa masak,” lanjut Kucil terbata-bata sambil mengembalikan bukunya yang ia baca ke dalam rak kayu yang sudah rapuh. “Apa ada pekerjaan lain yang bisa kubantu?” tanya Kucil serius sambil tersenyum kaku.

Sebenarnya Khara tidak kuat menahan tawa karena kesalah pahaman yang terjadi, namun tidak memungkinkan untuknya tertawa karena ia telah berbuat kesalahan fatal di kejadian sore tadi.

“Ah, tidak perlu..” jawab Khara sambil cengengesan.

Kucil ikut cengengesan sambil menggaruk-garuk pipinya yang entah mengapa seperti memanas, “Maaf, Khara. Aku memang payah.”

Khara menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil mengibas-ibaskan tangannya tanda itu tidak terlalu menjadi masalah, “Tidak ada yang payah. Ya, kau berada di sini, di ruang musik. Tidak ada orang payah yang masuk ke sini. Kau suka musik?” akhirnya Khara membuka topik pembicaraan.

“Oh, ini.. Iya, semua orang menyukai musik, bukan?” jawab Kucil yang masih terbata-bata. “Sekalipun ia tuna rungu, namun ia bisa merasakan getarannya. Menakjubkan.”

Khara manggut-manggut terpukau dengan jawaban Kucil yang sederhana namun ia mendapatkan sesuatu di sana.

“Kau tidak ke Pasir Bunga? Teman-temanmu semuanya di sana..” tanya Khara yang sudah mulai santai. Di tiap ruang terbuka, ada plang kayu yang bertuliskan nama-nama sebutannya, sehingga semua orang baru pun bisa langsung tahu nama daerah tersebut.

Karena melihat Khara mulai santai, akhirnya Kucil pun ikut menyantaikan diri. “Ah, ya, banyak perempuan cantik di sana,” Kucil tertawa kecil kemudian tersenyum manis.

Khara terdiam sejenak. Mencerna senyuman yang barusan dilihatnya.

Melihat Khara yang terdiam, Kucil menjadi salah tingkah, cepat-cepat ia mengoreksi kalimatnya, “Ah, maksudku.. bukan maksudku melecehkan atau apa.. tapi teman-temanku kan lelaki, mereka pasti senang melihat lawan jenisnya. Kami semua hampir mati. Ya, kumpulan lelaki yang hampir mati tenggelam. Apalagi yang membuat kami bahagia selain masih hidup dan bertemu perempuan.. Iya, bukan? Dan, dan, aku di sini bukan berarti aku tidak suka perempuan. Hahaha. Aku hanya sedang mampir. Hehehe..”

Melihat Kucil yang seperti itu membuat Khara tertawa lucu. Kucil pun ikut tertawa. Ikut menertawakan dirinya sendiri.

“Ya sudah, ayo kita ke sana!” ajak Khara riang sambil meraih tangan Kucil untuk bergegas pergi dari ruang Suara Karang. Namun dengan cepat Kucil menarik tangannya dari genggaman Khara, dan itu membuat Khara kaget dan berbalik, “Untuk apa? Kau kan juga perempuan. Dan kau ada di sini.”

Entah apa yang dipikirkan oleh Kucil sehingga memerah padamkan wajah Khara walaupun saat itu malam gelap yang hanya disinari oleh lampu ruang Suara Karang menampilkan itu semua. Kucil menggaruk-garuk pipinya yang terbakar kembali. Dan kepala Khara pun ikut-ikutan gatal. Mereka cengengesan. Menjawab semuanya.

Semuanya bersenang-senang saat itu. Sampai pada akhirnya Khara harus pergi ke pegunungan. Melanjutkan studinya. Khara bersedih, karena tidak terasa tiga hari terlewati di pantai bersama Kucil dan teman-temannya. Mereka menghabiskan waktu sambil bernyanyi, berenang, membuat api unggun, memanjat pohon kelapa, dan hal yang paling disukai Khara adalah: Bernostalgia.

Menceritakan masa-masa yang terlewati, dahulu menyedihkan namun sekarang amatlah lucu ketika semua peristiwa diputar kembali dalam waktu yang singkat. Khara belajar banyak hal sederhana dari mereka, orang-orang yang larut dalam masa lalu namun tak pernah meninggalkan pandangannya dari masa kini dan masa depan yang akan mereka hadapi. Khara kembali kuat dan menjadi semangat ketika harus berangkat pergi ke pegunungan, walaupun harus meninggalkan seorang kerbau yang menyita pikirannya. Kucil.

“Yah.. seperti apa yang kau katakan, kan? Melanjutkan hari ini, karena waktu tidak pernah berhenti di sini walaupun kita membicarakan masa lalu,” Khara merangkul pundak Kucil. Mereka sudah akrab setelah saling memaafkan satu sama lain tentang kejadian saat sore lalu.

Kucil tersenyum, walaupun terlihat tidak tersenyum sepenuhnya. Ia merasa Khara adalah salah satu wanita kerbau yang menyita senyumnya.

“Kau melupakan satu kalimat lagi, Khara..”

“Apa?” Khara melepas rangkulannya, “Ah, ah! Ah, ya! Aku ingat!”

Kucil tertawa kecil, “Apa?”

“Tidak ada yang lebih sulit dari memutar waktu, dan tidak ada yang lebih mudah dari bernostalgia! Hahaha!” Khara tertawa riang seperti telah berhasil menjawab pertanyaan kuis.

Kucil menjambak kecil poni Khara yang menutupi dahinya, “He, ingatanmu hebat, ya?”

“Ya, kaupun harusnya mengingat sesuatu dariku!”

“Hahaha, banyak sekali yang harus kuingat tentangmu, Khar..”

“He, kau memotong namaku, Cil,” Khara tertawa, “Namamu lucu sekali.”

“Katanya namaku lemah?”

Khara berhenti tertawa lalu meraih kedua tangan Kucil, “Oke, dengar.. Aku tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Aku benar-benar minta maaf. Karena saat itu kau orang asing. Aku bebas mengatakan apapun itu ten—”

“Seharusnya tidak bisa. Kau tidak bebas mengatakan apapun..”

“Ya, aku belajar dari sana, aku harus tahu perasaan orang lain. Karena kalau aku jadi kau, aku pun akan merasa tersinggung,” Khara melepaskan genggamannya karena Kucil yang mencoba melepaskannya terlebih dulu. “Kucil?”

“Ya?” Kucil melipat kedua tangannya di dadanya. Ia melihat ke arah yang berlawanan dari mata Khara.

“Di pantai ini aku ikut studi kemah, dan sebelum kau datang ke sini, di sana aku belajar banyak hal. Banyak orang memilih meneriakkan kekesalan, tangisan, kebahagiaan, hingga harapannya pada langit yang luas. Mereka yang pergi ke pantai, menyendiri untuk sekedar mencari udara segar atau bahkan memang itu tujuan mereka ke sini, yaitu menyendiri. Mungkin aku bisa mengatakan ini padamu..”

Kucil memusatkan kembali matanya ke arah Khara dengan serius sekaligus sedih.

“Ketika manusia dikucilkan di dunianya sendiri, ia hanya butuh harapan sebelum mulai bangun kembali..”

Kucil terperangah menelan ludah mendengar kalimat Khara yang menusuk relung kalbunya. Nafasnya menjadi cepat. Entah mengapa kedua mata Khara mulai berkaca-kaca.

“Jujur, aku tidak tahu apakah aku bisa bertarung dengan kumpulan manusia harimau di sana atau tidak. Tapi studi kemahku di sini mengingatkan bahwa kau tidak perlu bermusuhan jika yang kau butuhkan hanya pertemanan,” Khara menghela nafasnya yang berat. Ia berharap nafasnya lebih ringan sekarang, “Kurasa aku hanya butuh teman di sana agar aku merasa nyaman. Aku hanya butuh harapan tentang aku masih bisa menjalin pertemanan di sana, bukan persaingan.”

Senyum Khara membuat Kucil tergerakkan untuk memeluknya. Akan tetapi, Kucil tidak berhak untuk itu. Walaupun mereka seperti sudah terikatkan, mereka tetaplah akan berpisah dan tidak ada pertemuan kembali. Terlalu singkat waktu yang dihabiskan bila harus saling membuat janji.

“Harapan itu perlu. Semua makhluk hidup berhak untuk memiliki harapan. Di luar akan terjadi atau tidak, yang terpenting adalah harapan membuat segalanya lebih mudah di dalam hati dan pikiran. Aku tahu medan pegunungan itu terjal, dan aku berharap aku bisa melewatinya.. karena aku tidak bisa berharap tentang gunung yang meletus dan aku tidak jadi pergi ke sana. Ya, kan?”

“Ya.. itu terlalu menghancurkan harapan orang banyak..” akhirnya Kucil membuka suara setelah ia hanyut dengan semua kalimat Khara.

Harap mengangguk sambil tersenyum, “Lalu apa harapanmu?”

Kucil terdiam kemudian matanya tidak beraturan sambil tertawa kecil. Tidak menjawab apapun.

Seperti dapat membaca isi otak Kucil, Khara bertanya, “Kau tidak mau berharap kita bisa bertemu kembali?”









-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
All rights reserved.
2013 © Aulia Vidyarini

Senin, 15 Juli 2013

Episode: "Tidur Siang"


Siang ini tidak panas. Tidak seperti biasanya. Anginnya semilir menembus jendela yang terbuka lebar. Mungkin karena hari ini hari Sabtu, yang siap-siap akan menyapa kehadiran muda-mudi untuk bertemu di mana pun. Keluarga yang berkumpul di mana pun juga. Hari yang dianggap sebuah perjumpaan untuk menghabiskan waktu hingga Minggu mencium kening, menyadarkan pagi yang cerah. Menyandarkan mata yang lelah.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
All rights reserved.
2013 © Aulia Vidyarini

Episode: "Makan Malam di Taman Buku"

Makan Malam di Taman Buku
Ada satu taman kecil yang dulu sering dikunjungi oleh Harap. Mungkin di saat umur lima tahun. Harap memberi nama tempat tersebut dengan sebutan Taman Buku. Sebenarnya di sana tidak ada toko peminjaman atau jual beli buku, hanya saja nama Taman Buku tercetus karena kenangannya.

Kali pertama Harap memiliki buku cerita. Buku cerita yang ditemukan. Bukan komik, cergam, maupun novel. Diary. Ya, buku harian milik seseorang yang tertinggal di taman tersebut. Oleh karena itu, Harap ingin mengunjungi tempat itu lagi.

“Kau tidak mengajakku?” Kucil berkacak pinggang mendengar Harap pamit pergi ke sana.

“Kau yakin tidak akan mengacau?”

Kucil mengernyitkan dahi, “He, memangnya kau mau ngapain?”

“Kau protes tapi kau tidak tahu protes akan apa?” Harap memasang wajah datar, sambil memasangkan syal di lehernya. Ini sudah malam.

“Ini sudah malam lho, Har,” Kucil menyalakan rokoknya.

“Kalau sudah malam memangnya harus merokok?” Harap memakai sepatunya. Sepatu baru yang sudah seminggu lalu dibelikan Kucil. Menggantikan rasa bersalah Kucil telah merusakkan sepatu kesayangan Harap.

Kucil melihat rokoknya dalam-dalam, “Ya, nggak sih..” lalu mematikan rokoknya yang masih panjang itu di asbak. “Terus?”

“Ya kalau kau mau ikut, kau yakin pakai celana gemes gitu?” Harap tidak kuat menahan tawanya.

“Hahaha! Memangnya aku menggemaskan ya, Har?” Kucil malu-malu.

Harap sama sekali tidak menjawab pertanyaan polos Kucil, membuat Kucil segera lari ke kamarnya di lantai dua. Ganti baju.

Malam ini terasa dingin. Sudah lama Kucil dan Harap tidak pergi makan bersama di luar rumah. Ya, memang mereka bukan pergi untuk makan malam. Tapi kemungkinan besar mereka akan makan angin malam karena angin lumayan berhembus kencang di sela-sela tubuh mereka dan penjaga malam lainnya.

“Kau tiba-tiba teringat kenangan masa lalu ya, Har?” Kucil terlihat kedinginan. Kepalan jemarinya masuk saku jaket. Jaket hitam pemberian Harap. Jaket hitam Harap pemberian ayahnya.

Harap berhenti berjalan, “Memangnya sebegitu lemahnya ya image-ku dimatamu?”

Kucil menoleh ke arah kirinya lalu kaget menemukan Harap sudah berhenti tiga langkah di belakangnya, “Ah, aku salah bicara ya?”

Harap masih menoleh ke arah berlawanan dari Kucil.

Kucil segera menghampirinya. “Kau tersinggung?”

Harap menoleh polos ke hadapan Kucil, “He? Aku rasa ini tamannya..”

“Demi Dead Japra!!” Kucil melotot sambil berkacak pinggang dengan cepat. Harap bingung. Akhir-akhir ini Harap sering kebingungan dengan tingkah Kucil. Bukan karena Kucil yang sangat membingungkan, melainkan memang Harap yang linglung.

“Hahahaha!” Harap tertawa tiba-tiba. “Oh, Tuhanku..”

“Kenapa, Har?” giliran Kucil yang kebingungan dengan tingkah Harap yang menjadi selalu tiba-tiba. Tiba-tiba melamun. Tiba-tiba diam. Tiba-tiba tertawa. Tiba-tiba Harap menarik tangan Kucil, “Kita cari makan saja yuk!”

“Hah? Lalu tamannya? Bukunya?”

Harap menyeringai geli, “Sepertinya aku benar-benar bermimpi tentang Taman Buku itu.”

“Apa sih, Har? Kau bicara apa sih, Har?” pelan-pelan Kucil melepaskan tangan Harap yang merangkul tangan kanannya.

Harap diam saja. Menunduk.

“Kau kenapa sih, Har? Akhir-akhir ini kau membuatku bingung.”

“Kau keberatan kalau aku membuatmu bingung?” Harap masih menunduk sambil menjentik-jentikkan kuku jarinya.

Kucil tertawa kecil agak bergetar, “Tidak masalah, Harap. Itu sama sekali tidak masalah untukku.”

Harap mendongakkan kepalanya, “Lalu apa masalahmu?”

Kucil dengan cepat memeluk Harap yang lebih pendek darinya. “Aku sedih. Aku sedih melihatmu sekarang selalu kebingungan. Aku sedih. Kau bingung. Lalu aku harus berbuat apa…........”




Makan Malam di Taman Buku (Bagian 2)
Pelayan meletakkan tisu makan di meja.

“Jadi.. ini menjadi Taman Buku kita?”

Kucil menyeruput kopi hitamnya sambil manggut-manggut. Mereka sedang mengopi dan makan es krim di kedai kopi yang sering dihampiri oleh Kucil dan teman-temannya dari The Celurits. Kucil memesan secangkir kopi hitam dan martabak pisang keju, sedangkan es krim vanilla dan es coklat dipesan Harap.

Kucil sudah bilang ketika Harap pulang nanti maka ia akan sakit perut. Malam ini lumayan dingin. Namun Harap keras kepala. Kali ini Kucil maklum. Bukan maklum karena Harap keras kepala, melainkan ia tidak ingin Harap kesal dan itu akan membuat Kucil sedih. Baru kali ini Harap bersikap sangat kekanakan. Atau mungkin, baru memunculkan sifat kekanakannya.

“Solusi terbaik untuk menjawab kebingunganmu,” Kucil menyeruput kembali kopinya lalu meletakkan cangkir berwarna coklat itu dengan hati-hati. “Jangan lupa, oke? Aku ulangi ya, karena sepertinya kau akan melupakan ini. Ketika kau bangun tidur, kau mimpi apa, maka tuliskan lah di buku yang besok akan kita beli.”

“Kau konyol! Aku pikir kau bercanda!” Harap meletakkan mangkuk es krimnya agak keras di atas meja persegi berwarna kuning gading. Sama sekali tidak hati-hati, sama seperti perkataannya.

Kucil tertawa kecil, “Ya, lebih konyol kau, Harap. Kau pergi ke tempat yang ternyata itu hanya mimpimu. Bisa-bisanya kau bicara bahwa itu terjadi di umurmu lima tahun. Kau konyol!”

“Hah?” sepertinya Harap tersinggung. “Kau mimpi bisa terbang saja bangga! Saat SD aku sudah mengalami mimpi itu!”

Kucil melotot, “Kau mengejekku, Harap! Aku, aku pernah, mimpi mmm.. mimpi.. aaaaaaaa aku grogi! Kau membuatku grogi! Aku jadi lupa semua mimpi-mimpiku!”

Harap tertawa menang. Kucil menenggak kopinya, tidak lagi menyeruput. “Sekarang kopiku habis. Gara-gara kau kopiku habis!”

Harap menggeser gelas es coklatnya ke hadapan Kucil, “Sekali-kali kau boleh lho minum es di udara dingin seperti ini.”

Kucil menyeringai kecil, “He, memangnya kau mau cebokin aku sepanjang malam, hah?”

Harap tertawa senang. Senang sekali. Hingga membuat Kucil ikut tertawa kecil sambil melihat Harap dengan tatapan yang serius.

“Gitu dong tertawa lagi..” Kucil tersenyum sangat manis.

Harap berhenti tertawa, “Kucil, senyummu manis sekali! Seperti temanmu yang waktu itu berkunjung ke rumah.”

“Hah?” Kucil mengernyitkan dahi. “Maksudmu Bangsa?”

“Ya, Bangsa. Nama yang bagus.”

“Ya, bagus. Entah mengapa orangtuaku menamai Kucil padaku..”

“Kau harus mensyukurinya, Kucil..”

“Ya, aku mensyukuri. Karena mungkin kalau namaku Bangsa, aku tidak akan bertemu denganmu.”

“Tapi nyatanya aku pernah bertemu dengan Bangsa,” Harap menancapkan garpu di potongan martabak pisang keju dari piring Kucil lalu melahapnya.

“Tapi kau tidak hidup dengan Bangsa, kan?” Kucil menyeruput kopinya yang sudah habis. Akhirnya ia minum es coklat Harap.

“Kau tidak tak—” Harap mesam-mesem hingga kesulitan menelan potongan martabak yang sedang dikunyahnya, “kau tidak takut sakit perut?”

“Aku lebih takut kau hidup dengan Bangsa.”

Harap tersedak.




--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
All rights reserved.
2013 © Aulia Vidyarini

Sabtu, 13 Juli 2013

Episode: "Tentang Surat Persahabatan"

Tentang Surat Persahabatan

Tadi pagi Harap menemukan secarik surat saat pulang dari minimarket. Ia memutuskan untuk mengambilnya karena surat tersebut terlihat menarik pada warna sampul kertasnya. Magenta. Harap langsung mengira pasti surat itu dari seorang wanita.

Benar adanya.

“Cil, aku tadi menemukan surat dan aku belum membaca isinya,” Harap menaruh satu kaleng soda dan satu botol besar jus buah aneka rasa.

Kucil yang sedang menuruni anak tangga akhirnya sampai di lantai bawah. Ia baru selesai mandi. Harap sangat menyukai aroma Kucil yang baru mandi. Segarnya melebihi dari kesegaran pagi di kolam renang.

Harap sedang di dapur memilah-milah belanjaannya. Kucil masih mengusap-usap rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih.

“Kau tadi bilang apa?” tanya Kucil sambil menghampiri Harap.

Harap menoleh ke kanan ke arah suara Kucil lalu tersenyum lebar melihat Kucil sudah mandi, “Segarnya!”

Kucil agak melongo, “Hah? Kayaknya tadi kau bicara panjang, kan?”

Harap tertawa, “Ooh.. itu lho tadi aku menemukan surat tapi b—”

“Kau beli apa?” tanya Kucil memotong penjelasan Harap yang masih setengah. Kucil celingak-celinguk ke dalam kantong putih hasil belanjaan Harap.

Wajah Harap datar, “Lupakan aku membeli apa, karena kau bisa melihatnya sendiri.” Harap memperlihatkan surat tersebut, “Dan kau bisa lihat ini? Ini surat.”

Wajah Kucil cuek, “Surat apa? Surat untukku? Kenapa warnanya perempuan sekali?”

Harap berdeham memulai penjelasan tentang surat tersebut. Setelah mendengarnya, Kucil berkata bahwa terlalu lancang bila membacanya, karena bisa saja itu sangat rahasia. Namun Harap bersikeras untuk izin membacanya karena insting wanitanya mulai berjalan. Kucil menyerah. Ia takluk pada wanita yang memohon. Namun ia takkan takluk pada wanita yang memohon Kucil untuk memakai kerudung. Ya, untuk apa juga.

Mereka sudah ada di balkon. Duduk di sana atas permintaan Kucil karena siang ini begitu panas. Ya, ini pukul 12.47, Kucil yang bangun kesiangan.

Harap membuka kertas itu hati-hati. Surat itu dilipat menjadi bentuk rumah. Rumah yang sederhana. Kertas tekstur sulur-sulur yang indah itu berwarna magenta. Salah satu warna kesukaan Harap. Mungkin karenanya Harap tertarik memungut surat tersebut. Harap mengetahui bahwa kertas origami rumah itu adalah surat karena di sisi belakangnya tertera tulisan: Untuk Sahabat-sahabatku.

Kertas itu telah terbuka sempurna, ternyata bukan tulisan tangan, melainkan tulisan digital menggunakan komputer. Harap menghela nafas.

Kucil yang sedari tadi memperhatikan jemari Harap membuka surat tersebut melirik ke arah wajah Harap, “Kenapa kau menghela nafas? Memangnya membuka kertas origami saja begitu melelahkan?”

Harap menggeleng kepala pelan, “Bukan tulisan tangan. Mungkin akan lebih dramatis bila ditulis tangan.”

Kucil tertawa kecil, “Memangnya kau tahu dari mana surat itu akan bernuansa dramatis? Bisa saja itu surat untuk temannya minta tolong belikan pulsa!”

Harap menempeleng pelan kepala Kucil menggunakan kertas tersebut, “Jangan sembarangan! Kau baca judul cerita ini, tidak?”

“Tentang Surat Persahabatan? Oke, oke.. Harap sensitif dengan kata persahabatan~” Kucil cekikikan menggoda Harap yang sama sekali tidak merubah wajah seriusnya. “Ya, ya, ya.. bacakan suratnya.”

“Tanggal 29 Maret? Suratnya belum sampai di tempatnya, Cil.. Sekarang kan masih Februari.”

“Kan bisa saja 29 Maret 2012 lalu. Lagipula kenapa harus menganalisis dahulu sih? Bacakan saja dengan tenang kan lebih baik,” Kucil mulai sewot.

Harap mulai membaca.

Ternyata membaca dalam hati.

Kucil mengguncang-guncang bahu Harap dengan gemas, “Baaaacaaaakaaaaann!! Bukan baca di dalam hati haaaaaaaaaaahh!!”

Harap tertawa terbahak-bahak, “Hahahaha! Maafkan aku, aku terbawa suasana! Hahaha!”

Setelah kurang lebih lima menit berlalu mereka bertengkar lucu, pada akhirnya berhenti juga. Harap kembali melanjutkan membaca suratnya. Oh, ya, tentu saja tidak dalam hati. Karena kalau tidak, Kucil berjanji akan tidur siang sampai pukul tujuh belas!

“Hai, teman-teman. Lama tak jumpa. Ya, kalian terlalu sibuk. Atau mungkin aku yang tidak siap kalau kalian sibuk?” Entah Harap berhenti di sana. Ia terdiam, dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia seperti membaca kembali apa yang telah ia tuliskan.

“Harap?” Kucil menyelidiki wajah Harap. “Kumohon, Harap, jangan mengatakan hal yang akan menakjubkanku.”

Kucil sepertinya benar-benar mengetahui isi otak Harap hingga ke akar-akarnya. Harap hanya menunduk dan akhirnya menetes juga air dari matanya yang terpejam perih. Deras.

Tidak ada yang lebih membingungkan seorang pria selain melihat wanitanya menangis. Kucil memeluk Harap. Erat.


Tentang Surat Persahabatan (Bagian Akhir)

“Waktu itu.. malam hari. Mungkin kau sudah tidur. Tiba-tiba aku teringat teman-teman sekolahku dulu. Sebenarnya aku tidak ingin menulis surat, karena aku tahu, itu tidak akan pernah terkirim. Aku takut akan merusak suasana yang ada.”

“Kenapa kau tak bangunkan aku? Kau bisa bicara denganku, kan? Kau menganggapku kan di rumah ini?”

“A-aku tak maksud untuk tidak menganggapmu, Kucil.. Demi Tuhan.. Aku menangis hebat saat itu, kepalaku pusing. Aku tidak terpikirkan apa-apa selain bicara dengan layar komputer. Aku mengetik semuanya. Aku takut kehilangan mereka..”

“Teman-temanmu yang tidak peduli denganmu itu, hah?”

“Bukan.. Teman-teman yang lain. Saat aku ikut studi kemah di pegunungan.”

“Kau kan tak suka pegunungan?”

“Ya. Aku ikut studi kemah itu hanya ingin masuk kelas pantai saja. Setelahnya aku tak ingin ikut. Tapi entah mengapa aku lolos ke tingkat selanjutnya, yaitu pegunungan. Di sana orang-orang hebat. Aku tidak terlalu suka. Mereka orang-orang yang sekelas dengan hewan harimau.”

“Berapa kali harus kubilang bahwa kau hebat, Harap. Kau bukan kerbau yang payah!”

“Ya. Seberapapun hebatnya aku, aku tetaplah seorang kerbau. Mereka adalah harimau. Mereka tidak takut akan kerasnya hidup.”

“Kau pun!”

“Ya! Aku hebat! Aku hebat bila dihadapanmu, Kucil! Di depan mereka aku hancur! Aku dikoyak habis!”

“Kau kan tidak perlu ikut melanjutkannya, kan?”

“Mana bisa, Kucil? Ayahku tahu aku ikut studi kemah itu. Ayahku tahu aku lolos ke tingkat selanjutnya. Aku rasa ayahku pun berharap aku masuk ke kelas awan!”

“Kau masuk?”

“Tidak. Aku kembali ke pantai.”

“Apa kata ayahmu?”

“Aku tidak tahu ayahku sebenarnya mengatakan apa, tapi aku yakin ucapan yang keluar dari mulutnya sudah dikondisikan oleh ibuku. Katanya, aku diberikan jalan untuk melakukan apa yang aku suka. Namun harus disertai dengan tanggung jawab yang penuh. Maka, aku kembali ke pantai. Akhirnya mereka bangga padaku. Aku membangun rumah pantai ini dengan cintaku.”

“Sudah kubilang kan kalau kau hebat?”

“Sudah kubilang kan kalau teman-temanku harimau?”

“Lalu bagaimana kalian bisa berteman?”

“Hhh.. ceritanya panjang sekali. Yang jelas, aku takjub kami bisa bersatu. Mungkin benar adanya, perbedaan lah yang pada akhirnya akan menyatukan.”

“Ceritakan lah..”

“Kami bertemu pada pertemuan yang konyol. Saat itu kami masih labil. Sibuk bersenang-senang. Kupikir kami akan senang-senang selamanya. Menghamburkan uang, menghamburkan tawa. Utang sana, utang sini. Kami sangat bersenang-senang, sampai pada akhirnya kami harus melambaikan tangan kepada satu sama lain. Dua orang di antaranya naik ke awan, satu ke pegunungan, satunya lagi tak ada kabar seperti ditelan kawah, dan kabar terakhir aku kembali ke pantai.”

“Apa masalahnya hingga kau teramat sedih mengingat mereka?”

“Hahaha.. entahlah. Mungkin karena waktu aku mengetahui kabar mereka dalam keadaan sudah memiliki catatan sejarah di tempatnya masing-masing, aku masih membangun rumah pantai ini. Sebenarnya aku bisa menyelesaikannya tepat waktu, tapi aku memiliki referensi panutan yang berbeda dengan mereka. Banyak kutemukan orang-orang santai di pantai, bagaimana aku bisa meninggalkan pantai bila itu yang aku cari-cari selama ini?”

“Ya, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Lalu.. apa mereka tidak mengertinya?”

“Bukan itu masalahnya.. Kami sudah saling mengerti satu sama lain.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Masalahnya adalah kau.”

“Aku? Hah, aku?”

“Ya, kau, Kucil. Ingat kan, aku menemukanmu terdampar di pantai? Kau dan teman-temanmu dari The Celurits terdampar di pantai karena tenggelam saat memancing ikan? Ha-ha-ha..”

“Oh, Tuhan..”

“Ya.. Oh, Tuhan.. Demi Tuhan aku senang menemukanmu, dan teman-temanmu. Kalian seperti teman-teman masa kecilku. Menyenangkan. Kalian seperti hidup dalam dunia nostalgia, tanpa melupakan hari ini dan masa depan.”

“Ah.. berarti setelah itu ada masalah muncul dengan teman-teman studi kemahmu? Karena kami? Aku dan teman-temanku muncul di hidupmu, Harap?”

“Sebenarnya tidak ada.. Tapi karena aku tidak tahu alasan yang paling bagus untuk menolak ketika teman-temanmu mengajakku memancing ikan, yang bersamaan dengan mereka pun sama-sama mengajakku pergi ke sungai untuk memancing ikan. Tapi.. kalian membicarakan pantai.. dan mereka membicarakan awan. Mana yang kusukai? Mana? Kau tahu itu kan, Kucil? Aku menyukai pantai!”

“Kau sama sekali tak menyukai awan?”

“Aku suka awan. Aku selalu membayangkan aku ada di atas awan. Ada di antara awan dan mereka. Tapi aku hanya sebatas dataran pantai, Kucil.. Aku tidak bisa menggapai awan.. Sekalipun ada ombak pantai, orang-orang bermain di sana. Tidak seperti awan yang memiliki petir, semua orang tak ada yang ingin bersenang-senang di sana. Aku segan terhadap mereka. Tapi aku ingin ada bersama mereka..”

“Mereka tak kau ajak ke pantai?”

“Aku tidak bilang bahwa mereka tidak menyukai pantai.. Oh, Tuhan.. beruntungnya mereka. Mereka seperti lahir di atas awan, dan ada pantai di antaranya! Aku menyukai mereka, karena mereka pun menyukai pantai. Tapi mereka berbeda, mereka ada di awan, sekalinya pun turun tetap saja ada di atas gunung. Dan sebelum kau berpikir macam-macam, kutegaskan, mereka bukan penghuni kelas awan atau gunung yang sombong. Kau tahu mengapa aku takut kehilangan mereka? Karena mereka tidak seperti penghuni kelas awan dan gunung yang lainnya. Mereka menyukai semuanya..”

“Lalu.. apakah aku salah bila terus bertanya apa masalahmu?”

“Tidak.. karena aku baru menemukan masalahnya sekarang. Aku terlalu hanyut dalam buaian nostalgia pantai bersamamu dan teman-temanmu. Aku lalai tidak menjaga komunikasi dengan mereka.. aku merasa terbuang oleh mereka karena kelas kami berbeda, padahal aku yang membuang diriku sendiri..”

“Oh, Tuhan.. Mengapa seorang kerbau seperti dirimu harus merasa terbuang oleh mereka? Oke, mereka harimau dan kau kerbau, tapi.. tapi tidak ada yang salah menjadi kerbau, dan begitupun dengan harimau. Tidak ada yang salah dengan harimau dan kerbau menyatu. Karena kalian menyukai awan, gunung, dan pantai. Kalaupun ada satu di antara kalian yang tidak menyukai kesamaan kalian, lalu apakah harus berpisah?”

“…”

“Kau tahu, Harap? Aku menyukaimu. Aku menyukai hidupmu. Sedangkan beberapa temanku tidak menyukai gaya hidupmu. Mereka bertentangan denganmu. Kau yang sangat teratur. Kau yang tidak bisa santai. Kau yang selalu memikirkan semuanya. Kau yang menyelesaikan masalah-masalahku. Apakah dengan begitu mereka membenciku? Tidak! Karena kami lebih dulu disatukan sebelum aku disatukan olehmu, Harap. Kau harus menjaga yang telah bersatu. Jika memang itu harus dipisahkan, apakah harus dengan alasan kau memisahkan dirimu sendiri karena kau merasa terbuang? Tidak, Harap! Tidak!!”


Tentang Surat Persahabatan (yang Tak Pernah Berakhir)

Aku bahagia berada di pantai. Aku pun bahagia berada di awan. Aku pun bahagia berada di tengah-tengahnya.

Dahulu kita bertemu di pendakian gunung dan kalian tahu bahwa aku satu-satunya yang tidak sesak nafas di antara kalian. Karena aku menyembunyikan nafasku yang tersengal.

Kalian payah.

Kemudian sampai di puncak gunung yang tinggi. Aku melihat ke bawah tanpa rasa takut. Dan kalian melihat ke atas tanpa rasa takut.

Aku memang payah.

Tapi,

pantai, gunung, dan awan tak ada yang tak indah.

Mungkin jika kita bertemu kembali pada salah satu tempat itu,

itu karena kita menginginkannya. Selalu menginginkannya.

Menginginkan kembali ada rindu.

Karena benar apa kata orang:

Tidak ada yang lebih sulit dari memutar waktu, dan tidak ada yang lebih mudah dari bernostalgia. Rindu adalah rasa terbaik dari kata hilang.


Namun, jujur, aku tidak bermimpi keras ada di atas awan. Aku,

Pantai Khara.





“Kenapa kau menuliskan nama lengkapmu? Kenapa tidak ‘Harap’ saja? Kan lebih keren.”

“Karena ‘Harap’ baru ada di dunia, saat bertemu denganmu..”

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
All rights reserved.
2013 © Aulia Vidyarini

Rabu, 10 April 2013

Episode: Bermain


“Oke, jadi ada sembilan gulungan pilihan ya, Har,” Kucil memasukkan gulungan terakhir di toples berisi dedaunan kering dan delapan gulungan kertas lainnya.

“Ya,” Harap mengangguk.

“Jadi aku duluan ya, karena aku adalah sebagai contoh,” seringai Kucil lebar.

Harap tertawa. Kucil melempar sisa gulungan kertas yang tak terpakai ke kepala Harap.

“Dilarang tertawa! Oke!!”

“Oke!!”

Mereka sangat bersemangat, padahal sore ini mereka belum makan. Memang tidak ada jadwal makan sore. Jadi, wajar saja mereka belum makan.

Kucil mulai mengaduk tangannya di dalam toples kaca lalu mengambilnya satu gulungan kertas dengan mantap, “Seorang kepala keluarga harus mantap!”

Harap menahan tawa. Wajahnya memerah.

“Harap, ingat peraturan. Tidak boleh tertawa. Hanya boleh menangis, tidak boleh tertawa,” wajah Kucil serius minta ampun.

“Isinya.. adalah..” Kucil menggantung kalimatnya sampai ia membuka tuntas gulungan kertas yang dipilih, “Sik!”

“Jangan berisik ada yang bobok!” sahut Harap lantang.

Wajah Kucil datar lesu, “Kan aku dulu, Harap.. Kan aku yang membuka gulungannya..”

Harap tersenyum dipaksa, untuk menahan tawa.

“Jangan berisik ada yang bobok!” Kucil mengulangi kalimat Harap beserta lantangnya.

Harap melotot. Kucil membuat wajah konyol.

“Abis bobok enaknya makan mie Tasik!” Harap memejamkan matanya, “Hmm, enyak-enyak-enyak.. Nanti malam makan mie Tasik ya, Cil?”

“Heh! Nanti saja itu dibahasnya!” bentak Kucil.

“Mmm.. Tasikmalaya emang asik!”

Harap menunduk. Berpikir. “Asik adalah kata yang belum tentu asik.”

“Ahahahahaha! Apaan tuh?” Kucil tertawa. “Harap kalah! 1-0! Hahahahaha!”

“Memang benar kan perkataanku?” Harap mencoba membela diri.

“Iya benar sih, tapi kan kau gunakan kata ‘asik’ lagi,” Kucil lanjut tertawa.

“Ya udah cepet!” Harap bete.

Kucil mengambil gulungannya lagi karena ia menang.

“Lang,” Kucil kaget. “Siapa sih yang membuat ini?”

“Kau kan? Aku tak merasa membuatnya. Kenapa? Ayo!” desak Harap.

“Kucil meminta maaf pada Harap karena remote televisinya hilang..” Kucil menoleh ke arah kumpulan tanaman merambat.

“Hilang semangat rasanya bila tidak jadi pulang.”

“Pulang ke mana memangnya?”

“Ahahahaha mana boleh bertanya!” Harap tertawa menang, “Satu sama! Aku menang!”

“Ya, untuk kali ini kuizinkan kau menang. Jadi, maafkan aku ya?”

“He?”

“Kalimatku tadi itu benar..” Kucil dengan cepat bersujud di depan Harap yang bengong.

“Maksudmu.. kalimat tentang remote televisi yang.. hilang?”

Kucil diam.

“Oh, Tuhan! Memangnya kali terakhir kau taruh di mana, hah?!” Harap memegang kepala Kucil untuk bangun.

Kucil tetap bersujud, “Aku lupa. Aku lupa sekali. Sangat lupa, Harap. Maafkan aku.”

“Apa lagi yang kauhilangkan, hah? Apa lagi yang kausembunyikan dariku?”

Kucil bangun namun masih tetap duduk dengan kaki terlipat di belakang pantatnya, “He, kesannya selama ini aku banyak menghilangkan barang darimu, ya? Baru remote yang kuhilangkan. Mungkin tidak hilang, tapi entah ia bersembunyi di mana aku lupa.”

“Setelah teman-temanku hilang. Remote televisiku juga hilang..” mata Harap kosong.

“Itu tidak ada hubungannya denganku!”

“Memang..”

“Sudahlah, nanti aku ganti.”

“Kautahu kan tombol televisi sudah tidak ada yang berfungsi lagi? Televisi kita tidak akan hidup!”

“Ya.. besok kita beli remote-nya, oke?”

“Sore ini! Ada serial favoritku tayang di televisi malam ini, Kucil!”

“Katanya malam ini mau beli mie Tasik?”

“Tidak. Tidak jadi.”

“Oke, sore ini juga kita pergi ke toko elektronik ya, habis itu ke minimarket.”

“Mau apa kau ke minimarket, hah?”

“Memangnya ada pembalut di toko elektronik, hah?!” Kucil berdiri menuju kamarnya untuk ganti baju. “Dasar wanita! Rubah sana! Rubah sini! Mentalku dipermainkan terus di tiap bulannya!”

Harap bengong menatap kosong pintu kamar Kucil yang telah tertutup, “Dari mana dia tahu kalau aku sedang menstruasi?”



---
All rights reserved.
2013 © Aulia Vidyarini

Minggu, 07 April 2013

Aulia dan Orang-orang dan Lain-lain, 7

KATA HILANG.

Hai hai.. Hehehe, saya meninggalkan empat hari tidak posting. Jadi, kenapa sub judulnya tentang kehilangan gitu? Oke, saya sudah lama tidak buka Twitter. Lupa juga kalau ada makhluk dari keluarga media sosial bernama Twitter. Nggak begitu lupa sih, saya masih pakai tapi via handphone. Jadi lupa kalau Twitter itu bisa dibuka via PC. Hahahaha

Di sana saya buka menu Connect dan berisikan mentions, retweet, dan favourite. Saya baru lihat, ternyata ada banyak yang menyukainya. Entah karena setuju atau tidak sengaja menekan tombol retweet. Mehehehe. Emang banyaknya seberapa sih? Empat doang sih. Bahahaha eh, nggak ding. Nambah tiga di Facebook. Bahahaa sumpah nggak penting. Yaa, siapa yang nggak senang sih ya kalau pemikirannya direspon dengan baik :3 Miaw.

Kalimatnya itu tadinya berbunyi 'Rindu adalah rasa terbaik dari kata hilang' tapi saya ubah menjadi ada penambahan kata '(Mungkin)' di awal kalimat. Karena saya takut salah, pengalaman orang-orang kan berbeda-beda.

Kemudian saya menemukan di komentar postingan saya di Facebook hari ini, mmm nggak perlu dideskripsikan lah ya. Intinya saya mengutip kalimat dari seorang bijak tentang hidup yang menggunakan perumpaan. Memang sih perumpamaannya sederhana, tapi kalau ditelaah secara mendalam dan dikaitkan dengan kehidupan maka kalimat itu sangat bermakna. Buat saya waktu itu. Itu sangat bermakna sampai sekarang. Untuk mensyukuri segala sesuatu yang masih kita miliki. Walaupun tidak berjalan sesuai yang kita inginkan, atau tidak menghasilkan apapun yang telah kita usahakan. Di balik itu saya berpikir kembali, mungkin ini waktunya kita berhenti. Ada kalanya kita harus berhenti.

Namun, penalaran pasti kembali ke masing-masing kepala. Bagaimana cara kepala itu menghubungkan dengan kehidupannya yang telah terjadi. Mendapatkan korelasi dengan cara yang baik. Entah kenapa saat itu dada saya terasa sakit, seperti sesak, ketika si lawan bicara saya di komentar itu seperti merumitkan segala sesuatu. Saya mengakui bahwa hidup itu rumit. Hanya saja, ya Allah, saya sudah mulai masuk dalam jalan pikiran yang lebih santai. Maka dari itu, saya hanya bisa mengiyakan saja pendapatnya dengan cara lain. Karena saya juga tidak kenal orangnya. Dan untungnya percakapan itu selesai dengan kesimpulan masing-masing di kepala yang tidak ditumpahkan di sana.

Di sana saya seperti merasa hidup saya yang tahun-tahun kemarin sangat rumit menjadi muncul kembali. Saat itu saya dengan lawan bicara tersebut saya seperti telah merasakan apa yang ia katakan. Seperti de javu.

Sudah terlalu banyak waktu yang saya forsir untuk hal-hal rumit semacam itu. Hal-hal sederhana yang kian rumit. Memang, jalan pikiran pasti akan berada pada satu titik yang secara tidak langsung mengatakan latar belakang hidupnya. Mungkin ia sedang dilanda masalah atau apa saya tidak tahu. Dan saya pun tidak mau tahu. Ya, sudah terlalu banyak waktu yang saya forsir untuk orang yang tidak mengerti bagaimana dirinya sendiri.

Saya sudah kehilangan pola pikir rumit saya. Mungkin otak saya sekarang sudah menciut karena terlalu banyak menganggap penting segala hal yang tidak terlalu penting. Dan sekarang saya pelupa. Dulu saya dipercaya mengingatkan apapun oleh seseorang teman saya yang pelupa, tapi sekarang saya tidak yakin untuk itu. Saya lumayan benci dengan orang yang pelupa. Mengapa begitu mudah melupakan sesuatu? Sedangkan saya mengingatnya sepanjang waktu. Yah, mungkin ini karma.

Lalu kalau sudah menjadi seorang pelupa seperti ini apakah saya harus merumitkan segala hal yang saya lupakan? Nggak, demi apapun saya sudah tidak butuh itu, saya hanya butuh orang yang sederhana, jalan yang lebih sederhana, menghela nafas yang sangat melegakan. Ya, saya hanya butuh itu selain jalan Tuhan.

Sekarang saya hanya akan menjalani semua hal yang dulu saya takuti. Bermimpi.

Bermimpi tentang saya bisa menjadi orang yang sederhana. Kembali memiliki tata krama dalam menjalani hidup. Saya hanya ingin menjadi orang yang baik. Saya sudah kehilangan kesempatan untuk menjadi orang yang berguna. Membanggakan. Saya sudah kehilangan itu. Dan semua itu akan muncul kembali jika saya bermimpi. Bermimpi dan berusaha menjadi orang baik. Seperti langit yang biru. Menenangkan..

Sudah tidak ada waktu lagi untuk melakukan rekap tentang saya kehilangan apa saja. Sekarang hanya ada waktu untuk mensyukuri saya masih memiliki keluarga dan teman-teman baik. Dan waktu untuk berusaha melakukan yang terbaik. Selagi bisa. Ya, sudah tidak ada waktu untuk membeli bergulung-gulung tisu untuk menahan air yang jatuh dari mata. Yah... walaupun menangis itu berguna ketika tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk melegakan segalanya. Pria, cobalah itu sesekali. Haha

Ketika merasa terlalu banyak kehilangan dalam satuan waktu yang sangat cepat, apalagi yang harus saya lakukan selain cepat-cepat mengambil hikmah dari itu semua? Ya, saya mengambil hikmahnya dan benar-benar merasakan, ada kalanya manusia harus berhenti.

Beberapa teman saya pun mengalami itu. Ada yang kehilangan orang yang disayangi, dipercaya. Ada pun yang kehilangan predikat pengganggurannya. Ya, teman saya diterima kerja di ibukota. Saya terharu sekali. Allah memberikan macam-macam pembelajaran lewat orang-orang di sekitar saya. Dan saya bisa siap lebih dari yang saya kira.

Akan tetapi, memang tidak bisa dipungkiri, pola pikir sudah tidak seperti dulu lagi. Banyak yang berubah. Banyak yang berlari, berjalan, ataupun berdiam diri. Dan saya harus memilih. Kami harus memilih. Dan kita pun.

Yah, segitu aja dulu deh. Mata saya sudah membawa ke kanan, ke kiri, kanan lagi, malah jadi ke atas bawah, muter-muter. Sudah kehilangan fokus. Maklum mata saya minus. Hehehe

Oh, ya, ini bukan artikel loh ya. Ini curhat. Saya sadar saya perlu curhat. Tapi kalau curhat ke teman, malahan nggak akan bisa. Mungkin karena tatap-tatapan dan malah jadi mengeluh. Jadi malu. Hoho. Dan supaya saya punya timeline juga. You know kan, saya sudah kehilangan ingatan.

Oke deh. Saya tersenyum. Dan harus tersenyum. Selamat mencari hikmah.

- Aulia

Episode: Nonton Bioskop di Tengah Hujan


“Kau tahu tidak, Har, bioskop ini khusus dibuat untuk kita,” Kucil mengunyah jagung bakar yang telah menyatu dengan saus asam manis.

Harap sibuk melihat ke depan dengan mata yang terbuka lebar tanpa menghiraukan ucapan Kucil.

“Dan kau tahu tidak, baru kali ini aku nonton di bioskop dengan suara hujan yang bocor. Payah. Temboknya tidak kedap suara,” Kucil meraba meja di sampingnya, mencari gelas besarnya yang berisi air putih. “Baru kali ini aku ingin tidur di bioskop. Untung ada jagung bakar.”

Harap sepertinya tertidur.

Kucil mencari telinga Harap, “Dasar orang kaya! Di bioskop malah tidur!”

Harap sama sekali tidak marah. Ia benar-benar tertidur.

Ada orang yang baru masuk ke bioskop.

“Har, kayaknya bioskop ini tidak jadi khusus dibuat untuk kita. Ada yang masuk lagi selain kita,” Kucil menyalakan senter yang dikalungkan di lehernya. Ia menyorot penonton yang baru masuk.

“Kau lama sekali, Har! Memangnya beli lilin di mana sih?!”

“Semuanya habis, Kucil,” Harap mengunci pintu depan rumah.

Kucil menyenteri kaki Harap menuju langkahnya ke arah kursi yang ia duduki.

“Kau mau jagung bakar?”

Harap merebut dengan pelan senter yang dipegang Kucil, “Oh, Tuhan.. Mainan Manggani mana lagi yang kausembunyikan darinya, hah?”

Kucil mengambil kembali senternya dengan cepat, “Sssssttt! Jangan berisik, Harap! Nanti kau mengganggu Harap yang sedang nonton!” Kucil menerangi Harap yang berada di kursi sebelahnya, lalu ke arah yang masih berdiri di depannya.

Harap tidak bisa menahan tawa, “Besok kau harus mengembalikan boneka dan jagung-jagungan Manggani.”

Kucil tertawa, “Aku tidak menyembunyikannya, Har. Manggani yang sengaja meninggalkannya di sini.”

“Sengaja?” Harap mencoba mengambil boneka itu dan duduk menggantikannya.

“Waktu kau pergi sangat lama. Manggani membawa boneka itu ke sini dan tak pernah membawanya pulang lagi,” Kucil menaikkan kakinya ke atas kursi. “Hahaha, mungkin agar aku tidak kesepian.”

“Dan tidak kelaparan dengan membawa jagung-jagungan untukmu?”

Kucil tertawa lepas, “Ya! Ada apel-apelan juga di kulkas.”

Harap pun ikut tertawa, “Sial. Waktu itu aku hampir tertipu mau memakan apel itu.” Harap duduk menyandar kursi kelelahan karena mencari lilin di warung-warung yang ternyata sudah diborong oleh orang-orang.

Harap menghela nafas, “Lalu sekarang kita ada di mana?”

“Di bioskop,” Kucil makin erat merengkuh dengkul sampai kakinya yang ia naikkan ke atas kursi. “Tapi kau boleh tidur kok, bioskop ini gratis. Dan juga dingin. AC-nya kencang sekali.”

“Bawalah selimut. Kurasa hujannya akan awet sampai dini hari.”

“Mana ada orang nonton bioskop sambil bawa-bawa selimut!”

Harap tersenyum yang tidak akan terlihat oleh Kucil, “Jangan berlebihan. Aku tidak mau melihat demam-mu masih ada saat listrik sudah menyala lagi.”


---
All rights reserved.
2013 © Aulia Vidyarini

Selasa, 02 April 2013

Aulia dan Orang-orang dan Lain-lain, 2

ABAIKAN.

Welcome back! Back back back! Kenapa diulang-ulang gitu sih? Itu ceritanya echo gitu. Bener gak sih echo? He'eh lah he'eh.

Okey. Hari ini hari Selasa. Baik kan saya memberitahu kalian nama dari hari ini. Selasa tanggal 2 April 2013, banyak yang dipetik dari hari ini kalau mau memilahnya sih. Sayangnya saya sedang tidak ingin memilahnya. Yah, berikan nafas sejenak. Mungkin di hari Rabu akan memperbaiki segalanya.

Tadi saya tidur siang lho. Tidur sore sih. Untung beli bantal baru. Kalau nggak kan saya nggak bakal tidur sore. Hem.

Pagi tadi saya bangun dalam keadaan belum mandi. Oke, karena saya tidur di dini hari. Saya tidak mandi di dini hari. Maaf ya kalau saya agak menyebalkan. Mungkin sangat.

Kalau kalian tahu, saya dan teman-teman kuliah siang tadi pergi ke bandara. Gayanya sih kayak mau liburan. Nggak juga ding. Yah, tapi lagak jalannya kayak mau liburan aja gitu. Nggak kok, kami ke bandara mau mengantar salah satu teman baik saya yang pernah saya ceritakan di posting ke-1. Yoi, dia berangkat bersama keluarganya kembali ke tanah kelahiran.

Banyak sih, banyak banget yang mau saya bicarakan. Tapi apa daya, daya apa ya apa daya apa sih. Begitulah. Kalimat selamat jalan yang mungkin berharap menjadi sampai jumpa lagi. Hiks. Cemungut kakaaa~ Alay luh! Lu yang alay! Enak aja, elu lah! Ya iyalah saya!

Nanti aja lah saya ceritakan lagi. Karena banyak juga pembelajaran-pembelajaran baru yang saya amati di hari tadi bersama teman-teman saat makan siang. Walaupun kalian tahu lah ya, saya sedikit bicara. Mungkin saya akan menyebut tahun ini sebagai My Ears Year. Kenapa? Nanti aja lah ya saya ceritakan. Saya cuma mau mencatatnya saja. Kali-kali yang baca ini nanti mengingatkan saya untuk menceritakannya. Yep, itulah gunanya saya membuat ini.

Oke deh, saya harus kembali mengkoreksi hasil revisi proposal skripsi saya untuk dikumpulkan di esok hari. Saya mau posting yang belum sempat saya posting aja dari tahun lalu. Nggak tahun lalu banget sih.. akhir tahun kemarin gitu. Hahaha sebenernya nggak terlalu penting juga saya posting. Tapi buat seneng-seneng aja gitu. Kali-kali nyiprat ke yang baca, hahaha tapi nggak lucu sih jadi jangan terlalu berharap. Ya udah sih cepetan! Banyak cingcong! Iye iye..


Nah, itu yang mau saya share. Hahaha. Gitu doang? Ya udah sih kenapa memangnya nggak boleh? Boleh kok. Jadi ternyata tanpa disadari saya itu suka bersenandung. Ya biasa sih ya, cuman ternyata saya ingat-ingat itu nggak ada lagunya. Ho'oh, karena itu saya suka menghafal irama yang saya senandungkan, kemudian dibuat liriknya. Walaupun kebanyakan jadi lupa lagi. Ya maklum lah ya keseringannya itu terlahir di kamar mandi. Hahahaha

Nah (lagi), sesuai sub judul yang saya cantumkan di atas, maka abaikan lah oke. Itu bukan apa-apa kok. Tapi apa-apa sih. Lagu itu tercipta waktu saya lagi labil tingkat dewi kuan in. Gitu gak sih nulisnya? Gatau. Oh ya udah kalau nggak tau, berarti kita kompak.

Maklum lah umur-umur lagi diambang labilnya remaja campur aduk sama dewasanya angka 2. Yah, walaupun kedewasaan nggak diukur dari umur, tapi angkanya pasti menjadi patokan kita atau orang lain untuk menentukan kita harus mulai mendewasakan diri. Prok prok prok. Ada Pak Tarno? Bukan kok. Oh, ya udah kalau gitu.

There is a lot of symbols. Begitulah singkatnya, kalau mau panjangnya mah nanti yah. Saya harus mengoreksi revisian nih biar lancar oke. Doakan ya. Kita saling mendoakan. Indah nggak sih bacanya? Kok diem? Malah terharu! Ya gapapa sih.

Segitu aja dulu yah untuk hari Selasa-nya. Eh, udah lama saya nggak makan kacang atom. Jadi inget teman saya tadi nggak mau makan itu, gara-gara takut jerawatan. Hahaha jadi inget (lagi) saya pernah twit: "Katanya makan kacang bikin jerawatan? Yang bikin jerawatan tuh bukan kacang, tapi kamu!"

Hahahahaaaa lengkap dengan hashtag 'eaaaaaa'. Hahahaha wokwokwok saya lagi seneng pake ketawa 'wokwokwok' gitu hahahaha lucu aja gitu berasa bimoli. Bibir monyong lima centi. Singkatan jaman SD. Hufet.

Selamat menjelang pukul dua puluh tiga malam. See ya!

- Aulia





Senin, 01 April 2013

Aulia dan Orang-orang dan Lain-lain, 1

OPENING.

Halo, April! Apa kabar? Oh, ya, baik-baik. Kamu gimana? Mmm.. agak sedih.

Oke, tanggal 1 April ini menjadi awalan yang saya tunggu-tunggu dari hari yang lalu-lalu. Yaitu, saya memulai jurnal online di blog. Awal niatan ini muncul karena entah mengapa ingatan saya agak bapuk. You know bapuk? Bapuk is seperti kacrut. Nggak tau kacrut juga? Ya, sudahlah, tidak masalah. Yang bermasalah adalah memori otak saya yang meragukan sekarang ini. Hem.

Jadi, saya memang punya sih buku seperti diary begitu. Hahaha. Diary-nya juga bukan kayak jaman SMP gitu. Ahahaha jadi inget diary SMP saya waktu dulu kan ditinggal di rumah, terus ternyata dibaca sama adik saya. Masa dia ngetawain dong? Damn it. Padahal dia juga masih SMP. Dan nggak kalah norak. Norakan saya sih kayaknya. Ehem.

Nah, saya juga punya buku kumpulan puisi atau apalah tulisan spontan yang dirangkai dengan balutan absurd waktu awal kuliah, tahun 2008. Udah penuh bukunya. Punya lagi. Awalnya serius bikin tulisan lagi, tapi pada akhirnya lembaran yang udah terisi saya sobek dan buku itu dijadikan buat catatan kuliah. Hufet. Hufet. Kenapa hufet-nya ada dua? Karena ada satu buku lagi yang saya jadikan kayak gitu. Hahahah

Kebeneran juga saya kalau nulis di buku itu kadang ya udah aja gitu mengendap sampai banyak debu gitu. Pada akhirnya tidak mengingatkan kejadian apapun yang saya alami. Yah, semacam jurnal gitu saya mau buat sekarang. Semoga rutin sih.

Oya, kenapa di blog? Karena saya punya blog. Kalau saya punya mobil, mungkin saya publish-nya di mobil. Apasih.

Yaa, biar ada yang baca juga sih ya mungkin. Soalnya kadang suka menyesal gitu kalau ada temen lama atau baru yang nanya tentang saya atau apa gitu, tapi saya jawabnya yang seinget saya aja. Nah, pas udah lamaaaa gitu saya tuh suka nyesel gitu kenapa nggak cerita yang itu sih, misalnya. Ngerti gak sih? Ngerti dong plis.

Sepele sih. Tapi yaa itu tujuannya, agar saya tidak menganggap lalu tentang apa yang telah terjadi. Untuk menanggulangi ingatan saya yang bapuk. Udah tau arti bapuk?

Lupakan tentang bapuk.

Lebih baik ingat hari ini tentang seharian saya bersama salah satu teman dekat saya yang entah mengapa ia masih mau berteman dengan saya. Hahaha yaa berteman itu kan untuk melengkapi. Ibarat kata kalau dia lupa pake daleman, ya saya ngasih handuk buat nutupinnya. Analoginya pas nggak sih? Nggak ya? Oke, bye.

Plis jangan bye dulu, jadi dia itu udah meraih gelar sarjana. Horeeeee! Demi apapun, berasa saya yang udah lulus jadinya. Tapi plis, jangan merasa gitu dulu. Nanti jadi lupa tanggungan skripsi saya. Oke. Saya nggak jadi hilang ingatan.

Besok itu hari Selasa. Hari Selasa dia mau pulang ke kampungnya. Emang sih katanya kota, bukan kampung. Plis jangan bahas itu. Saya rasa dia bakal bilang itu. Itu yang mana? Yang itu. Apa sih? Skip.

Ke kampus legalisir ijazahnya. Ternyata penanda tangannya baru ada besok. Hahaha akhirnya nitip ke saya saja. Ah! Lupa balikin figuranya adik kelas. Dia yang lupa. Saya juga lupa sih. Padahal waktu belum berangkat ke kampus saya inget. Tapi di tengah jalan baru inget. Hem. Mungkin kalo di pinggir jalan bisa inget. What? Whatever lah, Uk!

Terusnya apa lagi ya tadi ya.. Banyak sih. Tapi sedih uy. Hahahaha

Yah, segitu aja dulu ya. Pas juga udah jam 23:11. Nggak ada hubungannya sih. Tapi males sih. Soalnya tadi saya beli bantal baru. Biar tidur saya berkualitas. Haha. Karena leher saya akhir-akhir ini agak pegel gitu.

Ah! Tadi creambath dong eykeee sama dia. Surgaaaaaa dunia! Walaupun nggak seperti yang saya idam-idamkan. Lumayan sip sih.

Hem.

Kenapa hem? Nggak, kayaknya cepet banget aja gitu.

Semoga kenang-kenangannya bermanfaat deh. Buat apapun itu. Sekedar nostalgia atau apa yaaa.. apa aja lah. Tapi kalau kenangan waktu sih itu sangat bermanfaat sekali pisan lah pokoknya mah. Proses dari labil menuju pendewasaan. Cool gak sih? Hahaha

Udah deh segini dulu, karena 28 menit lagi masuk hari Selasaaaaaaaaaa!

Oya, judulnya bakal kayak gitu terus: Aulia dan Orang-orang dan Lain-lain. Bedanya perjalanan judul di hari-nya aja. Ini kesannya kayak apa banget gak sih? Apa emang? Ya gitu. Berasa apa banget. He'eh lah kumaha ente.

Orang-orang yang saya bicarakan di sini nggak akan saya cantumkan nama, pakai nama Bunga sekalipun nggak akan saya cantumkan. Lain-lain juga untuk objek selain manusia. Misalnya, pengserut. Kenapa harus pengserut sih? Soalnya saya kebetulan lihat card reader. Lah, kan card reader, bukan pengserut. Ya, soalnya saya kira itu pengserut. Oh, gitu..

Jadi, oke yaaaaaaaa.. Semoga ini bisa dilanjut. Agar saya bisa mencintai laptop saya seperti dulu. Emangnya sekarang nggak? Rahasiaaaa~

Oke deh, semoga olah otak yang saya perjuangkan ini bisa mengalahkan perjuangan sia-sia yang saya lakukan dulu terhadap seseorang. Hufet.

Selamat tidur ya for everyone. Saya sekarang jadi sok british deh. Bahahaha maklum suka chatting sama bule. Padahal amburadul juga. Tapi katanya no problem kok. Apasih, Uk. Apa-apa dibahas deh.

Selamat tidur ya for everyone. Diulang lagi ya. Soalnya tadi banyak cingcong. Oke, sekarang juga masih banyak cingcong. Hufet.

Oh, ya!! Salah satu teman baik saya yang lainnya hari ini berulang tahun. Yang ke-biarsajadiajawabsendiri. Bahahahaha


Happy birthday, darling. XOXO

Oke, selamat tidur ya for everyone :)

- Aulia.