Aku menginginkan hujan sebagaimana kamu bersorak untuk matahari tetap bersinar Aku berdoa disaat hujan sebagaimana kamu mabuk hingga basah kuyup di trotoar Aku bergelinjang geli di bawah hujan sebagaimana kamu tertawa di atas api unggun Aku menampung air hujan sebagaimana kamu membanjur rumah dengan minyak tanah Aku terpejam kehujanan sebagaimana kamu tidur berkeringat Aku menelan air hujan sebagaimana kamu menelan ludahmu sendiri Aku menyukai hujan sebagaimana kamu bertahan membenci hujan Aku menatap hujan sebagaimana kamu mengerti diriku Aku berbinar atas hujan sebagaimana kamu mematikan rokokmu di atas bumi yang kehujanan Aku terkejut melihat petir diantara hujan sebagaimana kamu muncul di hidupku

Kamis, 17 Juni 2010

Naluri Binatang!

Suatu ketika disaat tidak ketemunya ide untuk tugas, saya menemukan semut lagi bertarung. Asyik muter-muter gituh, jumpalitan teu puguh, petakilan ga jelas, pokoknya seru banget tapi

lama-lama ngebosenin juga.

Akhirnya karena saya sudah lulus SD dan bagus nilainya dalam bidang studi PPKn, maka saya melerai mereka. Kalau pake jari saya yang ada semutnya langsung koit, kan dosa namanya.
Nah ada pulpen standar bentengger di depan, saya buka tutupnya, jadi saya punya dua tongkat runcing. Saya berusaha dengan sekuat tenaga dengan hati-hati untuk melerai mereka yang makin asyik aja.
Berhasil! Lucunya, mereka yang sudah dipisahkan agak jauh langsung puter arah nyatu lagih! Kontan saya langsung ketawa, gini nih ketawanya: uwuahahahahahah hahahahah yahahahahayyyyy.

Penasaran saya terjawab, ternyata semut punya naluri smack down juga selain budaya silaturahminya yang kental. Sudah lama mereka bertarung lagi, puter-puter balik gitu,

saya jenuh lagi.

Akhirnya saya lerai lagi, tapi agak susah malah susah banget untuk yang kali ini, saya greget sendiri kan, tapi alhamdulillah lepas juga mereka berdua, tapinya lagi..

pandangan mata saya langsung kosong, nanar, sumpah saya merasa bersalah dan serba salah.

Kayaknya mereka terluka-luka gitu, gatau terluka karena mereka bertarung apa karena tindak-tanduk peleraian saya terhadap mereka tadi. Mereka jadi lemah banget gitu, badannya kedut-kedut ga jelas.
Untuk perasaan bersalah saya, kedua semut yang sudah agak tidak aktif itu saya satukan kembali, bukannya saya tercela nyuruh mereka berantem lagi, tapi siapa tau kan ternyata mereka lagi kawin tuh, malam pertama di Yogyakarta gitu.
Tapi saya tetap merasa bersalah lho, karena saya jadi orang ketiga diantara mereka berdua. Kan ga enak juga jadinya.. Endingnya jadi sedih banget kan?



Tuhkan..
Oleh karena itu saya satukan kembali mereka berdua, dalam posisi berpelukan. Entah mereka musuh, suami istri, gay, lesbian, kulit hitam, aau kulit putih (kayaknya hitam, soalnya semutnya warnanya hitam, mungkin hitam agak muda dikit);
karena PPKn saya tinggi nilainya, maka sekecil apapun kamu, junjunglah sila ke 5: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia!



Setelah saya tinggal sebentar nulis-nulis di handphone, saya lihat kedua semut itu sudah tidak ada! Hebring gila kan!
Kayaknya mereka sudah dijemput ke surganya, berpulang pada Tuhan mereka..
Saya juga jadi pengen pulang..
ke Bogor.


"Hayu yuk pulang bareng! Rumahku disitu tuh! Iiiiitttuuuuhhhh eeekkkeeettt aaannnggeeetttt!"
-_____________-


---

foto ke-1 dan ke-2 dipinjem (gataunya balikinnya kapan) dari google kemudian masuk kedua website yang berbeda. jadi jangan ngambek yo, saya udah nyantumin nih ijinnya, ga muat pake daftar pustaka, kertasnya habis e!

2 komentar:

mecharocka mengatakan...

gw jd inget pertanyaan gini nih

klo ada teman yang berkelahi maka kita harus:

a.melerai
b.menyorakinya
c.membantu teman yang salah

auliaohvdyrn mengatakan...

hahahhhahaha yoi fi, pilihan jawaban yang kontras banget tapi pertanyaan yang bikin dosa juga, hahahaha