Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku

Rabu, 25 Agustus 2010

Evening Memories Exhibition, BDG, August 21st, 2010


"Evening Memories"
sebuah ruang yang merekam, mendeskontruksi, merakit, menciptakan sebuah konsep berkaitan dengan pengalaman estetis yang pernah dialami ketika senja mencari pembaringannya.

Seniman:
Aditya Tirtakusuma
Adrisfi Ryandari
Anis Anissa Maryam
Aulia Vidyarini
Ayu Fajar Wijaya
Cantika Clarinta
Chiquita Clarissa
Femi Runia
Ical Disemutin
Idham Rahmanarto
Ila Schaffer
Inne Rachmawati
Ivan Jasadipura
Joe Hans
Kintari Reprianti
Lintang Ramdhani
Nona Kumis
Nadine Maulida
Philo Disemutin
Ringgit Juliana Siahaan
Renaldy Fernando Kusuma
Syennie Valeria
Tampan Destawan Subagyo
Tara Astari Kasenda
Toro Elmar
Widi Benang

Penulis:
Rebecca Kezia
Rega Ayundya Putri

Pembukaan:
21 Agustus 2010
Performance by: Etza Meisyara

FUR MAGAZINE PRESENT

----------------------------------------------------------------------------

Ini karya-karya harom jadul saya, hahahahahaha
judulnya "Paras Pasar Sarap: QWERTYUIOPASDFGHJKLZXCVBHUJANM"
sudah lama saya ingin membuat karya berdasarkan tulisan-tulisan saya, walau mungkin agak 'mengulang sesuatu'. Entahlah.










Ini cerita yang saya buat untuk karya dalam Evening Memories:

1. Dia bernama Dasun, mungkin karenanya orang sunda; seperti ia sangat mencintai matahari pada namanya. Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar.

2. Dasun, seorang pemikir yang sayangnya pemabuk, pikiran liarnya datang dan pergi sesaat berkecamuk di benaknya; menjadikannya selalu terlintas untuk membuat agar dirinya aman. Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar.

3. Walau tak pernah berkelahi, Dasun tak habis menentang segala etika, dan sebenarnya mungkin dia bukan pemberontak, tapi penghibur. Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun.

4. Tak pernah berhenti bicara, itu adalah baranya ketika Dasun sudah memiliki topik, dan aku tak keberatan sama sekali untuk jadi pendengar. Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah.

5. Aku tak pernah melihat Dasun tertidur, tapi ia tidur dikala siang yang panas dan beraksi di bawah bulan. Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat.

6. Dasun sebenarnya tak pernah berdusta, tapi lebih baik jauhkan aku ketimbang kamu tak jelas disisiku. Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri.

7. Karena Dasun menyukai mantan. Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan.

8. Tapi Dasun membuatku ingin mengertinya, dan ia ingin aku mengerti tentang traumanya; aku beri waktu pada duniaku untukmu. Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku.

9. Waktu berbicara lain dan tangisku pecah seketika Dasun meninggalkan sudut-sudut udara ini yang pernah dilintasi bersama dengan otomatis. Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan.

10. Namun aku haru, ketika Dasun peringatkan ia sudah pergi sejak lama dari hidupku lewat alam, karena.. Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku.

11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, dan 20. Sekarang bagianku, Dasun! Aku Faras dan pasar subuh yang kudatangi setiap malam sudah tidak berpengunjung adalah tempat dimanaku merokok di tengah hujan! Mereka yang melihatku bergumul bicara aku sarap, sedangkan mereka tahu siapa aku saja tidak; Dasun saja tak pernah bilang aku sarap, padahal aku sudah gila dibuatnya!

-------------------------------------------------------------------------

Ini Evening Memories Exhibition di Galeri Padi Bandung.
Sayangnya saya tidak bisa datang kesana dikarenakan ada sebuah dan dua buah urusan, KRS dan saya si pemegang uang dalam sebuah event kampus, HAH
Tapi amazing banget, tanggal pembukaannya 21 Agustus 2010, bertepatan dengan hari saya bertambah tua, berkepala dua, hahahahaha
Padahal kan saya sudah ribet-ribet ngehubungin temen minta tebeng kost dan jalan-jalan, what the prek.





terimakasih ya untuk rekan-rekan saya yang memotretnya, saya colong fotonya :)

***

akhir kata:
ZZZZYAAAAAAIIIIKKKKKKKKKKKKMEEEENNNN

4 komentar:

rachelo mengatakan...

fotonya bagus-bagus banget.. pengen deh bisa foto kaya gitu.. hihi
btw, dateng ke acara pesta blogger juga ga? salam kenal yahh :)

auliaohvdyrn mengatakan...

saya cuma karya-karyanya aja, kalau yang motoin (foto hitam putih) itu teman-teman saya yang ada di pamerannya, soalnya saya sedang berhalangan hadir saat itu, huhu

wah, sayangnya ngga dateng.. saya tau infonya juga telat, hehe info-infoin dong nanti kapan-kapan :)

yak, salam kenal juga, rachelo :)

makasih yaa uda mampir, lain kali main-main lagi :)

Widy mengatakan...

keren namanya! Paras Pasar Sarap :D

aulia vidyarini mengatakan...

hehehehe, makasih yaa! :D