Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku
Tampilkan postingan dengan label entahlah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label entahlah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2013

Kumpulan Jalan No.1

JALAN-JALAN SATU

Ketika angin terlalu kencang menghembus kening, tidak begitu mempengaruhi kecepatan ingatan yang akan hilang pula. Kau, tetap disini. Di dalam keningku. Begitu pun hidupku, tetap disini, di dalam hidupmu.

Semenjak keterbatasan hari yang kauberikan, aku menjadi semena-mena pada sebuah penantian masa. Musim kemarau kupayungi, musim hujan kubiarkan membasahi tubuhku. Agar ingatanku tentangmu tak habis dibakar panas, dan tetap segar kumandikan.

Sehingga kau, tetap tumbuh, hingga membawaku, ke atas langit, sana.

Aku sedang berjalan dari trotoar satu ke trotoar lainnya, mengingat kau pernah mencium aspal dengan sendunya, kau tak pernah menginjaknya. Kau membelainya dengan telapak kakimu.

Kau mengajarkanku untuk, satu: mematikan puntung rokok menyala yang kaubuang di tanah terbawah. Lebih baik bibirmu yang terbakar, daripada tanah membakar semua yang tak bersalah (April 2012)


Aulia.

Minggu, 19 Agustus 2012

Keluarga.

Pada awalnya manusia adalah sama. Dalam konteks keluarga, pada akhirnya pun akan sama. Lahir, menangis, menyusu, belajar merangkak hingga berjalan, melompat, minum, makan, mengaji (jika dalam agama saya, agama Islam. Buat yang langsung naik alis keluar dari dahi, saya tegaskan saya tidak bicara agama, konteksnya sekarang adalah keluarga. Terima kasih), dlsb.

Proses yang hingga saat ini akan masih diterapkan oleh seorang ibu dan ayah, siapapun yang bisa disebut ibu dan ayah, ibu atau ayah. Kemudian, bagaimana bila bayi itu tidak menangis? Tidak menyusui? Tidak bisa menggunakan kedua kakinya? Minuman tidak sampai kerongkongan? Makan tidak nafsu? Hingga tidak tahu apa yang ia pegang ketika beranjak dewasa.

Kamu tahu bagaimana rasanya goyah tapi tidak ada yang menopang?

Saya pernah. Namun setelah itu saya koreksi. Banyak yang menopang saya, tapi saya tidak tahu, atau tidak mau tahu.

Keluarga adalah hal utama saya dalam hidup ini. Pertemanan yang hingga saya anggap sebagai keluarga. Dan kemudian pria terdekat saya setelah bapak pun merupakan keluarga baru saya. Semua adalah keluarga. Tapi berbeda porsinya.

Seperti harus membagi 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk berdoa/hiburan, 8 jam tidur. Dan saya rindu 8 jam untuk berdoa/beribadah, bukan lagi hiburan.

Berdoa/beribadah dalam ruang lingkup keluarga harus lah sangat membutuhkan ketulusan. Beribadah di luar rumah hanya perlu khusyuk, namun ketika berada di rumah.. semuanya berbeda. Entahlah, itu yang saya rasakan saat ini.

Saya sangat demi Tuhan menyayangi keluarga, baik yang satu darah maupun tidak. Lalu apa pencapaian yang telah saya dapat? Entah. Seharusnya saya sudah menjadi orang yang kuat. Berapa kali saya menikmati mendengarkan curhat teman-teman mengenai apapun, dan alhamdulillah semoga kami bisa mengatasinya. Saya dengan teori padanya, dan ia dengan prakteknya. Karena pada hakikat omong kosongnya, masalah satu di antara kita adalah masalah kita semua. Musuh di antara kita adalah musuh kita semua. Perkataan Cinta dalam film AADC pada akhirnya bullshit kan?

Saya harus mencari kebenaran, bukan pembenaran. Itulah pedoman dari pelajaran hidup yang saya jalani sekarang selama dua bulan terakhir.

Hhhh..

Saya harus menghela nafas dan menyeka apapun yang berjatuhan untuk menuliskan ini. Pembenarannya adalah orang tua saya menginginkan yang terbaik bagi saya, apapun itu terserah saya. Dan kebenarannya adalah, secepat mungkin saya harus berpikir berapa lagi tenaga dan materi yang harus mereka keluarkan untuk ke-terserah-an saya.

Selain berdoa/beribadah, 8 jam lagi saya harus bekerja.

Maka untuk menimbun ke-terserah-an tersebut, saya harus bekerja.

Saya masih kuliah. Sampai saat ini saya masih kuliah. Haram jadah lah dengan apa yang kalian katakan tentang saya, karena demi apapun yang tak terkendali, bumi pasti berputar, dunia sudah berputar, masih bersujud pada penilaian hanya dari satu sudut pandang?

Saya sangat ingin mengakhiri tulisan bangsat ini. Akhir-akhir ini saya sangat pelupa, tapi semoga saja saya tidak lupa akan pertanggung jawaban mengenai akhir dari tulisan ini. Ya, saya harus menemukan solusinya.

Apapun pandangan orang tua terhadap apapun yang tidak tersampaikan, saya harus menghormati. Apapun yang tak tersampaikan dan saya merasakan namun tidak dilaksanakan, itu sepenuhnya bukan urusan saya. Salah siapa yang tak menyampaikan.

Namun, apakah harus mencari kesalahan?

Untungnya saya ingat, yang harus dicari adalah solusi. Bukan kesalahan yang kemudian diperbesarkan. Hahahahahahaha! Demi apa ya, saya ketawa deh baca tulisan ini sebelum saya posting!

Terus, udah dapet solusinya? Belum sih, tapi sudah terbayang saya akan memimpikan apa. Karena demi apapun yang akan datang dan hilang, saya benci rencana.

Tapi saya percaya alasan.

Terus, udah dapet solusinya? Hei, untuk sementara waktu yang kamu bahkan tidak bisa bernafas dalam keadaan terhimpit seperti ini apalagi yang akan kamu inginkan selain merasa lega, hah? Kalau kamu dapat solusi tapi belum merasa lega, akankah kamu jalankan solusi tersebut dalam keadaan terhimpit menjelang mati?

Demi Allah, saya lega. Kamu tahu apa yang saya maksud dari membicarakan keluarga? Perasaan lega.

Ya, itu.

21.15 WIB

Selamat lebaran, selamat merayakan hari kemenangan!

NB:
Saya pernah melihat posting karya orang tentang pemberian selamat kepada teman-temannya dalam rangka hari kemenangan hari raya idul fitri, tapi beliau bicara tentang sebenarnya juga tidak jelas tentang apa yang dimenangkan dalam hari itu. Dan terdengar buruk menurut saya, entah sih, karena itu juga keambiguan penulisan.

Namun seharusnya beliau tahu; satu, bila maksudnya tidak menyepelekan, lebih baik ganti kalimat atau sangat lebih baik tidak perlu diutarakan. Dua, ibarat kata kamu tidak percaya setan itu ada namun kamu pemuja setan. Fool ya, berharap beliau mengoreksi untuk menjadi cool. Semuanya memiliki kesempatan berubah.



Best regards,

Aulia Vidyarini.

Rabu, 04 April 2012

Mengapa kejahatan bisa sampai mengalir ke tiap hembusan nafas manusia? Demi Tuhan, saya benci.

Kamis, 29 Maret 2012

Alam dan Tangan Kanan Hari


OH! Jejak sempit melawan keterbuaian pada yang lalu-lalu


Alam telah mendambakan kicauan burung-burung yang tak bisa terbang
sedangkan hari batuk-batuk hingga pusing sebelah meracau pada yang kacau

Alam bilang, mengapa kau berkeluh kesah pada yang basah,
sedangkan kau tak menangkis air, kau tak mencoba, kau tak pernah mencobanya

Alam marah pada yang hari-hari berangsur kelam
penuh umpatan, kecaman, teriakan, dan mereka lupa makan

Padahal,
alam telah memberikan hamparan beras kesukaannya

Maka,
hari tak kunjung makan

Hari bilang, aku telah hancur berkecepatan lebih dari pencapaian puncak maksimal,
aku telah habis dimakan waktu, aku tak bisa menangis,
hanya kau yang bisa menangis menghujani panasnya aku

Hari kelaparan belai kasih lagi mesra pada alam yang telah dirusak tangan kanannya sendiri
Tangan kanannya sendiri yang merusak alam sahabatnya

OH! Jejak sempit melawan keterbuaian pada yang lalu-lalu

Lalu apalagi yang harus kita percaya?

Asdghjshfdkjncudiyudyusahbdsbaxhvzbcmxzmcnxcmbvmcvcvxcnjjjjjjjjjjjjjjjng

Hari pergi ke toko daging,
meminjam bilah-bilah berkilau,
Hari memotong tangan kanannya,
tangan kanannya dipotong

Tangan kanan yang lainnya berdecak rupiah,
tangan kanan hari dijadikan masakan spesial

Lalu apalagi yang harus kita percaya? Sedangkan tangan kanan memakan tangan kanan yang lainnya

Alam tak lagi murka,
Alam
telah
mati
rasa


---
Aulia Vidyarini, 2012

Minggu, 31 Juli 2011

12:34 AM, Menunggu Sahur Perdana

Ehem, Halo Satu Agustus! Tanggal blog-nya ngaco, masih aja 31 Juli.

First posting nih buat dini hari menjelang sahur, dengan diiringi Going Gone dari The Vines. Maka dari itu, saya niat posting sekarang aja.
Jadi gini, kamu pernah merasa nggak sih memiliki kegandaan dalam diri kamu? Maksudnya bukan bunting, berbadan dua, gitu. Nggak gitu maksudnya.

Misalnya contoh kecil yang sangat 'hahaha' banget.
Saya nge-fans, eh jangan gitu ah bahasanya, saya menggem
ari atau menyukai dua musisi yang berbeda karakter. Dimana Matt Tong sebagai drummer band Bloc Party dan vokalis The Vines bernama Craig Nicholls.

Matt Tong | Drummer Bloc Party

Jika dilihat fisiknya saja, sudah tampak bedanya. Matt Tong yang ternyata sudah membuntingi wanita setelah memperistrinya, membuat saya menggalau ng
gak gulita. Soalnya udah keliatan impossible-nya juga kalau dia nggak punya istri, hahahaha

Craig Nicholls | Vokalis The Vines

Sedangkan Craig Nicholls yang saya terka sendiri masih lajang ini, memiliki karakter yang unik cenderung weird buat saya, karena doi nih mem
iliki syndrom apa gitu yah namanya lupa. Kamu search aja di wikipedia muncul noh, kalau saya ketik ulang mending nama blog saya diganti jadi lettersfromwikipedia aja kalau gitu.

Oke deh lanjut ya, pada intinya saya hanya ingin bertanya-tanya, entah pada kamu atau hanya sebatas monitor masing-masing, kalau.. ya gituh. Ngerti nggak sih?

Ngomong-ngomong sekarang jam 12:34 am, wajar lah ya kalau kepala saya harus agak dibentur buat memperjelas apa maksud dari tulisan ini -___-

Jumat, 01 Juli 2011

Lari dari Milimeter

Kulari bukan untuk bercita atlit
hanya ingin mendahului punggungmu
hingga walau kumenang
hanya ingin mencipta berpuluh-puluh kilometer
Aku bukan untuk mencipta kekalahan
hanya ingin memberi tahu
tak ada lagi satuan milimeter.

Minggu, 01 Mei 2011

Letter to You: "Sukses ya, Teman-teman!"

Kemarin teman saya tanya, "kenapa, U? Bengong terus.."

Dan saya tertawa terpaksa, "galau," lanjut saya asal.

"Galau terus," ujarnya sambil tertawa.

Sebenarnya saya tidak galau, saya hanya malu.
Malu bertemu teman-teman seperti kalian,
batin saya.


*

Sukses ya, Teman-teman!
(Saya ingin berkata lebih dari ini, tapi entahlah nanti saya lanjutkan di surat-surat berikutnya)
:)

Sabtu, 16 April 2011

'Hati-hati' Amarah, Membakar Kamar


Saat itu tanggal 24 Januari 2011, saat itu ya, bukan saat ini.
Dan juga bukan pada siang hari seperti cerah silaunya cahaya di atas, itu lampu kamar saya. Selanjutnya saya lupa, sedang mengerjakan apakah saya sehingga tiba-tiba timbul untuk mengabadikan kamar saya yang harus dibakar ini:

















Selama berantakan itu tidak dosa, saya akan terus mengabadikannya. Tapi nggak gitu juga sih, ralat, kalau saya merasa sudah sangat risih dengan ketidakteraturan benda-benda ini, maka saya akan merapikannya. Harusnya saya menampilkan foto yang telah dirapikan. Hanya saja, rapi itu tak tahan lama, mereka sudah kembali seperti semula.
Bagi saya, kamar saya sangat menarik. Bagi saya lho ya, nggak tahu untuk kalian. Untuk apa juga kan? Toh kalian tidak tidur bersama saya. Tapi tenang saja, kalau ada janji orang akan berkunjung, kira-kira satu hari sebelumnya saya akan bergegas merapikannya.
Eh, tapi kalau datangnya tiba-tiba? Tak perlu khawatir, saya akan cepat keluar kamar lalu menutup pintu dari luar dan berkata, "Ke kamar Tari--teman kost dan kuliah saya--aja yuk, disana ada TV."


Lalu, apa inti dari postingan ini? Mau pamer kamar berantakan?
Nggak kok, saya cuman mau pamer colongan curhat, sreaknag hduip syaa benraktaan.

Kamis, 20 Januari 2011

#galau

oke,
saya mau pulang.
aya mau pulan
ya mau pula
a mau pul
mau pu
mau p
mau
ma
u
u
u
u
uh, o-ke
saya belum bisa pulang.

Letter to You: "Pak Pos."

Percaya tidak, mimpi adalah bagian dari pengiriman pos kota yang kau ingin musnahkan atau harapkan?

Ya, tidur siang yang melelahkan. Entah datang dari Ancol, Kebun Raya, atau Kawah Putih; aku yakin satu, hanya satu.

Mimpiku tak tahu sopan santun, aku sudah mulai biasa mengarungi kenyataan, mengapa bisa dibawa arus air padang pasir, seperti kehausan di siang bolong, aku tahu ini bukan mimpi buruk tentang hantu sundel bolong, melainkan mimpi usang.

Aku tak keberatan jika kedatangan lagi, karena aku akan teriak-teriak di telinga Pak Pos, "entahlah kenapa kau kirimkan yang sudah-sudah?"

Aku belum tahu Pak Pos membalas apa, tapi aku akan menyela, "sudah, sudah.. Aku letih."

Rabu, 25 Agustus 2010

Evening Memories Exhibition, BDG, August 21st, 2010


"Evening Memories"
sebuah ruang yang merekam, mendeskontruksi, merakit, menciptakan sebuah konsep berkaitan dengan pengalaman estetis yang pernah dialami ketika senja mencari pembaringannya.

Seniman:
Aditya Tirtakusuma
Adrisfi Ryandari
Anis Anissa Maryam
Aulia Vidyarini
Ayu Fajar Wijaya
Cantika Clarinta
Chiquita Clarissa
Femi Runia
Ical Disemutin
Idham Rahmanarto
Ila Schaffer
Inne Rachmawati
Ivan Jasadipura
Joe Hans
Kintari Reprianti
Lintang Ramdhani
Nona Kumis
Nadine Maulida
Philo Disemutin
Ringgit Juliana Siahaan
Renaldy Fernando Kusuma
Syennie Valeria
Tampan Destawan Subagyo
Tara Astari Kasenda
Toro Elmar
Widi Benang

Penulis:
Rebecca Kezia
Rega Ayundya Putri

Pembukaan:
21 Agustus 2010
Performance by: Etza Meisyara

FUR MAGAZINE PRESENT

----------------------------------------------------------------------------

Ini karya-karya harom jadul saya, hahahahahaha
judulnya "Paras Pasar Sarap: QWERTYUIOPASDFGHJKLZXCVBHUJANM"
sudah lama saya ingin membuat karya berdasarkan tulisan-tulisan saya, walau mungkin agak 'mengulang sesuatu'. Entahlah.










Ini cerita yang saya buat untuk karya dalam Evening Memories:

1. Dia bernama Dasun, mungkin karenanya orang sunda; seperti ia sangat mencintai matahari pada namanya. Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar.

2. Dasun, seorang pemikir yang sayangnya pemabuk, pikiran liarnya datang dan pergi sesaat berkecamuk di benaknya; menjadikannya selalu terlintas untuk membuat agar dirinya aman. Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar.

3. Walau tak pernah berkelahi, Dasun tak habis menentang segala etika, dan sebenarnya mungkin dia bukan pemberontak, tapi penghibur. Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun.

4. Tak pernah berhenti bicara, itu adalah baranya ketika Dasun sudah memiliki topik, dan aku tak keberatan sama sekali untuk jadi pendengar. Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah.

5. Aku tak pernah melihat Dasun tertidur, tapi ia tidur dikala siang yang panas dan beraksi di bawah bulan. Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat.

6. Dasun sebenarnya tak pernah berdusta, tapi lebih baik jauhkan aku ketimbang kamu tak jelas disisiku. Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri.

7. Karena Dasun menyukai mantan. Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan.

8. Tapi Dasun membuatku ingin mengertinya, dan ia ingin aku mengerti tentang traumanya; aku beri waktu pada duniaku untukmu. Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku.

9. Waktu berbicara lain dan tangisku pecah seketika Dasun meninggalkan sudut-sudut udara ini yang pernah dilintasi bersama dengan otomatis. Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan.

10. Namun aku haru, ketika Dasun peringatkan ia sudah pergi sejak lama dari hidupku lewat alam, karena.. Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku.

11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, dan 20. Sekarang bagianku, Dasun! Aku Faras dan pasar subuh yang kudatangi setiap malam sudah tidak berpengunjung adalah tempat dimanaku merokok di tengah hujan! Mereka yang melihatku bergumul bicara aku sarap, sedangkan mereka tahu siapa aku saja tidak; Dasun saja tak pernah bilang aku sarap, padahal aku sudah gila dibuatnya!

-------------------------------------------------------------------------

Ini Evening Memories Exhibition di Galeri Padi Bandung.
Sayangnya saya tidak bisa datang kesana dikarenakan ada sebuah dan dua buah urusan, KRS dan saya si pemegang uang dalam sebuah event kampus, HAH
Tapi amazing banget, tanggal pembukaannya 21 Agustus 2010, bertepatan dengan hari saya bertambah tua, berkepala dua, hahahahaha
Padahal kan saya sudah ribet-ribet ngehubungin temen minta tebeng kost dan jalan-jalan, what the prek.





terimakasih ya untuk rekan-rekan saya yang memotretnya, saya colong fotonya :)

***

akhir kata:
ZZZZYAAAAAAIIIIKKKKKKKKKKKKMEEEENNNN

Senin, 08 Februari 2010

Letter to You: (untuk semua tokoh yang menginspirasi)

Menjemukan sesaat, ketika harus dijauhkan dari sesuatu yang sudah terlanjur dekat.
Namun ini mesti terjadi, karena ini seperti hentakan peringatan untukku bahwa jangan terlalu lebih karena umurku takkan lebih dari 20.

Ini tidak menarik
tidak menarik untuk dibahas
ketika aku tidak jadi tinggal
angka 20, lalu 30, 40, malah
melebihi 100.
Dan apa aku harus bersanding?
Aku tak ingin mengecewakan
selama seribu bahkan lebih lamanya


Yogyakarta, No.13
2009-2010
AV

Minggu, 17 Januari 2010

Minggu, 20 Desember 2009

L AR I LAR I LA RI L A RI L A R I

SAYA
INGIN
PULANG
SAYA
MOHON
SAYA
SEDANG
MUAK
DENGAN
JOGJA

SAYA
SANGAT
MUAK
JOGJA
MOHON
SANGAT
MUAK
MUAK
PULANG
SAYA
INGIN
JOGJA
PERGI
SAYA
INGIN
PULANG
DEMI!

Kamis, 17 Desember 2009

Bukan karena C.A

Bukan lah, Jing
bukan karena bacaan Chairil Anwar muda tentang

Mengenai tangis yang hampir habis
dan aku mulai terkikis
selalu habis bisa nikmat
tidak boleh, tahu?
Aku beribadah
saja ah
tak usah kuliah
bedebah!

---
yk16122009av

Jumat, 17 Juli 2009

Tetangga Ilalang Merindu Aspal Otomatis



Tertanda kerikil menjadi kilauan asap knalpot penuh otomatis.
Selayang dianggap biasa lalu biasa layang-layang terbang tanpa arah, sebentar tegak, sesaat menikung, mungkin kamu anggap itu hanya es teh dalam balon, tak bisa terbang nyata tanpa gas, tapi segar, dan kamu tahu arti kesegaran itu apa
dalam hidupku.
Seperti kamu potongkan sebutan geli lainnya, entah apa istilahnya jika aku hanya ingin kembali doktrinisasi gurau bahasa kalbumu.
Suatu detik kamu baca andaikan, retak tulang belakang terdengar senyum dan berbisik diasah pisau daging atau roti.
Angin malam menjadi rangkaian nada sepulang not-not terselesaikan tugasnya.
Melukis aspal lalu mengisi lambung menunduk dan bertanduk.
Di halte hanya mengiringi nada es batu dentingan sedotan dan lenguhkan kesegaran tanpa barbel seberat auman hardcore.
Ucap terserah apa kamu mengartikan, aku hanya menggesekkan telpon genggam di dada lalu tidak tahu itu apa, dan lanjutan kuberikan remote control tersebut untukmu, stop atau continue, maupun game over sebuah kompetisi belaka tanpa landasan hati jembatan yang ternyata untuk sunggingan tulus curahan hati disebut tetangga ilalang bukan taman bunga matahari.
"Kostum yang sama mungkin.."

---
Bogor, sebelum tanggal 16 Juli 2009.
AV'09

Rabu, 18 Februari 2009

Coretan #14: "I hate my low spirit. Ohh.."

Jika ini adalah hari tamatku..
Maaf, aku belum mengerjakan Sosiologi.
Aku lemah.
Otakku lemah.
I hate my low spirit.

Jika ini adalah hari tamatku..
Maaf, aku belum bayar hutang.

Masih hidup ternyata dan....................

Dan ohh...
semangatku hilang lagi dari sosok yang aku lihat ia melihatku..
Berpapasan dengannya di gerbang sekolah bersama wanita yang ku kenal tapi tidak dekat dan aku mendengar sang pria sedang..
PDKT!

I'm not broken heart but I'm so.. SPEECHLESS..